Di Indonesia, istilah "Islam moderat" kerap kita jumpai dalam berbagai bentuk tulisan, seperti buku, media online, media, cetak dan sebagainya, yang ditulis, baik dari kalangan cendekiawan muslim maupun dari pengkaji keislaman yang lain.

Secara umum, istilah "Islam moderat" diantonimkan dengan istilah "Islam radikal". Sehingga Islam moderat dalam pengertiannya yang lazim kita kenal sekarang adalah corak pemahaman Islam yang menolak cara-cara kekerasan yang dilakukan oleh kalangan lain yang menganut paham atau model Islam radikal.

Dalam kesempatan ini, penulis mengambil sebuah pendapat dari seorang mantan kelompok Islam radikal di Mesir, al-Jamaah al-Islamiyah, bernama Taufik Hamid. Ia mendefinisikan Islam moderat sebagai Islam yang menolak secara tegas hukum-hukum agama yang membenarkan adanya kekerasan dan diskriminasi.

Definisi Hamid tersebut, bagi sebagian kalangan muslim, mungkin dianggap terlalu ‘liberal’, sebab menganjurkan autokritik terhadap hukum-hukum dalam Islam yang ia anggap sudah tak relevan saat ini.

Namun, di sisi lain, sebagai mantan anggota kelompok Islam radikal yang sudah bertobat, Taufik Hamid memahami betul bahwa, dalam Islam, memang ada beberapa hukum yang bisa sangat rentan disalah-gunakan dalam membenarkan tindakan radikalisme, terorisme, atau kekerasan secara umum.

Contoh yang mudah kita temukan saat ini adalah hukum tentang ‘jihad’ dengan segala pernak-perniknya. Bagi Hamid, Islam moderat sebagai antitesis Islam radikal adalah model Islam yang menolak kekerasan semacam itu.

Islam Moderat dalam Alquran

Dalam literatur bahasa Arab, padanan untuk kata moderat atau moderasi adalah ‘wasath’ atau ‘wasathiyah’. Istilah ‘muthawassit’ kadang-kadang juga dipakai. Sehingga Islam moderat dalam bahasa Arab disebut sebagai ‘al-Islam al-wasath’. Sedang moderasi Islam diungkapkan dengan frasa ‘wasathiyat al-Islam’.

Namun yang menarik saat ini adalah usaha dari banyak kalangan intelektual muslim kontemporer untuk mengaitkan konsep Islam moderat ini dengan konsep ‘wasath’ yang ada di dalam Alquran.

Dalam Alquran, terdapat sebuah ayat pamungkas yang banyak dikutip oleh kalangan intelektual muslim untuk menunjukkan watak dasar umat Islam sebagai umat yang ‘tengah-tengah’ atau biasa disebut sebagai ‘ummatan wasatha’. Yakni, pada QS. Al-Baqarah[2]: 143: 

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ‘umat pertengahan’ agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”.

Kata ‘wasath’ pada ayat tersebut mulanya berarti ‘segala yang baik sesuai dengan objeknya’. Sesuatu yang baik berada pada posisi di antara dua ekstrem. 

Seperti keberanian adalah pertengahan dari sifat ceroboh dan takut. Kedermawanan merupakan pertengahan sikap boros dan kikir. Kesucian merupakan pertengahan antara kedurhakaan karena dorongan nafsu yang menggebu dan impotensi. Dari sini, kata ‘wasath’ berkembang maknanya menjadi ‘tengah’.

Di sisi lain, jika seseorang menghadapi dua pihak yang berseteru, maka ia dituntut untuk menjadi ‘wasith’ (wasit), yaitu berada pada posisi tengah agar ia berlaku adil. Dari sini, lahir pulalah konsep lain dari kata ‘wasath’ yang berarti adil.

Jika kita mencermati lebih lanjut dari potongan ayat di atas, ada yang lebih menarik dari konsep ‘wasath’ yang di mana kemudian dikaitkan dengan konsep ‘syuhadah’ (persaksian). 

Dan jika kita mengikuti maknanya secara harfiah, pengertian yang bisa kita peroleh dari sana adalah bahwa umat Islam dijadikan oleh Tuhan sebagai umat yang ‘wasath’ (tengah-tengah, adil dan baik), karena mereka mendapatkan tugas sejarah yang penting, yaitu menjadi teladan dan patron bagi umat yang lain, dan pada saat yang sama mereka menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai patron teladan dan saksi pembenaran bagi semua aktivitasnya.

Hal tersebut menunjukkan sebuah jawaban atas keunggulan umat Islam dari umat-umat yang lain, sehingga Alquran menyebutkan umat Islam sebagai “khair al-ummah” (umat terbaik). 

Rahasia keunggulan ini terdapat dalam sikap umat Islam yang mengambil jalan tengah sehingga menyebabkan mereka tidak hanyut dalam ‘materialisme’, dan tidak pula mengantarnya membumbung tinggi ke alam ruhani, sehingga tidak lagi berpijak di bumi.

Keberadaan umat Islam dalam posisi tengah (moderat) menjadikan mereka mampu memadukan antara aspek ruhani dan jasmani, aspek meterial dan spritual dalam segala sikap dan aktivitas. 

Jadi, konsep ‘wasath’ dalam Alqur’an yang kemudian menjadi patron sebagai konsep ‘moderat’ menunjuk kepada umat Islam yang posisinya senantiasa berada ditengah, agar dilihat oleh semua pihak dan dari segala penjuru.

Dengan demikian, konsep Islam moderat dalam Alquran, mengundang umat Islam untuk berinteraksi, berdialog, dan terbuka dengan semua pihak (agama, budaya, dan peradaban), karena mereka tidak dapat menjadi saksi maupun berlaku adil jika mereka tertutup atau menutup diri dari lingkungan dan perkembangan global.