Mahasiswa
3 tahun lalu · 505 view · 4 menit baca · Lainnya artikel_isramiraj1.jpg
Foto: liburnasional.com

Isra Mi’raj dan Piknik Satu Malam

Tahun 2007 silam, sewaktu saya ‘nyantri’ di Pondok Pesantren Cilenga, Tasikmalaya, kitab Qishah al-Mi’râj menjadi satu-satunya kitab yang wajib dikaji di setiap malam peringatan Isra Mi’raj. Dan pada malam peringatan tahun ini, saya mendapat informasi bahwa kitab tersebut pun dikaji kembali.

Qishah al-Mi’râj merupakan kitab yang dikarang oleh Syaikh Najmuddin al-Ghaithi. Para santri di pondok saya akrab menyebut kitab itu dengan sebutan ‘Dardir’ dan/atau ‘Bainamâ’. Tentu saja, isi kitab tersebut bercerita tentang perjalanan Isra dan Mi’raj-nya Nabi Muhammad.

Waktu itu, saat Kang Ajéngan Agus Ramdhani (Pimpinan Pondok) membaca dan menerjemahkan kalimat per kalimat kitab tersebut, saya diajak olehnya berimajinasi dan masuk ke dalam alur ceritanya secara utuh dan menyeluruh. Muhammad, Jibril, Mika’il, Burâq, Iblis, merupakan aktor-aktor utama yang mengisi alur cerita perjalanan yang maha-dahsyat itu.

Diangkat berdasarkan hadits-hadits sahih, rupanya Syaikh Najmuddin ingin menggambarkan perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad secara utuh, mulai dari titik awal keberangkatannya yaitu Makkah, kemudian ke tanah Palestina, dan kemudian menembus langit menuju Sidrah al-Muntaha.

Sekadar informasi, kami (para santri) mengkaji dan meng-khatam-kan kitab itu semalam suntuk, mulai dari setelah salat Isya, sampai fajar siap menyapa.

Bagi kami, saat itu, informasi dan gambaran prihal Isra Mi’raj Nabi Muhammad yang bersumber dari kitab tersebut sudah lebih dari cukup untuk memperkuat keimanan akidah perihal kebenaran peristiwa itu. Saat itu pun kami tidak bertanya apakah benar Muhammad mampu melakukan perjalanan dari Makkah ke Palestina (Isra) kemudian dari Bait al-Maqdis ke Sidrah al-Muntaha (Mi’raj) hanya dengan sebagian waktu malam saja.

Kebenaran dan keutuhan peristiwa Isra Mi’raj secara faktual-historis tidak lebih penting daripada internalisasi nilai dan penghayatan atas ke-nubuwwah-an yang melekat dan tumbuh di dalam jiwa kami sebagai umat muslim. Itulah yang saya alami dan rasakan waktu itu.

Namun saat ini, muncul pertanyaan-pertanyaan skeptis; apakah peristiwa Isra Mi’raj itu benar adanya? Jika benar, apakah yang melakukan perjalanan itu jiwa-raga Muhammad dan/atau roh Muhammad saja? Dan apakah saat berhasil mencapai Sidrah al-Muntaha, Muhammad berjumpa dengan Allah dalam wujud sejatinya?

Untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut memang tidaklah mudah, dibutuhkan penjelasan logis dan rasional sehingga kebenarannya pun dapat dipertangungjawabkan.

Perihal Isra, al-Qur`an menjelaskannya di dalam surah al-Isra ayat pertama, yang artinya: “Maha suci zat yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Mejid al-Haram ke Mesjid al-Aqsa yang sekelilingnya telah kami berkahi, supaya kami perlihatkan kepadanya tanda-tanda Kami. Sunguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Sedangkan Mi’raj, dalilnya bisa kita jumpai dalam al-Qur`an surat al-Najm ayat 13-18: “Maka apakah kaum (musyrik Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidrah al-Muntaha.”

“Di dekatnya ada surga tempat tinggal. Ketika Sidrah al-Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”

Karena Muhammad adalah makhluk fisik yang dalam waktu singkat mampu bergerak – dari Makkah ke Palestina kemudian menembus langit menuju Sidrah al-Muntaha—melampaui ukuran gerak kecepatan cahaya, maka penjelasan secara saintifis silahkan anda bedah melalui pendekatan teori relativitas dan/atau teori mekanika kuantum.

Namun pada dasarnya, saya ingin menggarisbawahi bahwa peristiwa tersebut merupakan bagian dari apa yang dinamakan mukjizat kenabian. Sama seperti Ibrahim yang kebal dibakar api, Musa membelah lautan, dan/atau Sulaiman yang terbang di atas angin. Hal itu nyata, walau sepintas tak ternalar logika. Namun mukjizat selalu terjadi di luar hukum alam (khawariq al-‘adat) yang biasanya. Apakah mungkin? Mungkin saja!

Kembali ke dua ayat al-Qur`an di atas. Pesan yang saya tangkap dari kedua ayat tersebut bahwa inti dari Isra dan Mi`raj adalah Tuhan ingin mengajarkan kepada Muhammad tentang berbagai macam tanda (âyât) baik yang ada di bumi maupun di langit.

Dalam perjalanannya, Muhammad berjumpa dengan banyak tanda, yang tentu bahwa setiap tanda pasti merujuk kepada sesuatu yang ditandai. Tersembunyi makna atas setiap tanda yang ada.

Bagi manusia beriman, tanda-tanda itu dimaknai sebagai bukti bahwa Allah itu Ada dengan segala ke-Maha-annya. Dan bagi manusia berilmu, tanda-tanda itu menjadi sumber inspirasi, ia dipelajari, dianalisa dan verifikasi kebenarannya, walau di-ending cerita prihal iman atau kafir, pilihannya ada ada di tangan mereka.

Perlu dicatat, bahwa pengetahuan kita tentang Isra Mi’raj itu bersumber dari pengakuan langsung Muhammad, bahwa hal itu adalah pengalaman empiris yang benar-benar ia alami.

Mengutip pernyataan Ibn Sina, bahwa setiap sabda yang diujarkan nabi itu merupakan suatu bentuk pengetahuan yang mengandung nilai-nilai kebenaran. Dan di dalam Nomoi, Plato menyebutkan bahwa orang yang tidak mengerti setiap rumusan yang diajarkan para Nabi, mereka belumlah mencapai rahasia tentang ilmu Tuhan.

Jadi, apakah anda perlu melakukan dan mengalami dahulu perjalanan dari Ciputat ke New York hanya dalam batas waktu satu jam, kemudian anda baru percaya bahwa Isra Mi’raj itu benar-benar nyata? Semoga anda tidak sedang berimajinasi melakukan perjanalan malam yang sama seperti itu. Karena piknik tak secepat itu, bung!

Artikel Terkait