Iklim seringkali diartikan sebagai keadaan rata-rata cuaca pada suatu tempat berdasarkan jangka waktu yang lama. Perkiraan iklim bisa ditentukan dengan volume curah hujan, tekanan atmosfer, arah angin, kelembapan dan suhu. Selain itu, iklim juga bisa dipengaruhi oleh garis lintang, medan, ketinggian dan perairan di dekatnya.

Perubahan iklim disebabkan oleh Tindakan-tindakan manusia seperti; Peningkatan gas rumah kaca, proses industrialisasi, pembakaran bahan bakar fosil dari kendaraan bermotor, penggundulan hutan dan perubahan fungsi lahan.

Perubahan iklim sendiri digambarkan melalui adanya pemanasan global. Sederhananya, pemanasan global merupakan kondisi di mana gas rumah kaca yang terdiri dari Karbon dioksida, Metana, Nitrogen, dan sebagainya mengalami peningkatan konsentrasi.

Saat ini, dunia sedang dihadapkan dengan dahsyatnya perubahan iklim atau climate changes. Banjir rob, yang menyebabkan naiknya permukaan air laut di semarang pada 23 Mei 2022, disebutkan berpotensi berlangsung pada wilayah pesisir pantai utara Jawa Tengah lainnya. 

Selain itu, Hujan deras pada 13 April 2022 mengguyur sejumlah daerah provinsi KwaZulu-Natal, Afrika Selatan. Ratusan korban jiwa, rumah-rumah, beberapa jalan rusak total, serta aliran listrik terputus di beberapa tempat dan masih banyak peristiwa-peristiwa lainnya.

Situasi di atas merupakan alarm pengingat tentang ancaman perubahan iklim yang akan kita hadapi. Dalam perubahan iklim, perusahaan-perusahaan di dunia memiliki peran penting sebagai investor penghasil sampah pencemar udara.

Penelitian dari New Climate Institute, menunjukan persentase perusahaan besar di dunia seperti Google, Amazon, Ikea, Apple, dan Nestle, sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca global sebanyak 5%.

Maka dari itu, Perusahaan di dunia sangat berperan penting dalam memitigasi perubahan iklim dengan mengurangi dampak bisnis mereka terhadap lingkungan, sejalan dengan bertambahnya konsumen yang menginginkan produk ramah lingkungan. Namun, banyak perusahaan di dunia masih gagal dalam melakukan hal tersebut.

Dengan ini, negara-negara mengadakan kerja sama bilateral dengan tujuan mengurangi dampak gas rumah kaca. Indonesia dan Amerika serikat termasuk negara yang melakukan kerja sama berkelanjutan dalam rangka memitigasi perubahan iklim.

Rabu, 29 Juni 2022, Amerika Serikat menandatangani Memorandum Saling Pengertian (MSP) dengan dua perusahaan dari Indonesia, dalam program SEGAR (Sustainable Environmental Governance Across Regions). MSP tersebut bertujuan untuk meningkatkan produksi komoditas dan rantai pasokan berkelanjutan, pengelolaan tata guna lahan, serta memastikan praktik bisnis berkelanjutan menuai manfaat bagi masyarakat.

PT. Dharma Satya Nusantara, Tbk dan PT. Sawit Sumber Mas Sarana, Tbk merupakan dua perusahaan yang menandatangani memorandum tersebut. Pihak Amerika Serikat sendiri adalah program Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID).

Lewat SEGAR, USAID menyokong dua perusahaan tersebut supaya melakukan pengembangan yang lebih berkelanjutan dalam metode produksi komoditas, termasuk di antaranya manajemen pencegahan kebakaran gambut dan lahan serta mitigasi konflik manusia-satwa liar.

Selain bekerja sama dengan dua perusahaan tadi. Melalui SEGAR, USAID juga bekerja sama dalam pembangunan iklim dengan AFI (Accountability Framework Intiative. AFI merupakan sebuah inisiatif yang mendukung dunia usaha untuk memperkokoh keyakinan dalam praktik ramah lingkungan, social dan tata Kelola (ESG) dalam rantai pasokannya.

Menurut Direktur USAID Indonesia Jeff Cohen, praktik bisnis berkelanjutan adalah kepentingan bagi semua orang. Dengan praktik tersebut, kedua bilah pihak dapat mengambil keuntungan bersama dalam hal kesinambungan dan pertumbuhan ekonomi untuk generasi mendatang.

Selain itu, Jeff Cohen sangat sadar bahwa kegiatan dalam dunia perusahaan dapat menimbulkan emisi gas rumah kaca. Maka, Jeff Cohen menyebut bahwa dunia usaha juga dapat berkontribusi dalam memberikan solusi untuk mencegah, melakukan mitigasi, dan beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Hal ini tentu saja menuai komentar positif dari berbagai kalangan. Kerja sama dalam memitigasi iklim merupakan hal baik yang akan mendukung Indonesia dalam mengembangkan kepedulian tentang alam dan sekitarnya. Kesadaran mengenai perubahan iklim patut dicontohi dan diterapkan masyarakat.

Selain kerja sama AS dan Indonesia dalam program SEGAR, AS dan Indonesia juga sepakat dalam mendesak mitigasi perubahan iklim kepada negara maju pada konferensi tentang perubahan iklim (COP26) di Glasow, Skotlandia 2021 lalu. Sejak 2010pun, telah banyak kerja sama mengenai iklim antara AS dan Indonesia.

AS dan Indonesia juga pernah menggelar pesta via virtual dengan tema merayakan pencapaian bersama dalam mengatasi perubahan iklim yang telah dicapai melalui program Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat Build Indonesia to Take Care of Nature for Sustainability (USAID BIJAK). USAID melalui BIJAK memperkuat upaya Pemerintah Indonesia dalam menurunkan emisi gas rumah kaca.

AS juga menilai Indonesia sebagai mitra penting dalam COP26. Dengan banyaknya kerja sama antara Amerika Serikat dan Indonesia yang telah menuaikan hasil dan dampak yang bagus, bisa disimpulkan bahwa Amerika Serikat dan Indonesia telah menjadi ‘sahabat’ dalam memerangi iklim. Hubungan dengan benefit yang banyak ini perlu diapresiasi dan dijaga keawetannya.