Semenjak kabar hebohnya pernikahan Rey Mbayang dan Dinda Hauw, netizen terbagi menjadi dua kubu. Kubu Pengagum Ta’aruf dan Kubu Penggemar Pacaran. Tentu saja mereka saling lempar-lempar argumen untuk saling menjatuhkan siapa yang lebih baik.

Kubu Ta’aruf menganggap pacaran itu haram karena akan mendekati zina. Sementara Kubu Pacaran menganggap ta’aruf terlalu cepat untuk mengambil keputusan. Walaupun masalah argumentasi ini tidak akan selesai sampai lebaran kuda atau monyet sekalipun, akan tetapi kedua kubu ini bisa disatukan oleh suatu pandangan sama, yaitu “Saling Memantaskan Diri”.

Pandangan tersebut menganggap bahwa sebuah pernikahan harus saling mempersiapkan diri. Memantaskan diri maksudnya mengubah apa yang dianggap jelek pada dirinya, menjadi lebih baik di pandangan seseorang. 

Contohnya dari yang mata keranjang, jadi sering menundukkan pandangan. Dari yang ibadahnya malas-malasan, jadi rajin ibadahnya. Dari yang sering mengambek, sekarang jadi mudah tersenyum.

Saya mencoba iseng-iseng searching di Google tentang arti “Memantaskan Diri”. Makin miris dengan hasil surfing ini, karena yang dibahas hanya pernikahan dan pernikahan. Kalimat “Saling Memantaskan Diri” sudah dicaplok oleh sebagian orang, khusus untuk persiapan pernikahan.

Padahal sesungguhnya, saling memantaskan diri tidak serta-merta masalah pernikahan saja. Banyak hal yang harus kita lakukan untuk memantaskan diri tanpa harus ada embel-embel persiapan pernikahan.

Seorang anak yang masih bergantung pada orang tuanya juga perlu memantaskan diri. Dalam hal ini bersikap sesuai dengan umurnya. Apakah mau dianggap anak kecil terus? Walau memang secara hakikatnya, orang tua akan selalu menganggap kita sebagai anak kecil.

Tapi tidak selamanya harus menunjukkan sikap anak kecil. Sikap manja, suka mengeluh, kurang percaya diri, suka marah-marah sendiri, dan hal-hal negatif lainnya yang tidak sesuai umur. "Sudah besar kok masih minta uang ke orang tua?" Misalnya. Itu juga perlu usaha agar pantas dilihat sebagai anak dewasa.

Sikap dewasa dan mandiri adalah sikap yang harus dipersiapkan sejak dini pada anak menghadapi kehidupan selanjutnya. Dewasa secara berpikir dan bertindak akan mampu memilah mana yang baik dan mana yang buruk. 

Mandiri akan menunjukkan bahwa apa pun yang terjadi padanya bisa dikerjakan dan diselesaikan sendiri. Tentu saja kegiatan memantaskan diri seperti ini perlu pengalaman dan pembelajaran dari orang terdekat, salah satunya orang tua.

Setelah dididik menjadi dewasa dan mandiri, tentu berproses memantaskan diri masih terus berjalan. Masuk sekolah, bagaimana memantaskan diri untuk menghadapi guru dan teman-teman sebayanya. 

Selain itu, bagaimana bergaul dengan kakak kelas maupun adik kelas. Tentu saja sikap mereka harus berbeda. Bersikap kepada guru atau yang dituakan berbeda dengan bersikap kepada teman-temannya. Semua itu juga membutuhkan proses memantaskan diri di lingkungan sekolah.

Masuk ke dunia kerja juga perlu memantaskan diri. Bertemu dengan orang-orang baru yang berbeda karakter. Bagaimana menyikapi perbedaan karakter orang dan lingkungan kerja, semua perlu proses. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penerimaan atau penyesuaian diri kita terhadap rekan kerja dan lingkungannya.

Yang paling penting adalah memantaskan diri dengan lingkungan masyarakat. Karena kita akan tumbuh dan berkembang lebih besar di lingkungan masyarakat. Dengan tetangga, orang sekitar lingkungan tempat tinggal, dan lain-lain. Perbedaan karakter orang-orang yang jauh lebih luas daripada sekolah dan lingkungan kerja sangat perlu berproses lebih ekstra keras.

Yang perlu digarisbawahi adalah segala proses memantaskan diri perlu kekuatan dari dalam. Pastinya akan banyak cibiran maupun godaan dari dalam dan luar. Karena tak selamanya orang akan menerima kita 100%. Tidak akan. Tapi sebisa mungkin memantaskan apa yang pantas untuk dilihat dan diterima orang lain.

Tentu saja pantas disini juga harus dipilah-pilah. Jangan sampai pantas yang berbuat salah. Misalnya kamu masuk dalam suatu kelompok yang sukanya minum minuman keras. 

Ya, jangan memantaskan diri seperti yang mereka lakukan, ikut-ikutan minum, sebagai bentuk pembawaan diri agar diterima kelompok tersebut. Itulah mengapa sedari kecil minimal dilatih untuk bersikap dewasa dan mandiri.

Namun, persoalan memantaskan diri jangan sampai membebani diri. Tetap jadi diri sendiri. Tak perlu mendengarkan ucapan-ucapan yang tidak perlu didengar dan diresapi. Kecuali memang hal tersebut baik untuk kehidupan nanti.

Ada banyak kasus yang merasa terbebani akibat memantaskan diri namun bukan dari diri sendiri. Hidupnya seperti beraksi dalam topeng. Yang ditunjukkan hanya hal-hal yang baik saja. Namun sejatinya menyimpan hal-hal yang buruk yang pasti pada suatu saat akan terbongkar.

Sama seperti oknum-oknum penjilat. Mereka akan berupaya bersikap pantas dan layak untuk diterima pada seseorang maupun kelompok. Setelah diterima, mereka melakukan semena-mena terhadap yang mereka ikuti. Justru yang seperti ini sangat berbahaya.

Untuk itu, alangkah baiknya untuk tidak terlalu banyak menuntut seseorang untuk memantaskan diri sesuai dengan apa yang kita mau. Kita tidak bisa mengubah secara paksa apa yang menjadi karakter pribadi seseorang. Salah-salah kita yang tertipu oleh orang yang kita minta memantaskan dirinya.

Selain itu, memantaskan diri juga tidak perlu mengikuti tren-tren yang sudah maupun sedang berjalan. Semua itu hanya tipu muslihat mata, yang kita tidak tahu apa dibalik semua itu. Yang bisa tahu ya kita sendiri ketika sedang menjalankannya. 

Melihat artis atau teman kita menikah dengan proses kilat, kenalan-lamaran-nikah. Itu karena sudah ada jatah dan rezeki masing-masing tentang pertemuannya dengan pasangan.

Kalau sebagai motivasi, boleh-boleh saja. Asalkan disesuaikan dengan kemampuan dan penilaian terhadap pribadi. Jalan bertemu jodoh sudah diatur masing-masing. Tidak perlu memaksakan diri untuk minimal sama.

Belum tentu juga proses awal menuju pernikahan menentukan langgengnya sebuah hubungan keluarga. Yang bisa melanggengkan hanya sikap dan cara berpikir dewasa untuk menerima semua perbedaan yang hadir dalam menjalin hubungan. Tentu saja yang utama adalah takdir yang sudah digariskan kepada mereka.

Kembali ke diri masing-masing untuk memantaskan diri. Sikap dan perilaku akan menentukan dengan siapa kamu akan menjalin hubungan, dan apa hasil dari hubungan tersebut ke depannya. Hubungan disini bukan hanya pernikahan, tetapi juga hubungan kerabat, hubungan tetangga, hubungan pertemanan, dan lain-lain.

Ketika diberi nasihat, alangkah pentingnya untuk menyingkirkan ego sendiri. Menyerap hal-hal yang baik akan berdampak pada kehidupan. Tentu harus diproses dan difilter terlebih dahulu apakah ini baik atau kurang baik. Kalau baik diambil dan diresapi. Kalau jelek tentu saja dibuang.

Semua hal di dunia ini tentu melalui proses kelayakan. Kelayakan di suatu tempat akan berbeda dengan kelayakan di tempat lain. Bisa juga berbeda karena perkembangan zaman dan teknologi. Berusaha memulai berlatih untuk bisa menilai diri sendiri, menakar sifat-sifat pribadi, agar mempermudah proses memantaskan diri.

Sehingga tidak ada penolakan lagi seperti ini,

+ “Maaf ukhti, izinkan aku menikahi kamu.

- “Maaf akhi, aku mau memantaskan diri dulu.

Mau sampai kapan mau merasa belum pantas, wahai kawan?