Apa jadinya jika berumah tangga tanpa sebuah rasa? Mungkin pengalaman ini sedang banyak dialami oleh para istri-istri khususnya di era milineal sebagaimana yang dirasakan sekarang?

Nah, pengalaman ini mungkin juga dirasakan sendiri oleh para pembaca. Fenomena tersebut (rumah tangga tanpa kehangatan) tentu bukanlah sebuah hal yang tabu. Mungkin ada ratusan bahkan jutaan orang yang mengalami nasib serupa dengan anda saat ini.

Persoalannya bukan bagaimana kita “menyesali” kondisi tersebut kenapa menimpa kita! Sebaliknya, jadikan kondisi yang dihadapi saat ini sebagai momentum serta tantangan dalam menjalani biduk rumah tangga.

Bagaimana caranya?  

Sebelum kesitu, mari kita tengok definisi dari judul tulisan diatas.

Apa sih yang dimaksud dengan “Istri tanpa Rasa?” jawabannya mudah saja. Secara sederhana, istri tanpa rasa ialah seorang istri yang merasa “kesepian” dan merasa “kurang dihargai” oleh pasangannya yaitu suami mereka. Sang istri kadang merasa bahwa diri mereka hanyalah sebagai “pelengkap” atau bahkan “objek” yang ada di rumah.

Mereka hanya memiliki peran untuk melahirkan seorang anak, merawat, mengurus rumah tangga hingga melayani “suami di ranjang”. Selain tugas pokok itu mereka "kadang" tidak mendapat apa-apa.

Bisa jadi hanya “nafkah lahir tanpa nafkah batin”. Bisa juga hanya “nafkah batin, tapi lahirnya jeblok”. Dan sederet fenomena “kekeringan” lain yang dirasakan sang istri.

Sang istri dalam konteks ini ibaratnya sebuah benda yang seolah-olah tak memiliki nyawa selain beberapa kebutuhan standar sebagaimana yang disebutkan tadi.

Jika dibiarkan terus menerus kondisi ini tentu saja berbahaya. Rumah tangga yang “mati rasa” tentu akan berdampak pada kesehatan serta jalannya keharmonisan keluarga. Sehingga dampak yang terparah dari kondisi demikian tentu saja sebuah “perceraiaan”.

Menurut data BPS (Badan Pusat Statistik), selama empat tahun, sejak 2012, 2013, 2014 dan 2015 terjadi tren kenaikan perceraiaan di Indonesia.

Sebagai contoh, dua provinsi besar di Indonesia dapat kita lihat datanya. Di DKI Jakarta jumlah perceraiaan yang terjadi tahun 2012 hingga 2015 sebanyak 40.381 kasus perceraiaan/ talak.

Tahun 2012 terjadi 10.365 kasus perceraiaan di Jakarta. Tahun 2013, 9.282 kasus, tahun 2014, 10.431 kasus perceraiaan. Dan tahun 2015 jumlah angka perceraiaan di Ibu Kota Indonesia ini sebesar 10.303 kasus perceraiaan. Sehingga ketika ditotal jumlahnya mencapai 40 ribu kasus perceraiaan di DKI.

Sedangkan di Jawa Barat, data menunjukkan jumlah kasus perceraiaan tahun 2012 sebanyak 63.133 kasus, tahun 2013 jumlah perceraiaan sebanyak 60.160 kasus, tahun 2014 sebanyak 65.848 kasus dan terakhir tahun 2015 sebanyak 70.267 kasus perceraiaan terjadi di Jawa Barat.

Bila dijumlah, dalam 5 tahun saja daerah Jawa Barat menyumbang angka perceraiaan sebanyak 259.408 kasus perceraiaan. Jumlah ini sangatlah tinggi.  

Dilihat dalam skala nasional secara keseluruhan angka perceraiaan di Indonesia sendiri mulai dari tahun 2012 sebanyak 346.486 kasus cerai, tahun 2013 sebesar 324.247, tahun 2014 sebesar 344.237 kasus dan tahun 2015 sebanyak 347.256 kasus perceraiaan yang terjadi di seluruh Indonesia.

Gawatnya, jumlah perceraiaan menampakkan trend yang kian meningkat dari tahun ketahun. Data 2016 dan 2017 setidaknya menunjukkan angka penaikan yang terus terjadi.

Mati Rasa dan Solusinya

Secara kuantitatif fenomena ini tentu saja berbahaya bagi kehidupan bangsa Indonesia di masa depan. Sebab, kian besarnya kasus perceraiaan apalagi yang sudah memiliki “anak” menyebabkan terganggunya pola dan cara pengasuhan terhadap anak-anak di Indonesia.

Pola pengasuhan ini tentu saja hanya salah satu dampak yang timbul akibat dari perceraiaan orang tua. Anak akan kesulitan untuk mendapatkan kasih sayang utuh dari orang tuanya. Selain anak, banyak dampak negatif dari sebuah perceraiaan.

Dalam perspektif agama perceraiaan sangatlah dibenci Tuhan. Meskipun dalam setiap contoh kasus, perceraiaan memang diperbolehkan oleh agama.

Namun, jika perceraiaan sebagai jalan terakhirnya itupun diperbolehkan dengan berbagai syarat dan kondisi yang melatarbelakanginya. Bukan setiap ada masalah dalam rumah tangga maka bercerai menjadi solusinya. Perceraiaan adalah “jalan terakhir” bagi pasangan suami-istri.

Maka, “keringnya” hubungan suami-istri dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya tidak lantas menjadi alasan perceraiaan. Menghadapi persoalan “kurang dihargai, kurang diperhatikan serta kurang disentuh” sebagai pasangan bukan berarti “kiamat” bagi seorang istri. Perlu upaya “ekstra” untuk mengembalikan jalannya keharmonisan rumah tangga.

Salah satunya ialah dialog yang terbuka dengan suami secara apa adanya. Sebab, membiarkan masalah yang muncul tanpa jalan keluar bukanlah sikap yang bijak. Apalagi membiarkan sang suami menerka-nerka berbagai perubahan yang terjadi pada sang istri. Sebab, Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum apabila kaum itu sendiri yang tidak mengusahakan perubahan tersebut.

Karena itu menjadi “istri tanpa rasa” mesti diganti dengan “Istri penuh cinta”. Pernikahan merupakan sarana untuk mewujudkan kebahagiaan di dunia dan tentu saja akhirat. Apabila niat ini yang dijadikan panglima, niscaya kebahagiaan akan segera menyapa.

Tinggal bagaimana kedua belah pihak, dalam hal ini istri dan suami saling berdialog dari “hati kehati” tanpa ada yang ditutupi dan menyakiti. Melalui ikhtiar itulah rumah tangga dapat diselamatkan dan jumlah perceraiaan di Indonesia dapat dikurangi di masa akan datang. Semoga.