Islam sebagai alternatif paradigma Ilmu pengetahuan menerapkan nilai-nilai yang dijadikan sebagai sudut pandang dalam menganalisa persoalan-persoalan yang berkaitan dengan gejala-gejala ilmu pengetahuan. Dalam kerangka ini kedudukan Islam memiliki urgensi untuk dijadikan sebagai paradigma.

Badri Yatim mengutip pandangan Soekarno dalam bukunya Soekarno, Islam, dan Nasionalisme bahwa ajaran-ajaran Islam merupakan ajaran-ajaran kemajuan, rasional dan kesamarataan di kalangan manusia. 

Kemudian dengan ajaran-ajaran tersebut, masyarakat Islam dilanjutkan oleh pengikut. Semangat keterbukaan dan semangat menuntut ilmu pun berkembang. 

Kegiatan-kegiatan ilmiah dimulai dari buku-buku berbahasa asing; Yunani, Romawi, Persia dan India, diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab.

Hal tersebut menunjukkan Islam memang begitu urgen untuk menjadi pondasi keilmuan. Melihat di Barat pertentangan Agama dengan Ilmu kurang harmonis.

Spirit yang sama, disampaikan Ali Syari'ati bahwa di abad ke-20 banyak kelompok pemuja ilmu pengetahuan yang meninggalkan agama. 

Hal ini tidak terlepas dari paradigma mereka khususnya di Barat yang terlalu mengagungkan ilmu pengetahuan. Paradigma yang lahir dari kerangka epistemologis akan menentukan ilmu dalam praktiknya.

Dengan melihat fakta hari ini, ilmu sering disalahgunakan sebab nilai-nilai kemanusiaan tereduksi oleh pihak berkepentingan. Perbudakan, eksploitasi, perdagangan manusia dan lain sebagainya.

Islam sebenarnya menyediakan kerangka yang lebih baik, dimana ilmu harus digunakan sebagaimana mestinya. Meminjam istilah Nurcholis Madjid, atau Caknur, ilmu semestinya dijadikan alat untuk menuju kebenaran mutlak. Dengan kata lain, ilmu harus menjadi sarana untuk mencapai nilai-nilai ke-Tauhid-an.

Landasan Ilmu Pengetahuan

Kata ilmu berasal dari bahasa Arab ‘ilm (‘alima-ya’lamu-‘ilm), yang berarti pengetahuan (al-ma’rifah), kemudian berkembang menjadi pengetahuan tentang hakikat sesuatu yang dipahami secara mendalam. 

Dari asal kata ‘ilm ini selanjutnya di-Indonesia-kan menjadi ‘ilmu’ atau ‘ilmu pengetahuan’. Dalam perspektif Islam, ilmu merupakan pengetahuan mendalam hasil usaha yang sungguh-sungguh (ijtihad) dari para ilmuwan muslim atas persoalan-persoalan duniawi dan ukhrawi dengan bersumber kepada wahyu Allah SWT.

Al-Qur’an dan Al-Hadits merupakan wahyu Allah yang berfungsi sebagai petunjuk bagi ummat manusia, termasuk dalam hal ini adalah petunjuk tentang ilmu dan aktivitas ilmiah. 

Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat istimewa terhadap aktivitas ilmiah. Terbukti, ayat yang pertama kali turun berbunyi ; “Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan”. 

Di sini, membaca dimaksudkan dalam artinya yang luas. Yakni aktivitas utama dalam kegiatan ilmiah. Di samping itu, kata ilmu yang telah menjadi Bahasa Indonesia bukan sekedar berasal dari bahasa Arab, tetapi juga tercantum dalam Al-Qur’an. Kata ilmu disebut sebanyak 105 kali dalam Al-Qur’an. 

Sedangkan kata jadiannya disebut sebanyak 744 kali. Kata jadian yang dimaksud adalah; ‘alima (35 kali), ya’lamu (215 kali), i’lam (31 kali), yu’lamu (1 kali), ‘alim (18 kali), ma’lum (13 kali), ‘alamin (73 kali), a’lam (3 kali), ‘a’lam (49 kali), ‘alim atau ‘ulama (163 kali), ‘allam (4 kali), ‘allama (12 kali), yu’limu (16 kali), ‘ulima (3 kali), mu’allam (1 kali), dan ta’allama (2 kali).

Selain kata ilmu, dalam Al-Qur’an juga banyak disebut ayat-ayat yang secara langsung atau tidak, mengarah pada aktivitas ilmiah dan pengembangan ilmu, seperti perintah untuk berpikir, merenung, menalar, dan semacamnya.

Misalnya, perkataan ‘aql (akal) dalam Al-Qur’an disebut sebanyak 49 kali, sekali dalam bentuk kata kerja lampau, dan 48 kali dalam bentuk kata kerja sekarang. Salah satunya adalah ; “Sesungguhnya seburuk-buruk makhluk melata di sisi Allah adalah mereka (manusia) yang tuli dan bisu, yang tidak menggunakan akalnya”. Kata fikr (pikiran) disebut sebanyak 18 kali dalam Al-Qur’an, sekali dalam bentuk kata kerja lampau dan 17 kali dalam bentuk kata kerja sekarang. 

Salah satunya adalah ; “…mereka yang selalu mengingat Allah pada saat berdiri, duduk maupun berbaring, serta memikirkan kejadian langit dan bumi”.

Tentang posisi ilmuwan, Al-Qur’an menyebutkan ; “Allah akan meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu beberapa derajat.

Di samping Al-Qur’an, dalam Hadits Nabi banyak disebut tentang aktivitas ilmiah, keutamaan penuntut ilmu/ilmuwan, dan etika dalam menuntut ilmu. 

Misalnya, hadits-hadits yang berbunyi ; “Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap muslim dan muslimah” (HR. Bukhari Muslim).

"Barang siapa keluar rumah dalam rangka menuntut ilmu, malaikat akan melindungi dengan kedua sayapnya” (HR. Turmudzi). 

"Barang siapa keluar rumah dalam rangka menuntut ilmu, maka ia selalu dalam jalan Allah sampai ia kembali” (HR. Muslim). 

"Barang siapa menuntut ilmu untuk tujuan menjaga jarak dari orang-orang bodoh, atau untuk tujuan menyombongkan diri dari para ilmuwan, atau agar dihargai oleh manusia, maka Allah akan memasukkan orang tersebut ke dalam neraka” (HR. Turmudzi).

Sumber, Sarana dan Metode Ilmu Pengetahuan

Pembicaraan tentang sumber, sarana, dan metode ilmu pengetahuan dalam Filsafat Ilmu dikenal dengan epistemologi atau teori ilmu pengetahuan, yang di dalamnya selalu membicarakan dua hal; apa itu pengetahuan? Dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan? Yang pertama terkait dengan teori dan isi ilmu, sedangkan yang kedua berkenaan dengan metodologi.

Terkait dengan pertanyaan pertama, apa itu pengetahuan?, epistemologi Islam menjawab bahwa pengetahuan ilmiah adalah segala sesuatu yang bersumber dari alam fisik dan non-fisik. 

Dengan demikian menjadi jelas bahwa sumber pengetahuan dalam Islam adalah alam fisik yang bisa diindera dan alam metafisik yang tidak bisa diindera seperti Tuhan, malaikat, alam kubur, alam akhirat. Alam fisik dan alam non-fisik sama bernilainya sebagai sumber ilmu pengetahuan. 

Dengan demikian, sesuatu yang bersifat non-inderawi, non-fisik dan metafisik tidak termasuk ke dalam obyek yang dapat diketahui secara ilmiah.

Berkenaan dengan problema epistemologi yang kedua, bagaimana ilmu pengetahuan diperoleh? Terdapat perbedaan antara Islam dan Barat. 

Dalam epistemologi Islam, ilmu pengetahuan bisa dicapai melalui tiga elemen ; indera, akal dan hati. Ketiga elemen ini dalam praktiknya diterapkan dengan metode berbeda; indera untuk metode observasi (bayani), akal untuk metode logis atau demonstratif (burhani), dan hati untuk metode intuitif (‘irfani).

Dengan panca indera, manusia mampu menangkap obyek-obyek inderawi melalui observasi, dengan menggunakan akal manusia dapat menangkap obyek-obyek spiritual (ma’qulat) atau metafisik secara silogistik, yakni menarik kesimpulan tentang hal-hal yang tidak diketahui dari hal-hal yang telah diketahui. 

Dengan cara inilah akal manusia, melalui refleksi dan penelitian terhadap alam semesta, dapat mengetahui Tuhan dan hal-hal gaib lainnya. 

Melalui metode intuitif atau eksperiensial (dzauq) sebagaimana dikembangkan kaum sufi dan filosof iluminasionis (isyraqiyah), hati akan mampu menangkap obyek-obyek spiritual, keduanya memiliki perbedaan fundamental secara metodologis dalam menangkap obyek-obyek tersebut. 

Sebab sementara akal menangkapnya secara inferensial, intuisi menangkap obyek-obyek spiritual secara langsung, sehingga mampu melintas jantung yang terpisah lebar antara subyek dan obyek.

Jika ilmu pengetahuan dalam Islam bisa dicapai melalui tiga sumber/alat; indera, akal budi, dan hati, maka dalam epistemologi Barat, pengetahuan ilmiah hanya bisa diraih melalui indera dan akal. 

Penggunaan kedua alat ini sebagai sumber ilmu pengetahuan didahului konflik tajam ilmuwan Barat selama kurang lebih dua abad. Konflik tersebut tercermin dalam dua aliran filsafat, yakni Rasionalisme dan Empirisme. 

Rasionalisme yang dipelopori Rene Descartes (1596-1650) berpandangan bahwa sumber pengetahuan yang dipandang memenuhi syarat ilmiah adalah akal budi. Akal merupakan satu-satunya sumber pengetahuan yang benar. 

Pengetahuan yang diperoleh melalui akal tidak mungkin salah. Sementara itu empirisme berpendapat bahwa sumber satu-satunya pengetahuan manusia adalah pengalaman inderawi, yakni pengalaman yang terjadi melalui dan berkat bantuan panca indera. 

Dalam pandangan kaum empiris, panca indera memainkan peranan penting dibanding akal budi karena ; pertama, semua proposisi yang diucapkan manusia merupakan hasil laporan pengalaman. 

Kedua, manusia tidak memiliki konsep atau ide apapun tentang sesuatu kecuali yang didasarkan pada apa yang diperoleh dari pengalaman. Ketiga, akal budi hanya bisa berfungsi apabila memiliki acuan ke realitas atau pengalaman.

Konflik antara pendukung rasionalisme dan empirisme akhirnya bisa didamaikan oleh Immanuel Kant dengan melakukan sintesis terhadap keduanya, yang kemudian disebutkan dengan kritisisme atau rasionalisme kritis.

Menurut Kant terdapat dua unsur penting yang ikut melahirkan pengetahuan manusia, yaitu ; pancaindera dan akal budi. Semua pengetahuan manusia tentang dunia bersumber dari pengalaman inderawi. 

Namun akal budi ikut menentukan bagaimana manusia menangkap fenomina di sekitarnya, karena dalam akal budi sudah ada “kondisi-kondisi” tertentu yang memungkinkan manusia menangkap dunia sebagaimana adanya.

Kondisi-kondisi tersebut mirip dengan kacamata yang dipakai seseorang ketika melihat berbagai obyek di sekitarnya. Kacamata itu sangat mempengaruhi pengetahuan orang tersebut tentang obyek yang dilihat.

Aktualisasi Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Islam

Sejak dalam tahap-tahap pertama pertumbuhannya ilmu sudah dikaitkan dengan tujuan perang. Ilmu bukan saja digunakan untuk menguasai alam melainkan juga untuk memerangi sesama manusia dan menguasai mereka. Bukan saja bermacam-macam senjata pembunuh berhasil dikembangkan namun juga berbagai teknik penyiksaan dan cara memperbudak massa. 

Di pihak lain, perkembangan ilmu sering melupakan faktor manusia, dimana bukan lagi teknologi yang berkembang seiring dengan perkembangan dan kebutuhan manusia, namun justru sebaliknya; manusialah akhirnya yang harus menyesuaikan diri dengan teknologi. 

Teknologi tidak lagi berfungsi sebagai sarana yang memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia melainkan dia berada untuk tujuan eksistensinya sendiri. Sesuatu yang kadang-kadang harus dibayar mahal oleh manusia yang kehilangan sebagian arti dari kemanusiaannya . 

Manusia sering dihadapkan dengan situasi yang tidak bersifat manusiawi, terpenjara dalam kisi-kisi teknologi, yang merampas kemanusiaan dan kebahagiaanya.

Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri. 

Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasi namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri, atau dengan perkataan lain, ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri.

Kita melihat adanya kelompok yang memuja ilmu pengetahuan Agama dari golongan terdidik dan cendekiawan sekarang ini, tidak mempunyai perasaan agama dan kepercayaan agama. 

Karena itu sesuai dengan hukum ini pada umumnya golongan terdidik tidak beragama pada era ini. Karena agama mengikat kepercayaan dan dasar dari orang-orang biasa dalam era baru, tetapi jika menentang zaman pertengahan di mana cendekiawan semuanya beragama, sekarang mereka memuja ilmu pengetahuan. Sebagai pengikut-pengikut pemujaan ilmu pengetahuan.

Ideologi dari semua golongan baru yang terdidik ini adalah memuja ilmu pengetahuan, yang bertentangan perintah dan kepercayaan agama dalam dogma, resolusi dan dasar-dasar dari ketaatan agama yang harus dipenuhi tanpa ada perdebatan.

Salah satu hal yang tampak pada orang-orang biasa yang berada pada zaman pertengahan, dasar pemujaan dari golongan baru yang memuja ilmu pengetahuan. Ketika mereka melihatnya, kita melihat hal itu benar-benar berasal dari abad ke-17 yang terus berlaku sampai saat ini. 

Jika golongan terdidik tumbuh lebih dekat dengan dasar dan tujuan pemujaan ilmu pengetahuan menimbulkan akibat mereka menolak segala hal yang bersumber dari agama, dan untuk perluasannya yang sama, era yang baru yang terdidik ini semakin menjauhi masa, semakin terasing.

Menghadapi kenyataan seperti ini, ilmu yang pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya; untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana perkembangan keilmuan harus diarahkan? 

Pertanyaan semacam ini jelas tidak menyatakan urgensi bagi ilmuwan seperti Copernicus, Galileo, dan ilmuwan seangkatannya; namun bagi ilmuwan yang hidup dalam abad ke-20 yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup dalam bayangan kekhawatiran perang dunia ketiga, pertanyaan-pertanyaan ini tak dapat dielakkan. Dan untuk menjawab pertanyaan ini maka ilmuwan berpaling pada hakikat moral.

Tahap penerapan konsep terdapat masalah moral ditinjau dari segi aksiologi keilmuan. Aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.

Jadi dalam aktualisasi konsep Islam sebagai paradigma ilmu pengetahuan ialah menempatkan kerangka ontologis, epistemologis, dan aksiologisnya berlandaskan Islam. Mengkaji apa saja dengan kaca mata Islam (Al-Qur’an dan Hadits).