Why do people have to be this lonely? Was the earth put here just to nourish human loneliness? (Haruki Murakami - Japanese Writer)

Wabah Covid-19 memaksa manusia di kesendirian. Perilaku mengisolasi diri, yang suka atau tidak, terpaksa harus dipraktikkan. Hubungan sosial manusia pun direduksi. Sementara kodratnya manusia adalah hewan bersosialisasi (humans are social animals). Sama seperti kita dianugerahi dua lengan dan kaki, manusia lahir dengan kecenderungan tidak memisahkan diri.

Tapi tengoklah, praktik isolasi diri adalah juga bagian dari sejarah perjalanan manusia. Orang-orang Yunani kuno melalui doktrin "hari-hari kritis" sebagai ilmu pengamatan yang tajam melakukan isolasi bersama. Pada peradaban kuno Nepal di bawah Dinasti Malla terdapat praktik budaya mengasingkan diri. Masyarakat di Acham, Nepal, malah sengaja mengarantina wanita yang datang bulan.

Dalam Perjanjian Lama beberapa ayatnya memerintahkan isolasi bagi penderita kusta. Sementara meski secara konteks berbeda, umat Islam yang akrab dengan dunia tasawuf mengenal praktik mengasingkan diri dalam konsep uzlah, khalwat, infirad, atau riyadhah.

Dan tentang karantina, tercetus kali pertama pelabuhan Adriatic, Ragusa, kini dikenal sebagai Dubrovnik. Pada 1348, saat wabah pes menyebar di Venesia. Dan otoritas mengeluarkan aturan agar penumpang kapal yang terinfeksi diam di jangkar selama 30 hari. 

Praktik ini disebut trentino yang berasal dari bahasa Italia 30 (trenta). Tapi isolasi trenta 30 hari tidak cukup, hingga harus diperpanjang jadi 40 hari. Dari sinilah istilah karantina ada. Dari bahasa Italia untuk 40 (quaranta).

Lalu, makna karantina berevolusi sebagai "upaya penahanan dan pemisahan manusia atau hewan yang diduga membawa penyakit menular." Bahkan dianggap sebagai periode isolasi penyendirian yang rawan depresi dalam jangka panjang.

Kesendirian kronis memicu peningkatan hormon dengan tingkat peradangan relatif tinggi. Kesendirian menyumbang pengaruh yakni rusaknya pembuluh darah hingga peningkatan risiko obesitas, diabetes, penyakit sendi, penyakit jantung, hingga kematian dini.

Serawan itukah mencelupkan diri mengisolasi dalam sepi? David Vincent mencatat aksi mengisolasi diri kali pertama dilakoni Harriet Martineau pada zaman Victoria Awal 1839. Martineau menderita sakit gangguan ovarium dan harus mengisolasi diri di sebuah rumah kecil di Tynemouth.

Sebagai ortodoksi Martineau menolak doktrin yang berlaku kala itu, bahwa timbulnya penyakit mematikan harus ditangani melalui refleksi spiritual di bawah bimbingan abdi Allah. Namun sebaliknya, Martineau berpendapat gangguan ovarium adalah momen untuk menegaskan kontrol atas perilaku hidup mereka.

Kita mungkin berpikir kesepian adalah kebingungan yang tidak pasti.  Stay at home semacam rekayasa sepi secara konstitusional. Tapi kesendirian dengan gejala kesepian bersifat universal dan perlu. Each of us lives alone within the realm of our own mind, nestled inside our cocoons and fantasies.

Dan dewasa ini, perubahan gaya hidup dan struktur sosial membuat kesendirian menjadi seksi. Data menunjukkan pelancong sendiri/solo traveler menurut Visa Global Travel Intention kecenderungannya terus meningkat, terutama milenial yang mengambil gap year

Satu dari lima orang mereka lebih memilih berpetualang sendirian. Melakukan perjalanan “sepi dan sendiri” enak dijalani selain meningkatkan percaya diri.

Dengan makin meningkatkan partisipasi perempuan di era kontemporer ini, sekitar 80 persen dari pelancong soliter adalah kaum hawa. Sejarah mencatat, perempuan memang lebih rajin melakukan perjalanan solo ketika berziarah ke Tanah Suci atau Yerusalem. Dan beberapa tahun terakhir ini, negara-negara di Asia Tenggara makin populer menjadi destinasi impian para solo traveler.

Boorstin, D.J. dalam The Lost  Art of Travel membedakan traveler sebagai petualang dengan turis wisatawan. Menurutnya tourist lebih pasif dan cenderung hanya pleasure-seeker. Sementara traveler lebih independen dan aktif, mereka bahkan rela bersusah payah demi mendapat pengalaman. Kesenangan pada turis bersifat pseudo, sementara traveler lebih nyata.

Di tengah dunia sosial yang begitu intens, memilih terioslasi dalam perjalanan sendiri tidak mudah. Secara tipologi, mereka solo traveler ada yang berpetualang secara individu karena tidak memiliki pendamping satu perjalanan (solo tarvel by-default). Dan ada petualang solo super independen yang sangat antusias melakukan perjalanan solo karena pilihan perjalananya (solo tarvel by-choice). 

Petualang individu umumnya seseorang yang kuat akan nilai-nilai internalnya. Selain mereka hate being organised by others, investasi sukses mereka adalah tercapainya novelty pengalaman yang mereka rancang sendiri. 

Travel independently, meet and try to talk to people, observe how the people in that particular destinations. It what does broaden your experience and personality. 

Lalu, bagaimana dengan Martineau. Selama masa isolasi, selain merenungi penyakitnya ia melakukan semacam rekreasi domestik: menanam bunga, berlatih menjahit, membaca buku/koran dan menulis. Usai lima tahun mengisolasi diri, Martineau melahirkan sebuah karya: Life in the Sick-Room: Essays by Invalid. Sebuah isolasi mandiri yang produktif.

Ref: