science-vs-religion-1.jpg
Saintek · 2 menit baca

Islam Minus Sains

Banyak orang Islam yang begitu mudah percaya pada dongeng-dongeng atau hoax tentang kecocokan Quran dan sains. Juga dengan mudah mereka percaya pada ocehan para penentang evolusi seperti Harun Yahya atau Zakir Naik. Mengapa? Karena mereka ini tidak paham sains.

Mereka tidak belajar sains, bahkan tidak membaca buku-buku sains populer. Saya tidak katakan semua, artinya tidak semua umat Islam begitu. Juga tidak semua dari mereka itu tidak paham sains. Pernah pula saya bertemu dengan doktor di bidang biologi yang bahkan menolak mengajar di kuliah biologi karena menolak teori evolusi.

Secara keseluruhan dunia Islam memang sangat tertinggal dalam sains. Negara-negara Arab yang kaya raya itu dulu saya kira berinvestasi dalam hal pendidikan dan sains. Ternyata tidak. Saya terkejut ketika 10 tahun yang lalu tahu kenyataan bahwa sampai tahun 2000 jumlah universitas di Arab Saudi masih bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Indonesia ternyata jauh lebih baik.

Tapi yang jauh lebih baik itupun jauh dari baik. Penerima Hadiah Nobel di bidang sains dari seluruh negara Islam baru ada 3. Israel, satu negara saja, sudah menghasilkan 5 pemenang untuk bidang sains.

Lalu, apa yang dilakukan umat Islam? Mengecam ilmuwan Barat yang menurut mereka tidak beriman, ateis, dan berakhlak buruk. Atau, mencari-cari kecocokan antara isi Quran dengan sains, yang (padahal) menurut mereka diteliti oleh orang-orang tidak beriman tadi. Atau, mencoba membangun apa yang mereka sebut “sains Islam”, sebuah bangunan di atas kertas atau di dunia mimpi.

Apa produk teknologi dari dunia Islam saat ini? Nyaris tidak ada. Bahkan senjata yang dipakai oleh umat Islam untuk saling berbunuhan dengan sesamanya, itu juga bukan buatan mereka. Mereka membelinya dari orang-orang kafir. Jadi, orang-orang kafir mendapat uang dari setiap pembunuhan yang terjadi antara umat Islam.

Mengapa semua ini bisa terjadi? Pertama, kemiskinan. Kemiskinan membuat pendidikan tidak bisa berkembang dengan baik. Kemiskinan melanda hampir seluruh wajah dunia Islam, kecuali beberapa bagian seperti negara-negara Teluk yang kaya minyak. Negara-negara ini pun sekarang sudah mulai kesulitan secara ekonomi. Tapi seperti yang saya jelaskan tadi, negara-negara kaya pun juga tidak mengembangkan sistem pendidikan yang baik.

Sebab lain, berhentinya tradisi berpikir. Studi-studi Islam sendiri sejauh yang bisa saya amati basisnya adalah menghafal dan merangkum, bukan berpikir. Orang-orang dibekap di bawah dogma, berpikir bisa dianggap menentang Tuhan.

Sebab lain, paranoid terhadap kekafiran. Masih sangat banyak orang Islam yang terdogma untuk menganggap Barat itu musuh. Sains modern adalah produk barat, yang sebagian di antaranya dipercayai sebagai alat untuk merusak dan menghancurkan Islam. Karena itu harus ditolak.

Tentu Anda bingung dengan penjelasan di atas. Kaya, tapi tidak terdidik. Menolak Barat dan sains mereka, tapi memakainya untuk mencari-cari pembenaran terhadap Quran. Menolak orang-orang kafir, tapi memakai produk sains untuk bertahan hidup, atau untuk mengakhiri hidup saudara-saudaranya.

Bagaimana bisa? Inilah puncak kebodohan, atau ramuan pungkas dari berbagai bentuk kebodohan, yaitu inkonsistensi. Hanya orang-orang bodoh yang paripurna yang sanggup melakukan kebodohan seperti ini.

Jadi, apa yang harus kita lakukan? Pertama, menyadari bahwa kita memang tertinggal. Kedua, berhentu berimajinasi tentang sains Barat yang sesat. Ketiga, berhenti berpura-pura menolak produk Barat, padahal setiap sudut kehidupan kita ditopang oleh produk Barat.

Keempat, berhenti menuduh kafir pada orang-orang yang berpikir. Kelima, belajar dengan benar, sehingga tidak mudah dibodohi dengan sains. Keenam, berhenti mencari kebenaran sains pada Quran. Quran itu bukan kitab sains. Sumber sahih tentang alam adalah alam itu sendiri.

Ketujuh, berhenti bersikap ekslusif dengan melupakan gagasan sains Islam. Rumusan sains seperti hukum tentang gravitasi tidak akan berubah bila dirumuskan oleh orang Islam. Kedelapan, mendorong anak-anak kita untuk belajar berpikir dengan benar, serta membimbing mereka. Dan masih banyak lagi sikap-sikap positif terhadap sains yang mesti dikembangkan.