Mahasiswa
1 bulan lalu · 71 view · 6 min baca · Cerpen 75887_66857.jpg
foto: Pixabay

Istana Kaleng

Pagi yang cerah di jalanan aspal pinggiran hutan. Si Botol plastik sudah terlempar di pangkuan bunda Bumi. Tubuhnya jatuh di semak rimbun tepi hutan. Seorang pengendara seenaknya melempar si Botol plastik lewat jendela mobilnya.

“Aduh!” keluh si Botol plastik mengerang sambil memegang tubuhnya yang bening.

“Hi sobat!” sapa si Daun kering. Ternyata tak jauh darinya ada si Daun kering yang sedang santai.

“Hi Daun, bagaimana kabarmu? Tanya si Botol plastik.

“Sakit kawan, mereka buang aku sembarangan” ucap si Botol plastik.

“Sabar sobat, sini dulu mampir ke rumahku,” tawar si Daun kering.

“Terima kasih sobat,” ucap si Botol plastik sambil terseok-seok menuju rumah si Daun kering yang berupa onggokan dedaun hutan.

Tak lama kemudian melintaslah sebuah truk yang mengangkut peralatan elektronik. Ibu bumi sudah khawatir, bagian bak truk itu terbuka tanpa penutup terpal. Sang Bayu menggeliat agak keras berhembus di jalanan aspal pagi itu. 

Apa yang dikhawatirkan bunda Bumi terjadi. Tubuh si Sterofoam terhempas terbang ke angkasa. Tubuhnya ringan, ia sering dipakai untuk ganjal barang-barang elektronik yang sedang diangkut. Si Sterofoam terbang bak burung namun tak bersayap. Akhirnya jatuh juga ke pangkuan bunda Bumi.

“Heee lihat bukankah itu si Sterofoam!” pekik Si Botol plastik.

“Ya, itu si Sterofoam!” seru si Daun kering sambil meloncat kegirangan.

“Hi sobat sini cepat! Sebelum si Bayu terbangkan kamu lagi,” ajak si Botol plastik sambil terus berjingkrak.

Keduanya tak sabar, akhirnya berlarian menuju si Sterofoam yang masih kesakitan tubuhnya akibat terhempas keras tadi. Si Daun kering dan si Botol plastik menyeberang jalan aspal dengan hati-hati. Suhu di atas aspal begitu panas karena pantulan sinar sang Surya.

“Ayo sobat ulurkan tanganmu,” tawar si Daun kering.

“Sini ku bantu berdiri,” kata si Botol plastik.

Mereka berdua, si Sterofoam dan si Botol plastik adalah sampah, namun berbeda masa daur ulangnya. Sedang si Daun kering adalah dedaun hutan yang rontok. Dia sang penyubur tanah setelah menjadi kompos alami.

Tak lama kemudian sampailah si Sterfoam di rumah si Daun kering. Mereka duduk santai di rindang pohon yang menaungi onggokan. Sungguh sejuk dan segar.

“Kita harus saling tolong-menolong” ucap si Daun kering.

“Sejak kapan kau tinggal di sini Daun kering?” tanya si Sterofoam sambil merebahkan tubuhnya di pamgkuan bunda Bumi.

“Beberapa hari yang lalu,” jawab si Daun kering.

“Sendirian?” tanya si Botol plastik yang sedari tadi menggelindingkan tubuhnya ke sana kemari tanda gembira.

“Tidak. Bentar lagi teman-teman ku akan datang. Mereka masih menggantung di atas pohon itu,” jelas si Daun kering sambil menunjuk ke arah pohon. Tampak di atas sana daun-daun kering yang bergelantungan siap jatuh ke pangkuan ibu Bumi.

Ibu bumi itu sabar, menerima semua yang jatuh kepangkuannya. Ibu Bumi mulia, terbuka untuk semua. Kesabaran ibu Bumi sering dikhianati oleh tangan-tangan yang tak bertanggungjawab. Membuang sampah sembarangn. Si Botol plastik dan si Stereofoam adalah salah satu contoh kecerobohan tangan mereka.

Tak lama kemudian datanglah kawan-kawan si Daun kering. Mereka berjatuhan lembut melayang dari atas pohon hingga jatuh di pangkuan ibu bumi.

‘Selamat datang kawan!!” sambut si Daun kering.

“Hi sobat!!” sapa mereka hampir bersamaan.

“Mari-mari sini semua,” tawarnya

Akhirnya semua berkumpul. Terbentuklah koloni sampah siang itu. Mereka semua berkumpul di rumah Daun kering. Kendaraan masih saja lalu-lalang dengan ramainya di jalanan pinggir hutan itu. Masih saja ada sampah yang terlempar dari jendela mobil ataupun dari pengendara motor. Termasuk filter puntung rokok yang sulit terurai. Dari tangan-tangan para perokok.

“Ohh nasibku,” keluh si Puntung rokok.

“Dimanakah ini?” tambahnya.

Si Puntung rokok melihat sekeliling. Terlihat olehnya sebuah pinggiran hutan yang hijau. Lama ia terduduk di pinggir jalan aspal itu. Kemudian terdengar olehnya suara riuh percakapan di onggok sampah seberang sana.

“Mungkin itu teman-temanku,” pikirnya.

“Baiklah aku akan ke sana,” ucapnya lirih.

Maka menyeberanglah si Puntung rokok dengan cara menggelindingkan diri di jalanan aspal yang mulai panas. Cepat sekali ia menggelinding. Takut terhempas lagi oleh lalu-lalang kendaraan.

“Selamat siang,” salam si Puntung rokok.

“Selamat siang,” jawab mereka serempak.

“Wahai Puntung, masuklah!”

“Terima kasih kawan.”

“Wah nasib kita sama, dibuang sembarangan.”

“Sabar kawanku semua, akan ada kejutan besar,” kata Daun kering si tuan rumah.

“Apakah itu sobat?”

Belum sempat terjawab pertanyaan yang sedikit membuat penasaran, tiba-tba terdengar derap langkah anak-anak Pramuka yang sedang melalui pinggiran aspal. Sepertinya sedang melakukan kegiatan rutin melintas pinggiran hutan itu. Jumlah mereka banyak. Seolah ingin menunjukkan sesuatu, inilah kami para pembela bunda Bumi! Sambil berjalan, mereka menyanyikan yel-yel pemacu semangat.

Berjalan tegap maju nan perkasa

Kami pramuka Indonesia

Siaga menjaga keindahan nusa

Pungut sampah yang terbuang sia

Maju-maju siaga

Bersihkan rayuan pulau kelapa

“Mereka datang, hore!!” teriak si Daun kering.

“Ayo kawan sambut teman kita, para pramuka siaga!!!” seru si Daun kering lainnya.

Si Botol plastik, si Stereofoam, si Puntung nampak bengong. Siapakah gerangan mereka?

Selang kemudian adik-adik pramuka itu mengeluarkan kantong kertas besar hasil kerajinan tangan berbahan daur ulang mereka. Kantong kertas besar untuk tempat sampah. Sebagai tempat sementara yang nyaman bagi sampah sebelum dikumpulkan di markas pramuka. Adik-adik pramuka sedari pagi tadi berjalan dari markas sambil pungut sampah di sepanjang jalanan aspal di pinggiran hutan lindung itu.

“Kawanku yang kusayangi semua,” ucap si Daun kering membuka sambutan kecil-kecilan.

“Mereka adalah adik-adik pramuka yang mempunyai kesadaran dan tanggungjawab untuk menjaga kelestarian lingkungan. Adik-adik ini dengan rela dan senang hati akan mengangkut kita ke tempat pengumpulan sampah,” lanjut si Daun kering bersemangat bak seorang komandan.

“Horeeeee!!!!!” seru para sampah.

“Kita akan ikut berkelana menuju tempat sampah!” ucap si Puntung rokok menggelinding kesana-kemari kegirangan.

Sungguh bersemangat mereka siang itu. Dengan telaten mengumpulkan sampah di pinggiram jalan sepanjang hutan. Satu persatu, si Daun kering, si Botol plastik, si Sterofoam dan si Puntung rokok masuk ke kantong kertas. Mereka bergembira bisa berkumpul di tempat semestinya. Di dalam kantong itu ada si Kertas tisu, ada si Botol kaca ada si Permen karet, dan banyak lagi. 

Mereka tergoncang-goncang bersuka ria mengikuti langkah adik-adik pramuka yang terus berjalan menyisir pinggiran jalan. Adik-adik pramuka masih terus mencari teman-teman si Daun kering lainnya yang masih tercecer oleh tangan jahil.

“Baik kawan sepertinya kita sudah sampai,” ucap si Daun kering.

“Kita akan dipilah oleh mereka,” terangnya.

“Beruntung ada adik-adik pramuka!” puja si Puntung rokok

Di bawah pohon rindang yang tumbuh di halaman belakang markas pramuka tersebut, ada sebuah kegembiraan sedang membuncah. Adik-adik pramuka dengan giat memilih dan memilah kawan-kawan si Daun kering. Ada beberapa kaleng besar dari bekas drum terjajar rapi di belakang markas pramuka. 

Kaleng drum yang dicat warna-warna dengan tulisan berbeda. Ada yang bertulis istana daun, istana plastik, istana kaca, istana kertas, istana puntung. Sungguh kreatif mereka, membuat istana bagi penampungan sampah sementara sebelum diambil mobil.

“Kawan kita akan berpisah,” isak si Daun kering.

“Selamat jalan sobat,” ucap mereka sambil berpelukan bercucuran air mata.

Sunggu bahagia bila berkumpul bersama. Namun kini saatnya berpisah untuk dipilih dan dipilah.

“Berterima kasihlah kepada adik-adik pramuka,” ucap si Daun kering sambil pamit untuk kembali pulang ke rumahnya, onggokan daun di tepi hutan. Dia lega melepas kepergian teman-temannya. Si Daun kering pulang dengan berkendara sang bayu.

Sebuah kerjasama yang bagus antara adik-adik pramuka dengan si Daun kering. Andai tanpa kerelaan merek, maka si botol plastik akan menyusahkan bunda Bumi untuk mengurai. Si Kantong plastik saudara si Botol plastik akan membutuhkan waktu 10 sampai 12 tahun untuk terurai. Sedang si Botol plastik lebih lama lagi yaitu 20 tahun untuk bisa hancur. Si Puntung rokok akan terurai selama 10 tahun. 

Sedangkan yang paling lama adalah si Sterofoam yang membutuhkan waktu sekitar  500 tahun untuk terurai sempurna. Kasihan ibu bumi jika ini terjadi. Tubuhnya akan terus keropos terkena polusi. Kini mereka sudah di tempat masing-masing yaitu istana kaleng warna-warni. Siap diambil truk untuk didaur ulang dengan segala cara dan upaya serta cinta kasih kebijakan anak-anak ibu Bumi. 

Ibu Bumi pun tersenyum sore itu, sungguh gembira melihat darma bakti anak-anaknya, para pramuka Indonesia. Salam Lestari !

Artikel Terkait