Haruskah perpisahan berarti kita tak punya saat untuk berjumpa?
Ah! Para pencinta seluruh rintihan mengenai kegelisahan mereka.
Bagiku itu adalah sebuah musim dingin, bukan sebuah waktu janji bertemu,
Yang meringkuk di atas bara hasrat.*

~Wallada bint al-Mustakfi

Ruang sastra Wallada menjadi gambaran universal tentang sebuah perpisahan. Sebuah simplifikasi sensual yang bermula dari melankolia dan berlanjut dengan bara hasrat. Agaknya benar tentang penyederhanaan yang dilakukan Wallada. Kita tahu, bara hasrat mestinya tak terukur dan tak terumuskan, menuju ke sana pun bak pesakitan yang tersiksa seumur hidup.

Menyikapi hal ini, pria Belanda punya cara menarik. Yang dimaksud adalah orang-orang Belanda di masa penjajahan yang sukses mengeruk manfaat dari kesuburan tanah pribumi. Mereka bekerja sama dengan para priyayi untuk mengerahkan waktu dan pekerjaan penduduk demi lalu lintas pasar Eropa. Namun hal di atas tidak akan lebih lanjut dibahas di sini.

Ada sisi lain dari pria Belanda untuk dibahas sesuai porsi saya sebagai non sejarawan tulen. Menarik karena, ketika mereka datang, hanya sedikit dari mereka yang membawa serta wanita atau istri-istri mereka. Selain pria-pria beruntung tersebut, jelas sebagian besar pria Belanda kesepian itu mengalami, seperti yang digambarkan Walladah, “meringkuk di atas bara hasrat.”

Pria Belanda yang tidak betah menahan melankolia perpisahan dengan wanita yang mereka tinggal di negerinya, kemudian memutuskan untuk menggundik wanita pribumi. Tapi (sebagaimana kata Pram) orang Belanda terkenal sangat pelit. Mereka ingin pulang ke negerinya sebagai orang berada.

Apalagi menurut hukum mereka, jika seorang kulit putih menjadi ayah seorang anak hasil dari gundik pribuminya, dan mengakui anak itu sebagai keturunannya, anak tersebut tercatat sebagai warga Belanda. Namun karena saking pelitnya tadi, kebanyakan tidak diakui. Dan posisi wanita pribumi dari dulu tetap gundik yang hina, yang tidak pantas dibawa pulang ke negeri Eropa.

Sebagian pria Belanda lain, menyikapi bara hasratnya secara kreatif dan agak absurd. Bukan dengan menggundik, tapi menciptakan “Istri Belanda” mereka sendiri. Orang Inggris menyebutnya Dutch Wife*. Orang Inggris pula yang pertama kali menertawakan budaya ini. Di lain sisi, priyayi dan bangsawan kita yang pertama kali bangga beristri Belanda. Mungkin pula dengan senang hati tanpa menanyakan asal usulnya.

Itulah yang agak ganjil. Awalnya memang mereka dituntut untuk, atau memantaskan diri sejajar dengan Belanda. Kakek saya menyebut mereka, priyayi dan pembesar itu dengan sebutan “Belanda hitam”. Apa yang oleh Belanda lakukan, pasti ditiru asal dapat membuat dirinya terlihat setara dan tidak pantas untuk ditindas oleh Belanda.

Mereka meniru dan mewariskan budaya pria Belanda kesepian ini, dan menerimanya sebagai simbol modernitas. Padahal priyayi dan bangsawan kita secara sosio-kultur punya berlembar-lembar cek kosong untuk memilih istri. Walau pada praktiknya sangat patriarkal, itu menjadi persoalan lain disini.

Lagipula priyayi dan bangsawan kita waktu itu, secara geografis, yuridis, psikologis maupun politis punya mekanisme yang lebih elegan untuk menekan bara hasratnya. Sebagaimana kita tahu, semestinya mereka dapat tampil lebih konkret dengan institusi pernikahan, dalam arti yang sesungguhnya. Bukan dengan imajinasi seksual yang kemunculannya hampir mirip dengan logika pornografi kontemporer.

Saya mendapat keterangan yang sebangun dari kakek saya –sejauh ini saya anggap paling shahih— bahwa kebudayaan bangsa kita punya tradisi yang lebih konkret dari hanya beristri Belanda, serta lebih manusiawi dan diakui eksistensinya lebih dari sekedar menggundik wanita. Jadi, menerima absurditas “Istri Belanda” menurutnya adalah kegagalan fatal dalam mengenal budaya bangsa sendiri.

Lantas, apakah tradisi pria Belanda kesepian itu buruk untuk diteruskan? Tunggu, harus jelas dulu posisi kita dimana. Saya pribadi sejak 2009 telah bercerai dengan “Istri Belanda” saya, karena beberapa benturan dengan realita. Dan sekarang berada pada posisi mempertanyakan ulang fungsi substansialnya.

Jadi jelas, di sini tidak ada posisi sebagaimana Marx menggaungkan revolusi proletar sembari menikmati dirinya sebagai borjuis kecil dengan mempekerjakan beberapa budak di kediamannya.

Pria-pria Belanda kesepian jelas, sekali lagi sangat kreatif. Mereka dapat mengolah kegelisahan mereka menjadi karya nyata. Popularitas karya mereka didukung oleh tipologi linier priyayi kita yang menganggap hal tersebut sebagai warisan modern, yang membuat mereka terlihat lebih beradab daripada pribumi kebanyakan.

Tapi, terciptanya “Istri Belanda” akan dapat diterima jika argumennya untuk menambah kenyamanan tidur sebagaimana kita yakini sekarang. Namun sejarah berkata lain, nyatanya mereka diciptakan untuk menekan anarki seksual, bara hasrat pria-pria Belanda yang memutuskan untuk tidak menggundik dan memelihara melankolia perpisahannya dengan imajinasi seksual. Bayangkan, betapa lucunya!

Jika sampai saat ini “Istri Belanda” tersebut masih ada pada tradisi kita, setidaknya kita telah mengalami tiga kekalahan beruntun yang membuat kita tidak pernah terlihat sebagai bangsa unggulan.

Pertama, yang kita anggap modernitas ternyata berawal dari pikiran dan imajinasi konyol pria-pria Belanda kesepian. Dalam hal ini kita menurunkan derajat tradisi konkret kita ke tingkat budaya absurd di atas absurditas.

Kedua, jika sekarang kita masih memeluk “Istri Belanda” tanpa membongkar reduksi sejarah, polarisasi serta pergeseran maknanya, secara tidak sadar kita telah mengidentifikasi diri kita sama dengan pria Belanda kesepian itu. Lebih tepatnya kita adalah orang konyol baru.

Ketiga, kita selalu kalah jika tidak percaya diri dengan tradisi sendiri. Sebagai orang konyol baru, kita kalah pengalaman. Padahal selama ini, bangsa kita kurang konyol bagaimana!!