Mengaku setia tapi belum dapat bertingkah laku sesuai dengan ajaran Islam berarti berkhianat. Baginya salah, jika berperang melawan aktivitas misionaris Kristen tanpa melawan Kapitalisme (HM. Misbach).

Jika kita refleksikan kembali sejarah para nabi, maka akan menemukan satu kesamaan. Ialah bentuk perlawanan terhadap tindakan penguasa yang sewenang-wenangnya. 

Mereka muncul dengan prinsip, yaitu membebaskan dan mengenalkan masyarakat tentang nilai-nilai keadilan, kesetaraan, penghormatan kepada manusia dan menebar kasih sayang bagi setiap orang.

Islam (Alqurqan) menggambarkan kenabian sebagai manusia-manusia yang memberantas dekadensi moral dan social dengan berbagai konsekuensinya. Ibrahim mencerminkan revolusi akal dan menundukkan tradisi-tradisi buta atas sembahan terhadap berhala. 

Musa merefleksikan semangat juang melawan otoritarianisme. Isa melakukan dobrakan dominasi matrialisme; dan Muhammad sebagai tauladan bagi hamba sahaya yang berhadapan dengan kaum konglomerat elite Quraisy.

Realitas dunia Islam saat ini tidak terlepas dari praktik kapitalisme yang bersembunyi di balik ekonomi bebas (pasar bebas), laba, renten, dan riba. 

Kapitalisme secara sederhana bagi Karl Marx menjelaskan dengan rumus U-K-U (Uang-Komuditas-Uang); seorang peimlik uang (modal) akan membeli barang (Komoditas) untuk dijual kembali dengan harga yang lebih mahal untuk mendapatkan laba. Tentu proses ini jika dilakukan secara terus-menerus, makin besar pula untung yang didapatkan.

Sementara masyarakat yang berkerja bersamanya tidak memiliki modal sebanyak kapitalis tersebut. Akhirnya mereka tidak mampu menyaingi.

Untuk bertahan hidup, mereka terpaksa merelakan tenaga buruhnya kepada kapitalis dengan harga yang tidak sepadan. Dalam artian, tenaga yang dikeluarkan tidak sesuai dengan upah kerja. Alhasil, kapitalis akan makin kaya dan buruh makin melarat.

Kapitalisme, disamping mendatangkan pendindasan, juga berujung pada penciptaan kelas-kelas social dan kesenjangan akses yang pada gilirannya mengakibatkan pemusatan otoritas pada pemilik modal. Bahkan kadang kala negara juga turut serta mengambil posisi dan memperkuat pemilik modal.

Lalu bagaimana dengan dinamika keIslaman dalam praktik kapitalisme ini?

Berbagai tendensi keagamaan yang terafiliasi dengan kekuasaan menjadikan Islam sendiri hanya sebagai ritus-ritus dan kepercayaan ukhrawi. Padahal realitas Islam bukan hanya representasi dari sistem Islam sehingga Islam tidak menjadi buta atas dominasi praktik kapitalisme. 

Islam harusnya menjadi gerakan untuk melawan upaya-upaya kolonialisasi dan kapitalisasi.

Pada konteks Indonesia tengah menjadi catatan sejarah, bangsa ini memiliki sejarah heroik tentang perlawanan Islam terhadap penindasan. Ia adalah Syarekat Islam (SI), sebagai partai kebangsaan dan menjadi gerakan politik yang sangat kuat untuk melawan monopoli kekuasaan kolonialisme. 

Gerakan inilah yang bagi Kuntowijoyo SI berhasil mempertemukan pendekatan Sistemik dan Integrasionis. Sistemik karena SI mendekati masalah kemasyarakatan secara menyeluruh sebagai sebuah sistem. Integrasionis karena SI menyatu dengan perjuangan bangsa.

Indonesia merupakan negara yang mayoritasnya adalah pemeluk agama Islam. Namun ironisnya, keislaman orang Indonesia belum mengena persoalan yang urgen yang terjadi pada bangsa ini, misalnya praktik kapitalisme. Justru umat Islam Indonesia terlalu sibuk dengan fanatisme keagamaan yang sempit. 

Perkembangan Islam di Indonesia masih dalam tahap menjaga ukhuwah islamiyah dan wathoniyah. Namun ikhtiar mewujudkan keadilan sosial dan keadilan ekonomi di tengah marajalelanya kapitalisasi belum terlihat wujud kongkretnya.

Urgensi praktik kapitalisme dapat dilihat, yaitu dengan mengutip The Economist (2016), Indonesia menempati urutan ke tujuh dalam indeks kapitalisme kroni. 

Kapitalisme kroni dapat dimaknai sebagai sistem kapitalisme suatu negara yang dibangun berdasarkan kedekatan para pengusaha dengan penguasa. Indonesia berada di atas Turki (8), India (9), Taiwan (10), China (11) dan Thailand (12). Sementara diatasnya ada Rusia (1) Malaysia (2) Filipina (3) Singapura (4) Ukraina (5) dan Meksiko (6).

Diakui atau tidak, dalam narasi pembaruan Islam tengah menghadapi tantangan yang cukup serius. Misalnya, mengapa pembaruan Islam selalu berujung pada Liberalisme Islam. Sehingga Islam menjadi mandul di hadapan mesin-mesin penghancur yang tengah memanas  dan ganas dioperasikan dengan dalih agenda pembangunanisme.

Pemaknaan atas Islam sudah sepatutnya dijadikan sebagai kekuatan pembangkit kesadaran kritis masyarakat atas kapitalisme. Keberpihakan terhadap kaum mustadzafi’in haruslah kongkret dan konsisten.

Islam sudah seharusnya menunjukkan dirinya sebagai agama pembebasan. Yang mana kurang lebih berorientasi pada menumbangkan kolonialisme, kapitalisme, dan zionisme yang mengepung dunia Islam serta kemiskinan, penindasan serta keterbelakangan di dunia Islam. Dari sinilah kita bisa meletakkan Islam sebagai rahmatan lil alamin sebagai semangat dan senjata perlawanan.

Semangat gerakan Islam dalam revolusi Iran patut dicontoh. Selain keberhasilan revolusi Iran yang mengejutkan dunia, Islam juga merupakan resultansi dari gerakan-gerakan kaum muslim di Afganistan, Melayu, Pakistan, Filipina dan Aljazair untuk memunculkan Islam sebagai khazanah nasional. 

Bahkan sekarang ini, wacana gerakan revolusi Islam menjadi ancaman negara-negara adidaya. Misalnya, ia menggerakkan masyarakat muslim Cina untuk merebut otonomi agama, politik dan kebudayaan dari belenggu kolonialisasi.

Pada prinsipnya, Islam mendeklarasikan bahwa kita adalah satu kesatuan, bersaudara, sederajat dan bahwa harta benda itu milik Allah semata yang dititipkan tanpa monopoli. Dan keadilan itu adalah sebuah kewajiban yang harus menjadi semangat kolektif untuk diwujudkan.

Semangat keislaman sudah seharusnya menjadi enersi yang eksis bukan karena ia ditakdirkan abadi dengan ajaran yang kekal. Melainkan karena ia terus-menerus bisa menjadi berharga dan memberikan nilai kepada seluruh alam semseta. Nilai keislaman itu terletak dalam peranannya menggerakkan manusia untuk menumbangkan apa-apa yang baginya tidak adil.