Mas Puthut mungkin agak mendramatisasi saat bilang, “Hanya daun kering yang jatuh ke tanah, yang bisa menerka isyarat apa yang akan terjadi.”

Namun, yang saya intip dari jendela laptop ini, atau layar hp yang sudah agak tergores-gores, suasananya memang sedramatis itu. Entah kalau saya mampu terbang langsung ke Indonesia, menyaksikan yang sesungguhnya terjadi ketimbang hanya baca berita, apa mungkin kondisinya seperti yang disinggung Wiranto, “Tidak separah yang diberitakan.”

Masalahnya, saya yang orang luar ini, dan teman-teman lain yang sedang berada di luar negeri, membaca kabar rumah bergantung dari berita, atau grup-grup WhatsApp—yang sesekali mengirimkan meme jenaka. Dan apa yang saya baca di berita, tidak seramah yang dikabarkan Wiranto. 

Frasa “tidak separah itu” justru saya temukan di gambar Jokowi dan Jan Ethes yang lagi jalan-jalan di pelataran Istana, melihat kuda, kambing, dan rusa merumput.

Sementara foto lain yang saya dapat dari berita adalah: orang-orang utan kesusahan menemukan tempat gelayutan. Hingga saya bergumam, mungkin orang-orang utan itu baiknya tinggal di istana. Setidaknya mereka bisa merumput di sana, dan diberi makan oleh cucu presiden.

Yang “tidak separah itu” lainnya adalah foto sepatu kotor Jokowi, Wiranto, Pramono Anung, dan Pak Basuki. Ini jika saya bandingkan dengan foto rontgen bocah 9 tahun yang diduga mati akibat terpapar asap, dan korban-korban lainnya. 

Setidaknya sepatu kotor bisa dicuci, dan kalau dikeringkan dengan baik bau sangitnya bakal hilang. Sedangkan paru-paru kotor entah harus dicuci di mana, mengeringkannya mungkin harus dikremasi.

Kebakaran hutan-lahan di Kalimantan dan Sumatra mungkin membuat mahasiswa yang mau demo di sana tak kepikiran untuk membakar ban lagi. Mereka mungkin benci dengan api dan asap, sama bencinya dengan kemarau panjang. Namun tidak di Jawa. Bakar-bakaran masih jadi aksi populer, begitu yang saya baca di berita. 

Mungkin karena sejak dulu manusia senang berkerumun melingkari nyala api. Dan foto yang dihasilkan dengan latar asap dan api, dengan tone warna sepia, bisa jadi demikian dramatis. Ditambah dengan kerumunan orang, berbagai ekspresi wajah, dan suara-suara yang seakan menggaung keluar bingkai, foto-foto itu jadi kian hidup lagi.

Di hari-hari yang panas ini, saya perhatikan golongan muda serempak melawan. Lagi-lagi dari berita. 

Kapan terakhir kali mahasiswa demo besar-besaran begini? Seingat saya, terakhir mereka turun ke jalan adalah awal era reformasi. Dan diam-diam saya jadi bertanya-tanya juga, ada isyarat apa? Mungkin ini harus saya tanyakan pada daun kering yang jatuh, atau rumput yang bergoyang.

Masa awal reformasi itu, saya masih bayi. Hari ini, saya sudah cukup pemuda. Sambil membaca berita tentang arus pergerakan mereka, seiring juga saya mengutuk diri sendiri yang tak kunjung pulang. Darah muda saya masih demikian cair, masih demikian lancar mengalir. Dibanding mereka yang darahnya sudah menggumpal dan mengering itu, saya berada di mana?

Saat saya berpikir seluruh gejolak, emosi, dan arus perlawanan pemuda mendobrak gerbang yang sama, ternyata masih ada saja segelintir yang melawan arus. 

Pada musim yang abu-abu ini. Di tengah asap yang mengepul dari belantara hutan Sumatra dan Kalimantan, juga situasi politik yang tiap gesekannya menimbulkan percik api, aksi yang dilakukan Pengurus Besar (PB) PMII menanggapi penetapan tersangka Imam Nahrowi terlihat seperti dagelan.

PB PMII terkesan lebih mirip buzzer politik ketimbang kaum intelek, akademisi, atau aktivis. Sontak berbagai anekdot bertebaran di media sosial. Salah satu yang menggelitik adalah plesetan lirik lagu Señorita yang terkenal itu jadi: “I love it when you call me senioritas.

Maksudnya sudah barang tentu menyinggung Imam Nahrowi yang merupakan kader senior PMII. Jadi di mata banyak orang, aksi demo PMII kapan hari itu, bakar ban, dan melempar telur busuk di kantor KPK, semata-mata aksi pembelaan junior atas seniornya. Sebuah sikap yang kekanak-kanakan.

Padahal kalau mau lebih elegan, PMII bisa berdiri di pihak yang pro RUU KPK tanpa mencatut istilah Taliban. Materi yang diungkit bisa seputar kekuasaan lembaga KPK, dengan kewenangannya yang demikian besar, itu bisa disalahgunakan oleh pihak yang berkepentingan. Atau apalah, selain sekadar membela senior satu organisasi secara serampangan.

Marwah PMII terselamatkan justru berkat nyali kadernya di tingkat cabang. Sikap membangkang dikobarkan Pengurus Cabang (PC) PMII Kabupaten Jember, Sleman, Surakarta, sampai Depok. Dan saya harapkan bakal disusul oleh pembangkangan lain di berbagai cabang, dengan surat-surat imbauan yang menyebar di media sosial.

Secuplik dialog yang mengharukan saya baca di belantara media sosial, di antara kader PMII yang masih memiliki kewarasan untuk melawan. "Kalian jangan hilang orientasi. Jangan keluar dari Nilai Dasar Pergerakan. Lawanlah kedzaliman."

Cara-cara yang kerap dilakukan oleh pemuda untuk menggapai sesuatu, mungkin seringkali terlalu memburu, terburu-buru, dan bergegas. Namun, selama itu bukan didasarkan atas kompromi terhadap kekuasaan, saya rasa nyali yang seperti ini harus terus dilestarikan. 

Sebelum masa tua datang, sebelum banyak kepentingan menghampiri, sebelum kita lebih banyak berkompromi, dan sebelum kita mulai meragukan kembali apa yang kita yakini nanti. Itulah arti menjadi pemuda. Tidak bisa disetir oleh para elit dan cukong-cukong.