Tepat malam ke tiga bulan Ramadhan, saya, bapak saya, dan beberapa tetangga memilih bercengkrama di teras rumah setelah bertadarus di musala sebelah. Tidak ada tema khusus yang kami perbincangkan, ngalur-ngidul tanpa alur, dan bahkan jauh dari kata ilmiah. Namun, perbincangan itu sungguh sangat bermakna bagi kami.

Bermula dari salah satu tetangga yang curhat tentang kondisi perekonomian rumah tangganya. Tak sepeser pun uang dia miliki di bulan Ramadhan ini. “Untung masih ada jagung yang bisa saya jual untuk memenuhi kebutuhan di bulan Ramadhan,” katanya.

Lantas kemudian, dia menceritakan keinginannya untuk merantau ke Yogyakarta setelah bulan Ramadhan. Mau berjualan di sana. Entah apa yang mau dijual, dia tidak menjelaskannya secara detail.

“Kenapa tidak ke Jakarta saja? Peluang kerja dan bisnis lebih luas di sana,” saran bapak saya.

Dia menjawab, “Ah, takut ke Jakarta. Nanti ada bom bunuh diri seperti di Surabaya. Surabaya yang menjadi kota terbesar kedua setelah Jakarta saja sudah kena bom, apalagi Jakarta. Kemungkinan besar nanti bom juga akan meledak di sana. Ah, ngeri.”

“Masalahnya apa, ya, sehingga mereka berani melakukan bom bunuh diri di Surabaya?” tanya tetangga yang lain.

“Sebenarnya tidak ada masalah apa pun. Hanya mereka saja yang otaknya dangkal memahami agamanya, dan mudah percaya akan Surga yang dijanjikan jika berani melakukan bom bunuh diri di tempat orang-orang yang dianggap kafir dan tempat-tempat yang dianggap sarang kemaksiatan dan kekufuran, seperti gereja dan kantor polisi,” jawabnya.

“Sebegitu teganyakah mereka mengebom orang-orang tak bersalah di Gereja itu hingga mati? Apa mereka tidak pernah berpikir bahwa di rumahnya ada keluarga yang menunggunya, yang membutuhkan kasih sayangnya dan harus dinafkahi? Mereka itu, kan, juga manusia, sama seperti kita? Ingin hidup, ingin bahagia, dan juga ingin bercengkrama bersama keluarga di rumah mereka masing-masing.” tetangga lainnya menyesalkan peristiwa itu.

Saya hanya diam dan berusaha menjadi pendengar yang baik, hingga sampai pada sebuah pertanyaan yang muncul dari seorang yang sedari tadi hanya diam juga, sebut saja namanya Abdullah. “Katanya, mereka adalah anggota ISIS yang beroperasi di Indonesia, ya? Dan agamanya ISIS itu apa sih?” pertanyaan yang kelihatannya sederhana, tapi cukup membuat kami kebingungan.

Begitulah masyarakat kita, masyarakat yang acap kali suka menghubungkan peristiwa apa pun dengan agama. Ini salah satu bukti betapa penting dan berpengaruhnya sebuah agama bagi kehidupan bermasyarakat kita.

Pertanyaan itu menuntut jawaban, segera. Saya yang bermodalkan informasi dari televisi dan bahan-bahan bacaan mencoba menjawabnya. “Mereka (baca: ISIS dan antek-anteknya) mengaku beragama Islam."

"Islam macam apa kok begitu? Membunuh sesuka hati dan tak berperikemanusiaan,” tanyanya lagi.

Saya menjawab, “Islam yang mereka tafsirkan sendiri, sesuai dengan kebutuhan dan syahwatnya. Islam yang dipelintir dan sesat. Islam yang dipahami sebagai sebuah agama yang garang dan sadis. Islam yang dipahami sebagai sebuah agama yang menghalalkan darah siapa pun di luar golongannya. Apalagi yang sudah jelas beragama di luar agamanya, seperti Kristen, Hindu, dan lain-lain.”

Seorang di sebelah saya menimpali, “Berarti Islamnya Islam yang radikal, ya? Yang sesat, ya? Seperti Islam Kari dulu (dulu di Madura, sekitar tahun 1990-an, ramai dengan aliran yang tidak mewajibkan penganutnya bersalat. Namanya masyhur dengan Islam Kari).

“Iya, begitulah,” saya memperjelas.

Kemudian si Baihaki, yang sedari tadi mematung mulai berbicara, “Islam kok macam-macam? Ada Islam radikal-lah, Islam teroris-lah, Islam ISIS-lah."

"Bagi kita, Islam itu hanya satu. Jadi, tidak usah ikut-ikutan Islam yang aneh dan sesat itu. Islam kita adalah Islam yang moderat, yaitu Islam yang diajarkan Rasulullah SAW, Islam yang diajarkan oleh para Wali Songo, Islam yang diajarkan oleh para kiai kita, oleh para guru kita, seperti Syaikhona Khalil (Bangkalan), kiai Ahmad Dahlan (Yogyakarta), kiai Hasyim Asy’ari (Jombang), kiai As’ad Syamsul Arifin (Sukorejo), dan Islam yang diajarkan oleh para guru kita di Madrasah dan pesantren,” tambahnya.

Sedangkan dalam pandangan Fathurrahman, Islam moderat adalah nilai-nilai Islam yang dibangun atas dasar pola pikir yang lurus dan pertengahan (i’tidal dan wasath). Pendapat ini diperkuat oleh pendapat Din Syamsudin bahwa konsep Islam moderat mengedepankan ajaran Islam yang rasional, moderat, toleran, dan bertenggang rasa.

Jadi, Islam moderat adalah Islam yang santun, menghargai perbedaan, dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan, selama ia tidak keluar dari norma-norma agama yang bersifat normatif dan ushuliyah. Meminjam bahasanya Alquran, “sirato-lmustaqim” (jalan yang lurus).

Mereka pun mengiyakan penjelasan saya dan Baihaqi, seraya bersepakat, bahwa begitu pentingnya menjadi muslim yang moderat, yaitu muslim yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang lurus, damai, tenteram, serta menebar kebaikan dan kemanfaatan bagi sesamanya, baik muslim dan non-muslim.

Menjadi muslim yang moderat berarti menjadi muslim yang “khairunnas anfa’uhum lin-nas” dan muslim yang santun. Bukan muslim yang menebar kemudharatan.