49972_12979.jpg
Agama · 4 menit baca

Istri Empat, Tawaran Ataukah Batasan?

Cinta adalah salah satu hal terindah dan luar biasa di dunia, dan seseorang rela melakukan segala cara untuk yang dicintainya. Bahkan tikung-menikung pun nekat dilakukannya. Mungkin juga bibit dari perebutan kekuasaan orang-orang tua negeri ini adalah tikung-menikung cinta di masa mudanya. Pantesan.

Apalagi untuk seorang pemuda yang telah lama menjomlo, seperti penulis disitu kadang saya merasa sedih, dicintai oleh orang yang dicintai itu bagaikan cuilan nikmat surga turun padanya. Lebih-lebih jika ternyata banyak yang ‘mau’ padanya dan mau dijadikan yang kedua, meskipun bingung juga pada akhirnya. Mungkin untuk para jomblo, nikmati aja hidupmu, jomblo itu enak kok bebas hehe.

Dan pernikahan adalah cinta yang telah legal dan formal, selama bukan nikah sirri aja, legal dalam pandangan masyarakat dan formal dalam catatan KUA. Pernikahan one by one mungkin sudah wajar-wajar aja, tapi gimana kalo sampe brace, hattrick atau quadtrick? Pasti banyak menimbulkan kontroversi di dalamnya, khususnya para emak-emak yang ngotot itu adalah suatu ketimpangan sosial, apalagi kalo menimpa seorang tokoh, khususnya tokoh yang dianggap “ulama” oleh beberapa masyarakat.

“Perkara halal kok masih dipermasalahkan?”, tunggu dulu, ini bukan urusan halal haramnya, ini urusannya dengan norma masyarakat dan pengambilan kesimpulan pada ayat al-Quran. Mari kita coba lihat bagaimana al-Quran membicarakannya pada Surah An-Nisa’ ayat 3 berikut:

فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَآءِ مَثْنَى وَثُلَثَ وَرُبَاعَ

Maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi, dua, tiga atau empat.

Kalau melihat secara tekstual, ayat ini seakan-akan menawarkan kebolehan beristri empat yang kita senangi, aseek. Tapi tunggu dulu, apakah benar itulah yang dimaksudkan al-Quran.

Al-Quran turun pada masa Nabi sebagai petunjuk dan merespon problematika manusia khususnya pada masa tersebut. Coba kita flashback pada masa ayat ini turun, pada masa ini, orang-orang Arab memiliki istri yang cukup banyak, bahkan melebihi empat, seperti tujuh, sembilan. sebelas, dll, dan syariat Islam membatasi hanya empat istri saja. Mereka yang mengaku memeluk Islam dengan berat hati harus menceraikan istri-istri mereka dan memilih di antara istri-istri mereka yang paling dicintainya. Dari kasus ini, terlihat bahwa Islam membatasi poligami, bukan malah menganjurkannya.

Dan ternyata ayat ini belum selesai dan masih memiliki lanjutan, mari kita simak ayat tersebut:

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَةً

Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berbuat adil, maka (nikahilah) seorang saja.

Sebenarnya ayat lanjutan ini adalah kode, bagi yang peka, bahwa satu istri aja udah cukup, cukup ngerepotin mungkin maksudnya. Selain itu juga ada syarat keadilan di dalamnya, dan ini juga kode juga sebenarnya, bagi yang peka, bahwa hakikatnya manusia tidak akan bisa berbuat adil, mungkin bisa tapi tetap tidak bisa sepenuhnya, khususnya urusan hati. Mungkin untuk urusan nafkah, lahir batin, bisa mendekati adil, tetapi kalo urusan cinta kita tidak bisa melakukannya. Bisa jadi, rasa cinta pada istri kedua, ketiga, dan keempat tidak sebesar pada istri pertama, atau sebaliknya.

Pemahaman lanjut terhadap ayat ini adalah sebenarnya Islam hanya memperbolehkan menikahi seorang istri, dan poligami hanya diperbolehkan pada saat-saat kritis banget. Tetapi mengapa dalam ayat ini dibolehkan sampai empat? Ini berhubungan dengan budaya Arab sebelumnya yang memiliki banyak istri, jika mereka langsung dipaksa hanya memiliki seorang istri, mereka mungkin akan enggan memeluk Islam. Dan inilah salah satu metode berdakwah ala al-Quran, budaya buruk yang lama tidak langsung dibuang, tetapi dibatasi jumlahnya secara bertahap dan diwarnai dengan nuansa keIslaman.

Untuk masa sekarang, bisa dilihat bahwa kebanyakan orang tidak memilih untuk poligami karena mungkin mempertimbangkan dampak dibaliknya, khususnya para wanita yang tidak mau dimadu dan menimbulkan kecemburuan gender untuk melakukan poliandri.

Ada yang mengatakan bahwa dibolehkan poligami karena tingkat nafsu suami tidak terpuaskan oleh satu istri. Emang hanya suami aja yang nggak puas, istri juga banyak yang nggak puas lho. Selain itu, pernikahan bukanlah urusan seks semata, dan wanita juga nggak mau hanya dianggap sebagai pelampiasan nafsu pria. Pernikahan adalah suatu perkara yang sakral tentang membangun keharmonisan berumah tangga dan hubungan baik antar dua keluarga, keluargaku dan keluargamu pastinya.

Pada konteks budaya Indonesia sendiri, tidak ada budaya memiliki istri banyak seperti orang Arab. Kebanyakan hanya memiliki seorang istri, dan bila berpoligami biasanya karena istri pertama tidak memiliki keturunan, atau karena alasan lain juga. Apalagi urusan nafsu, sadarlah bro, kita tidak sekuat orang Arab, jadi nggak usah sok-sok an.

Yang nggak masuk akal ini adalah mereka yang melakukan poligami ini beralasan karena mengikuti jejak Rasul, ealahh ancuk tenan wong-wong iki. Rasul ketika beristri Khadijah, istri pertama beliau, tidak melakukan poligami sama sekali. Setelah Khadijah wafat, beliau baru banyak menikah dan istri-istri beliau adalah janda semua dan berusia lanjut kecuali Aisyah, bayangkan mau kalian kayak gini?

Dan pernikahan beliau ini semuanya adalah urusan diplomasi, perdamaian serta mengangkat derajat wanita tersebut. Selain itu juga pernikahan Rasul ini hanya khusus bagi beliau, jadi bukan sunnah. Mbok yo yang ditiru itu dari Rasul itu kesederhanaan, kejujuran,  kan enak. Atau kalo mau poligami ya poligami aja, nggak usah bawa-bawa sunnah, seperti salah satu tokoh idola saya, Bung Karno.

 Dan juga mbok yo Pak Ustadz tidak menambah rasa sakit para jomblo ini, karena mungkin ada jatah kami yang sampeyan ambil Pak.