Kelas kedua SMP tahun delapan puluhan pasti jauh berbeda dengan kelas XI millennial. Sekedar bertemu teman, si anak harus keluar rumah menuju rumah temannya atau sebaliknya, meskipun peluang ketemu fifty-fifty. Tapi, bagi anak Gen Y tanpa keluar rumah pun peluang bertemu jauh lebih besar meskipun maya. Di kamar tidurnya yang sempit mereka bisa berinteraksi dengan puluhan, ratusan, bahkan ribuan netizen dalam ceruk dan waktu yang sama.

Semudah itu teknologi memperdayai masyarakat. Saya yang sebenarnya sedang berupaya keras menjauhi sifat gumunan iklan-iklan komersil, berkali-kali gagal dan tergoda. Anda tentu kenal facebook, twitter, google, dll. Pekerjaan tugas, bisnis, urusan kantor masih sering mereferensi dari platform-platform tersebut.

Suatu pagi, istri saya diajak oleh ibu-ibu komplek mendengarkan ceramah seorang pakar anti kekerasan anak. Sesampai di rumah, istri cerita banyak kasus perisakan, pelecehan, perundungan terhadap anak yang termakan rayuan lewat jejaring sosial. Sambil ngelus dada, setragis itu dampak media sosial terhadap anak-anak kita.

Aib manusia yang semestinya konsumsi pribadi justru dibuka di ranah publik dengan tujuan mendapat cemoohan netijen secara kolektif. Aksi-aksi anarkis berujung perpecahan warga juga bermuara dari lemahnya benteng pertahanan diri dari hasutan-hasutan di media sosial. Betul-betul memprihatinkan kondisi kita saat ini.

Facebook, twitter, google, di satu sisi mereguk keuntungan besar dari iklan di sisi lain membiarkan kapitalisme berkembang melampaui kepentingan publik. Masyarakat mengharapkan perusahaan-perusahaan minyak turut bertanggung jawab atas polusi lingkungan hidup jika mereka menumpahkan minyak di lautan. Media sosial harus membantu menyelesaikan permasalahan polusi sosial yang didistribusi oleh platform.

Sebagaimana kita ketahui perusahaan rintisan seperti, Silicon Valley, Google, Facebook, dan Twitter tumbuh besar di lingkungan pasar bebas bahkan cenderung libertarian. Kondisi ini menguntungkan sektor swasta dalam mendapatkan akses interaksi satu dengan lain di seluruh dunia. Ironisnya, cara-cara tersebut dianggap lebih menguntungkan pemegang saham ketimbang kepentingan masyarakat yang lebih luas.

Ketika Anda melakukan umpan berita di Facebook hingga pencarian google, Anda tidak akan mendapat informasi lengkap bahkan “kabur” sama sekali. Algoritme akan bekerja seperti itu karena menyangkut bisnis utama mereka. Algoritma bekerja tanpa perlu meningkatkan produk layanan untuk sekedar mendapatkan peringkat atas karena jika ingin memunculkan pada menu pencarian teratas maka ada kompensasi tambahan biaya karena dianggap iklan baru.

Facebook tidak perlu membayar produsen konten puluhan miliar dolar untuk menyeleksi umpan berita pengguna konten secara luas. Perusahaan-perusahaan tersebut dapat disaksikan berjam-jam oleh penggunanya. Perkembangan bisnis tanpa didukung transparansi dan akuntabilitas bagi masyarakat.

Kondisi-kondisi di atas lambat laun menurunkan kepercayaan masyarakat, para pakar menyebut eksternalitas negatif pada platform-platform tersebut. Masyarakat harus menanggung dampak sosial yang ditimbulkan oleh perusahaan yang memproduksi sebuah produk. Isu polusi pabrik industri, ketika perusahaan-perusahaan manufaktur tidak membayar kompensasi biaya kesehatan atas pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh polusi pabrik mereka.

Sistem algoritma yang dipakai memungkinkan terjadinya masalah sosial seperti, hoax, pecah belah yang dihasilkan peristiwa-peristiwa politik yang anti sosial. Hal ini berpeluang mengancam pilar demokrasi sekaligus mengikis kepercayaan publik. Dosa media sosial semakin membesar jika platform-platform tersebut tidak segera melakukan pembenahan.            

Dibutuhkan keterbukaan untuk mengurangi ujaran kebencian dan berita bohong dari penyedia informasi. Perusahaan-perusahaan media sosial perlu meningkatkan kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat luas terutama yang akan menggerus integritas platform. Mungkin tidak sesimpel ini, tapi sangat mendesak untuk segera dilakukan pembenahan. Meskipun facebook dan twitter telah memulai langkah awal tapi masih dibutuhkan transformasi yang konkrit dari kedua platform.

Jangka pendek, perusahaan media sosial perlu membuat algoritme baru berbasis data analisis agar lebih transparan bagi publik. Salah satunya melalui pengembangan situs web-situs web yang tersentralisasi agar masyarakat dapat mengecek sumber data dan sumber pendanaan konten-konten yang akan di-publish.

Penyesuaian sistem algoritma untuk mengurangi unggahan konten berita bohong bermuara pada umpan berita pengguna. Penyesuaian tersebut belum menyelesaikan kontradiksi ke jantung media sosial, hal sangat tampak pada model bisnis berbasis kekaburan bertolak belakang dengan sentralistik platform sebagai wacana publik dalam alam demokrasi.

Jangka panjang, perusahaan-perusahaan internet perlu merumuskan strategi yang lebih komprehensif. Pengembangan model-model bisnis yang mengutamakan transparansi, aksesibilitas, dan akuntabilitas. Meskipun sulit diwujudkan dalam waktu singkat, baik jika pendekatan verifikasi dan sertifikasi dapat diterapkan oleh setiap perusahaan media sosial.

Facebook, twitter, google dan lain-lain harus bersaing menyediakan berita-berita akurat, dan tidak sekedar layak klik. Sumber-sumber terpercaya tidak asal sensasional. Ketika perusahaan-perusahaan tersebut dapat memelihara ranah publik secara sehat serta dapat memberikan bantuan dampak polusi sosial, setahap demi setahap kepercayaan masyarakat kembali bertumbuh.

 Wahyu Agung Prihartanto, Penulis dari Sidoarjo