Apa beda Ahok, Anies dan Agus? Menurut saya, sebagai warga ber-KTP Tangerang Selatan yang tidak bisa memilih, tiga calon pemimpin DKI Jakarta ini tidak ada bedanya. Sebagai pribadi, Ahok tentunya lebih berpengalaman memimpin dalam skala yang lebih besar, lebih memahami kompleksitas politik di Indonesia. Anies, juga tentunya lebih berpengalaman, malang melintang dalam dunia politik. Agus, berpengalaman namun dalam skala yang lebih kecil dan usia yang lebih muda.

Jadi kalau melihat indikator ini saja, Ahok merupakan kandidat terbaik untuk dipilih menjadi pemimpin. Kalau pendapat saya ini masih kurang, ada banyak pendapat di media yang tidak hanya menjelaskan secara obyektif tapi juga membandingkan secara independen yang menunjukkan bahwa Ahok adalah kandidat yang paling baik.

Kalau tiga-tiganya sama baiknya, ketiganya datang dari keluarga berpendidikan, tiga-tiganya datang dari keluarga yang berpengaruh, mengapa kita harus menjatuhkan pilihan pada salah satu orang saja? Atau kalau pertanyaan diganti dengan: kalau Ahok yang paling baik, mengapa kita harus memilih kandidat selain Ahok?

Kemarin, pertanyaan ini saya tanyakan pada istri saya: "Nda, aku dukung Agus Yudhoyono ya."

"Iya gak Apa-apa, kayaknya Agus bakalan menang tuh, lagian kalau Agus kalah, nda ada ruginya kan!"

Dalam sosiologi politik, bagaimana selera pasar memang tidak bisa diprediksi. Tidak ada yang bisa memprediksi kemenangan SBY di 2004, sama seperti tidak ada yang bisa memprediksi kemenangan Jokowi di 2014.

Memilih pemimpin bukanlah persoalan science. Dalam demokrasi suara seorang ilmuwan sama nilainya dengan suara seorang anak kuliahan. Kesadaran politik tidak bisa dianalisa oleh science, mau dengan neuroscience ataupun big data. Preferensi publik dalam hal memilih adalah misteri, sama seperti misteri mengenai cara manusia berpikir.

Memprediksi bahwa Ahok akan menjadi pemenang berdasarkan data teknis sama absurdnya dengan memprediksi bahwa Agus akan menang berdasarkan data teknis. Namun, memprediksi kemenangan Ahok sebagai sebuah bentuk dukungan, signifikan adanya. Ahok perlu didukung, perlu terus diprediksi kemenangannya, dengan cara itu maka seseorang bisa menang. Dengan memberikan dukungan maka persepsi publik bisa diubah.

Kesadaran publik memang tidak bisa dianalisa secara science, tapi usaha secara terus menerus bisa mempengaruhi hasil suatu kompetisi.

Saya mendukung Agus Yudhoyono, namun belum bisa menemukan alasan yang kuat untuk mendukungnya. Buat saya, orang ini punya kans untuk memenangkan pemilu DKI. Dan bentuk dukungan yang saya berikan kepada Agus merupakan salah satu titik dimulainya saya berkecimpung dalam dunia politik. Meski dalam skala yang sangat kecil, dengan memberikan dukungan pada seorang Agus.

Bukankah partisipasi nyata dalam dunia politik adalah dengan memberikan suara politik?

"Nda, nanti kalau Agus kalah gimana?"

"Ya sudah, toh nanti orang lupa dengan sendirinya kalau Ayah pernah mendukungnya."

"Iya, tapi kan nanti malu kalau jagoan Ayah kalah!"

"Politik kan nyandu, tenang aja, atau mungkin Ayah memang ga berbakat politik."

Ah sudahlah, pikir saya. Hingga saat ini, mereka pun terbilang sukses dalam menjalani karirnya. Jadi tidak salah buat saya untuk mengidolakan salah satu dari mereka. Mengidolakan tidak hanya sebagai role model orang yang sukses, tapi juga mengidolakan bagaimana sepak terjangnya. Mungkin saya bisa belajar, bagaimana kelak saya membuat keputusan dalam situasi yang sulit.

Urusan mengapa, bagaimana dan analisa teknisnya saya tidak tahu, dan saya tidak mau tahu.