Tepat satu minggu lalu, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) kedatangan tamu dari Inggris. Mereka berasal dari sejumlah komunitas muslim yang gencar mengkampanyekan wajah Islam yang ramah. Pasalnya, sebagaimana di daratan Eropa lainnya, di Inggris pun gelombang Islamofobia kian deras.

Adapun Saya sore itu kebetulan saja sedang ada keperluan untuk mengunjungi Cempaka Putih Barat. Melihat tema perbincangan yang menarik antara para tamu dan ketua umum ICRP Mas Ulil Abshar Abdalla, maka Saya pun tidak bisa berlalu saja. Saya duduk dan menikmati perbincangan.

Tiada lain dan tiada bukan, para tamu ini memang membincang seputar diskriminasi yang menimpa komunitas muslim di Britania Raya. Dalam “ajang” keluh kesah itu, sejumlah perkara mereka paparkan. Mulai dari isu rasial hingga kecilnya ruang bagi komunitas muslim untuk menyanggah pandangan kelompok-kelompok ekstrem.

Salah satu tema menarik di antaranya adalah terkait peran media. Media di Inggris, kata salah seorang perwakilan,  jarang memberikan forum klarifikasi bagi umat Islam yang moderat manakala terjadi kekerasan dengan mendompleng Islam sebagai alat “perjuangan”.

Namun ironinya, menurut lelaki yang berkemeja lengan panjang itu, ketika serangan teror  media-media di Inggris malah memberikan panggung bagi orang ekstrim seperti Anjem Choudary. Kondisi ini, terangnya, menambah stigma bahwa Islam memang agama teror.

Selain berkeluh kesah tentang nasib umat Islam yang sering terdiskriminasi di Britania Raya, mereka mengaku kunjungan kali ini ingin melihat wajah Islam Indonesia. Sebagai the smiling moslem country, Indonesia dianggap mereka merupakan negara penting untuk berbagi pengalaman dan pelajaran.

Memang sekilas siapa pun di Barat akan bertanya bagaimana bisa Islam bersanding dengan demokrasi di Indonesia sementara tidak di hampir semua negara muslim lainnya?

Mas Ulil dengan senang hati berbagi cerita soal kebijaksanaan dari para ulama NU dan Muhammadiyah sejak Republik ini berdiri. Meski pada perkembangannya,  ada riak yang tak diduga, Mas Ulil tampak yakin benar bahwa there is light at the end of the tunnel. Islam Indonesia adalah role model atau inspirasi bagi negara-negara muslim lainnya.

Optimisme beliau menyeret memori saya setahun lalu saat Duta Besar Inggris untuk Indonesia H.E. Mr. Moazzam Malik berkunjung ke ICRP.  Saat itu, Mas Ulil berharap selain Pak Moazzam ini menjadi duta besar Inggris namun juga Ia berharharap Dubes Inggris kelahiran Pakistan itu sedia hati untuk menjadi duta besar bagi wajah Islam Nusantara di Britania Raya.   

Mengenalkan citra Islam di Indonesia ke penjuru dengan segala warna yang elok itu bisa jadi memang membantu muslim di daratan Eropa mengklarifikasi segenap tudingan. Mencitrakan Indonesia sebagai tempat di mana Islam bersandingan hidup selaras dengan warga beragama apa pun boleh jadi menguntungkan bagi Muslim Benua Biru.

Singkatnya, secara tidak langsung citra Islam Nusantara yang Berkemajuan di tanah air bisa membantu mengurangi kadar Islamofobia di Eropa.

Namun demikian, pencitraan tetaplah sebuah polesan yang sebatas menyamarkan sejumlah riak. Kita tahu sendiri Indonesia pada kenyataannya tidaklah semanis yang dilontarkan para diplomat kita. Bejibun persoalan kebebasan beragama bukanlah perkara yang telah tuntas saat Republik ini merdeka.

Belakangan perkembangannya justru makin suram. Media-media nasional nyatanya seperti di Inggris yakni lebih senang wajah Islam yang gemar menunjukan kebengisan dipertontonkan ke publik.

Tepat tadi malam, pada acara di salah satu stasiun televisi nasional Wakil Sekretaris Jendral Majelis Ulama Indonesia Tengku Zulkarnain menyatakan bahwa pernyataan cagub Basuki Tjahaja Purnama yang mengutip ayat di Quran punya konsekuensi yang berat. Tidak main-main, menurut ulama ini Basuki pantas untuk dihukum mati jika berdasar syariat.

Saya tidak tahu apakah pernyataan ulama satu ini mewakili MUI atau tidak yang jelas bahwa televisi swasta tersebut terang-terangan memberikan panggung bagi citra Islam Bengis. Wajah Islam yang seperti  kita lihat dari sosok Anjem Choudary dan Kelompok teroris pimpinan Al-Baghdadi.

Itu hanya salah satu contoh kecil wajah buram Islam di media televisi kita. Tak terhitung banyaknya pernyataan mengerikan dari para pemuka agama di media sosial, portal berita daring, hingga khotbah jumat masjid di ibu kota. Entah karena pemahaman agama atau sebatas nafsu birahi politik yang tak kentara, Islam kemarin malam begitu suram. Kebengisan beberapa abad lampau seolah ingin kita ulang untuk menunjukan kejayaan dan kedigdayaan Islam.

Tidakkah orang-orang semacam Tengku Zulkarnain punya pikiran panjang ke depan? Coba saja bayangkan jika berbagai kebengisan itu sampai ke Benua Biru. Kedunguan itu kemudian diolah sedemikian rupa oleh ekstrem kanan di Eropa.

Kebengisan itu akan menjadi bensin bagi bara kebencian ekstrim kanan pada muslim di Eropa. Walhasil Islamofobia kian mengada. Ujaran-ujaran dari ulama macam Tengku Zulkarnain akan mengafirmasi bahwa Islam memang lekat dengan hal-hal mengerikan.