Setidaknya ada 2 (dua) karya sastra yang menautkan nama Italia, karya yang saya kagumi hingga saat ini. Pertama, novel percintaan Dante dan Beatrice karya penulis Italia, Dante Alighieri, berjudul Divina Commedia.

Kedua, novel yang ditulis oleh seorang Amerika bernama Mario Puzo yang mengisahkan cara kerja mafia asal Italia menguasai New York, Amerika Serikat dalam novel God Father.

Yang satu bicara cinta tak terbatas, yang satunya lagi bercerita tentang mafia dan tindakan kejahatan. Namun, keduanya bicara tentang kesetiaan.

39 tahun silam, 1980 tepatnya, sepak bola Italia diguncang oleh skandal pengaturan skor dan penyuapan. Beberapa pemain terkenal dan klub-klub besar terbukti menjual hasil pertandingan demi uang. Skandal itu bernama Totonero.

Dua klub elite Italia di musim itu, AC Milan dan Lazio, diputus pengadilan untuk rela didegradasi dari Seri A ke Seri B Liga Italia, tak terkecuali untuk striker andalan klub Perugia dan Timnas Italia, Paolo Rossi, yang mendapat hukuman larangan bermain 1,5 tahun karena terlibat Totonero.

Selanjutnya, sebelum masa hukuman selesai, Paolo Rossi bergabung dengan Juventus. Ia sempat bermain di beberapa pertandingan akhir musim 1981-1982.

Karena tampil bagus untuk Juventus di pertandingan penutup liga Italia, pelatih Italia, Vitorio Pozzo, memasukkan nama Paolo Rossi ke Timnas Italia untuk diikutkan di Piala Dunia Spanyol 1982. 

Singkat cerita, Italia tampil bagus dan berhasil menjadi juara Piala Dunia 1982. Penyerang Paolo Rossi pun terpilih menjadi Top Score dengan raihan 6 gol.

24 tahun kemudian, menjelang musim 2005- 2006, skandal pengaturan skor dan penyuapan kembali mengguncang sepak bola Italia. Skandal itu bernama Calcipoli atau kerap disebut Moggiopoli karena melibatkan nama juru transfer yang merangkap direktur umum Juventus, Luciano Moggi.

Klub elite Italia itu akhirnya merasakan pahitnya hukuman akibat skandal Calciopoli tersebut. Mereka harus menerima kenyataaan didegradasi dari Seri A ke Seri B liga Italia. 

Tak hanya itu, 2 gelar liga yang diperoleh Juventus dicabut oleh Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) dan mengharuskan mereka menerima kenyataan bermain tanpa suporter pada musim 2006-2007 di Seri B.

Tak hanya Juventus, klub elite Italia lainnya seperti AC Milan, Lazio, dan Fiorentina mendapat hukuman serupa. Bedanya, ketiga klub tersebut mendapat hukuman yang jauh lebih ringan dari Juventus, seperti pengurangan poin atau dilarang tampil di Eropa.

Situasi waktu itu sangat panas, apalagi peristiwa itu terjadi hanya kurang dari 40 hari sebelum dilangsungkannya Piala Dunia 2006 di Jerman. Pelatih Italia, Marcelo Lippi, mendapat tekanan karena kegelisahan individu pemain di internal klub masing masing. 

Sebabnya, di Timnas Italia, beberapa pemain utama berasal dari klub yang terlibat dalam Calciopoli, seperti Buffon, Del Piero, Camoranesi, Cannavaro, dan Zambrotta (Juventus) hingga Gilardino, Inzaghi, Nesta, dan Pirlo (AC Milan).

Jelang pertandingan pembuka, Marcelo Lippi menginstruksikan bahwa para pemain menutup rapat-rapat mulutnya jika berhadapan ke media selama turnamen berlangsung. Para pemain Italia juga harus mengutamakan kecintaan pada negeri mereka di atas persoalan individu di klub masing-masing. 

Singkat cerita, Italia mampu menutup turnamen dengan raihan Juara Piala Dunia 2006 di Jerman.

***

Saya tidak tahu apa yang diucapkan pelatih Timnas Indonesia, Indra Sjafri, kepada para pemain selama turnamen Piala AFF U 22 tahun 2019 di Kamboja.

Tentu saja, tak mudah pula bagi seorang Indra Sjafri meyakinkan para pemain untuk fokus bemain di tengah skandal pengaturan skor dan penyuapan di dalam negeri. Apalagi, beberapa waktu yang lalu, Plt. Ketum PSSI, Joko Driono (Jokdri), ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian karena terlibat dalam penyuapan atau pengaturan skor.

Saya yakin, pelatih Indra Sjafri memotivasi para pemain dengan cara mengeksplorasi cinta dan kesetiaan pada Indonesia. Jauh melampaui hiruk piruk narasi pemberitaan pengaturan skor dan tindakan kejahatan yang melibatkan elite PSSI.

Masyarakat Indonesia, harus diakui, rindu melihat Timnas mengangkat Piala dan berprestasi di tingkat internasional maupun regional.

Novelis Indonesia, Eka Kurniawan, bilang, "Seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas." Dan dendam kita terhadap para mafia bola di Indonesia telah dibayar tuntas dengan raihan gelar Piala AFF UU22 di Kamboja 2019. 

Memang ini belum setara dengan raihan Italia di Piala Dunia 1982 dan 2006. Tetapi gelar ini jauh melampaui harapan sebelumnya, karena kemakluman kita pada PSSI.

Terima kasih, Timnas Indonesia.