2 tahun lalu · 2344 view · 8 min baca · Agama saya-sudah-bilang.jpg
igambar.xyz

Islam Gokil Bukan Islam Tengil

Dari ledakan kasus Ahok yang menggemparkan jagad raya Indonesia belakang ini, sungguh sangat disayangkan jika ada sebagian kalangan yang mempersepsikan agama Islam sebagai agama yang garang, marah-marahan, amuk-amukan, kasar, usil, tengil, penuh emosi dan sarat akan kebencian.

Disukai atau tidak, asumsi demikian memang tak bisa sepenuhnya kita tolak dan kita abaikan. Fakta di lapangan menunjukan bahwa Islam yang ramah kini sudah berubah wajah menjadi Islam yang marah. Islam yang hendak menebar cinta kini sudah berubah wajah menjadi Islam yang menebar kebencian kepada sesama manusia.

Islam yang tenang kini berubah arah menjadi Islam yang garang. Islam yang sejuk kini berubah wajah menjadi Islam yang suka mengutuk. Islam yang memeluk kini berubah wajah menjadi Islam yang mengamuk. Islam yang membelai kini berubah wajah menjadi Islam yang membantai.

Islam yang bersahabat kini berubah menjadi Islam yang suka melaknat. Islam yang damai kini berubah menjadi Islam yang mengancam perdamaian. Islam yang menghargai perbedaan kini berubah menjadi Islam yang menistakan perbedaan. Dan Islam yang mengedepankan spirit persaudaraan kini berubah menjadi Islam yang melecut permusuhan.

Inilah potret keberagamaan memilukan yang sekarang kita rasakan. Sekarang ini kita seolah-olah kehilangan jalan untuk merajut kembali tali persatuan yang diserukan oleh al-Quran, kitab suci yang sekarang ini kita "bela" habis-habisan. Entah sampai kapan.

Kepada orang-orang yang hendak mengenal Islam, saya hanya ingin mengatakan bahwa Islam yang demikian hanya akan kita temukan di lapangan. Karena kalau kita merujuk kepada al-Quran, agama Islam yang saya kenal adalah agama yang hangat, mesra, penuh kasih sayang, menghargai perbedaan, mengedepankan nilai-nilai persaudaraan, tak menebar hinaan, cacian, maki-makian, dan yang pasti, selalu mengedepankan kelembutan dan keadilan dalam menyelesaikan persoalan. 

Islam adalah agama perdamaian. Dan perdamaian adalah misi utama kehadiran ajaran Islam. Dari sudut kebahasaan, kata Islam sendiri seakar dengan kata salam yang berarti  "damai". Dari kata Islam kemudian terangkailah kata Muslim yang artinya "orang yang berislam". Kata Muslim sendiri berasal dari kata kerja aslama-yuslimu yang secara kebahasaan berarti "pasrah" atau "memasrahkan".

Berhenti pada titik ini saja kita sudah bisa menarik benang merah bahwa di samping mengajarkan "kepasrahan" kepada Tuhan, Islam adalah agama yang bertujuan untuk menebar benih-benih perdamaian dalam kehidupan, baik kepada sesama orang Islam maupun kepada orang-orang yang berbeda keyakinan.

Atas dasar itu, seorang Muslim baru dikatakan Muslim sejati kalau dia tidak saja "memasrahkan dirinya" kepada Tuhan (yuslimu nafsahu lillah), tapi dalam saat yang sama juga mampu memberikan kedamaian bagi seluruh makhluk yang Dia ciptakan, sekalipun berbeda keyakinan.

Dalam konteks ini, salah satu hadits Nabi yang populer dengan tegas menyatakan bahwa "seorang Muslim adalah orang yang membuat orang lain merasa damai dari mulut dan tangannya." (HR. Ahmad). Riwayat lain menyebutkan bahwa "seorang Muslim adalah orang yang membuat Muslim lain merasa damai dari mulut dan tangannya." (HR. Bukhari).

Di luar dua hadits ini tentu masih ada setumpuk dalil keagamaan lain yang menunjukan dengan terang benderang bahwa agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. adalah agama yang mengusung perdamaian, bukan kebencian. Agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah agama cinta, bukan agama yang menebar spiral kebencian kepada sesama.

Sosok Nabi Muhammad—seperti yang tertera dalam kitab suci kita—diutus oleh Yang MahaKuasa bukan hanya sebagai rahmat bagi orang-orang Islam saja (rahmatan lil muslimin), tetapi juga rahmat bagi seluruh alam semesta (rahmatan lil 'alamin). "Tidaklah kami mengutusmu (wahai Muhammad ) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh amat semesta." (QS. [21]: 107).

Itu artinya, semburat cahaya rahmat Nabi kita harus memancar kepada seluruh makhluk yang terhampar di alam semesta, baik kepada umat Islam yang mengimani kenabian-Nya, maupun kepada orang-orang kafir yang mengingkari keberadaan yang MahaKausa.

Baik kepada Basuki Tjahaja Purnama yang kini bertahta di DKI Jakarta, maupun kepada jomblo-jomblo nelangsa yang tak kunjung menemukan pasangan cantik jelita yang aduhai dan mempesona. Baik kepada ustaz-ustaz Muslim yang kerap menghiasai layar kaca dan menarik simpati kaum hawa, maupun kepada pelatih "kafir" seperti Arsene Wenger yang tak kunjung kuasa membawa Arsenal juara dan berjaya di negeri seberang sana. Semuanya. Semua makhluk yang terhampar di jagad raya ini harus merasakan belaian rahmatnya yang mulia.

Jika seluruh air laut yang terhampar di alam semesta ini dijadikan tinta untuk melukiskan kasih sayang dan akhlaknya yang mulia, sungguh, itu semua tak akan bisa dan tak akan berarti apa-apa. Sinaran cahaya Nabi Muhammad terlalu terang untuk dilukiskan melalui tinta. Sebagaimana keindahan akhlak dan perangaianya terlalu cantik untuk dilukiskan oleh orang-orang hina seperti kita.    

Atas dasar itu semua, tak keliru jika kita berkesimpulan bahwa ujaran kebencian, kata-kata yang menyakitkan, merendahkan, menghinakan, ketengilan, kezaliman, kekerasan, apalagi pembunuhan dan pembantaian tak bisa sama sekali diasosiasikan dengan ajaran Islam, karena Islam adalah dîn al-Salâm (agama kedamaian), bukan agama kebencian. Inilah Islam yang selama ini kita nanti-nantikan.

Selain itu, penting juga ditegaskan bahwa Islam bukan hanya monopoli satu kelompok atau golongan, tapi Islam adalah adalah payung keteduhan yang menaungi semua keragaman dan perbedaan. Baik itu perbedaan watak, ras, suku, budaya, pemikiran dan hal-hal lain yang sudah menjadi suatu keniscayaan dalam kehidupan.

Islam bukan agama paksaan, tapi Islam adalah agama kebebasan. Islam bukan agama marah-marahan, tapi Islam adalah agama dialog dan agama yang mendukung keterbukaan. Islam bukan agama beku yang penuh kejumudan, tapi Islam adalah agama dinamis yang senantiasa relevan dengan situasi dan zaman yang akan terus menerus mengalami perubahan.

Islam juga tak selalu identik dengan keseriusan. Islam tak selamanya diidentikan dengan jubah yang mengular panjang, peci setinggi tugu monas, jidah hitam, jenggot serimbun pohon hutan, celana cingkrang, apalagi hidup di pertapaan dan menjauhi keramaian. Islam tak selamanya identik dengan hal yang demikian.

Bahwa ada orang yang berislam dengan cara demikian tentu tak bisa kita abaikan. Tapi Islam yang sesungguhnya tak selamanya mengajarkan demikian. Islam adalah agama renyah yang bisa dikunyah oleh semua kalangan.

Islam bukan hanya bisa dinikmati oleh para ustaz berjubah yang suka mengisi pengajian, tapi Islam juga bisa dinikmati oleh mereka-mereka yang kerjaannya melawak dan suka dengan candaan.

Islam bukan hanya bisa dinikmati oleh mereka-mereka yang suka berlaku tengil dan kafir-mengafirkan, tapi Islam juga bisa dinikmati oleh orang-orang gokil yang menyukai ajaran santai dan tak suka dengan ajaran yang penuh dengan keseriusan.

Persis pada titik ini, saya kira, penting dibangun sebuah kesadaran bahwa ajaran Islam tak selamanya harus rimbun dengan uraian seputar ganjaran dan ancaman, tapi Islam sesekali perlu dikemukakan dalam bentuk lawakan yang menggairahkan sehingga mampu membuat orang melirikan pandangan.

Kalau kita perhatikan, wahai saudara-saudara yang dimuliakan Tuhan, ajaran yang mengemuka dengan penuh keseriusan kadang menimbulkan ketengilan dan kebencian. Lihatlah sebagian umat Islam yang corak keberagamaannya demikian.

Sekali ada praktek keagamaan baru langusng dibid'ahkan. Ada yang berbeda sedikit langsung dikafirkan. Ada yang berbeda pendapat langsung dinistakan. Ada yang berbeda dengan "ulama" langsung dituduh liberal, sesat dan menyesatkan. Ada yang menyinggung ayat al-Quran sedikit langsung didemo secara besar-besaran.

Ada yang mengeluarkan pernyataan kontroversial langsung dihina sambil marah-marahan. Melihat Nusron main gaple langsung dituduh sebagai "ulama" murahan dan tak pantas dijadikan teladan. Melihat orang menari langsung dicap sebagai ahli neraka dan akan mendapatkan murka Tuhan.

Bahkan melihat saudara seiman yang berbeda pandangan pun mereka tak ragu untuk menghina, menistakan, merendahkan dan menebar kata-kata menyakitkan yang sejujurnya tak layak keluar dari tangan dan mulut orang-orang beriman yang percaya akan keagungan dan keluhuran ajaran al-Quran.  

Islam model seperti ini, saya yakin, tak akan mampu menarik perhatian. Islam yang dasarnya adalah buruk sangka, amarah dan kebencian hanya akan membuat orang muak dan ogah melirikan pandangan. Alih-alih memperbaiki citra agama kita di mata umat yang berlainan, Islam demikian hanya akan memperbesar persoalan dan menimbulkan kerusuhan demi kerusuhan.

Tapi sebaliknya. Coba anda perhatikan. Ajaran Isam yang mewujud dalam wajah yang santai, tenang, tak mudah marah, riang dan penuh dengan candaan kadang terasa gokil, menggairahkan dan membebaskan kita dari lingkaran kejenuhan.

Wajah Islam yang seperti ini saya pelajari betul dari sosok besar seperti Gus Dur. Seorang Guru Bangsa yang tak hanya dikenal sebagai agamawan yang terbuka dan toleran, tapi juga dikenang sebagai kiai yang ceramah-ceramahnya rimbun dengan lawankan dan candaan.

Islam ala Gus Dur adalah Islam gokil yang menggairahkan. Bukan Islam tengil yang suka menebar kebencian dan marah-marahan. Gus Dur mampu menerjemahkan Islam yang santai, bukan Islam yang suka membantai.

Gus Dur mampu mencerminkan Islam yang tenang, bukan Islam yang suka mengganggu ketenangan. Gus Dur termasuk orang-orang pilihan Tuhan, tapi sekali melawak, burung di balik celana pun bisa tertawa terpingkal-pingkal.

Terus terang, di Mesir saya belum menemukan orang yang cara berislamnya seperti Gus Dur. Padahal, cara berislam ala Gus Dur itu sangat dibutuhkan dalam merawat kebhinekaan yang selama ini telah kita rajut dan kita perjuangkan.

Dalam konteks kekinian, penyampaian Islam yang semacam ini tentu lebih diperlukan. Agar orang mampu beragama degan ringan, tanpa beban, tidak mudah marah-marahan, dan terbebas dari kejenuhan yang selama ini membuat hidup kita suram-buram dan tak menggairahkan.  

Itu sebabnya, dalam hemat saya, di dunia Pesantren itu para santri sebetulnya tak harus melulu dicekoki pengajian demi pengajian, tapi sesekali mereka perlu belajar stand-up comedy dan lawakan agar kelak mereka bisa menyampaikan Islam dengan wajah yang riang dan mengundang ketertarikan.

Para ustaz yang ceramah yang masjid-masjid perlu sesekali mengemas pengajian mereka dalam bahasa yang renyah dan bersih dari kekakuan. Jangan hanya berbicara ganjaran dan ancaman, tapi sesekali mereka perlu mengisi ceramah dengan cerita-cerita lucu tanpa harus melupakan pesan-pesan keislaman yang hendak disampaikan.

Cara-cara gokil semacam ini pada gilirannya akan membuat Islam semakin gurih dan bisa diterima oleh banyak kalangan. Terutama anak-anak muda yang masih memerlukan kebebasan dan tak suka dengan ajaran yang penuh dengan kekakuan. Cara-cara semacam ini akan membuat agama kita semakin cair dan terbebas dari kejumudan.

Ingat, semakin cair sebuah ajaran, semakin mudah ajaran tersebut untuk diamalkan. Semakin mudah untuk diamalkan, semakin mudah mendapatkan penerimaan. Dan semakin mudah mendapatkan penerimaan, semakin mudah ajaran tersebut untuk disebar-luaskan.

Dengan demikian, kemasan Islam Gokil yang penuh dengan kelenturan akan lebih mudah tersebar luas ketimbang Islam Tengil yang penuh dengan ujaran kebencian. Ini saya rasakan betul setelah saya mempublikasi tulisan pendek tentang Islam belakangan.

Banyak ternyata di antara saudara-saudara kita yang haus akan ajaran Islam yang wajahnya penuh dengan kelembutan, kehangatan, kedamaian, dan kenyamanan. Bukan kekakuan, kebencian, kerusuhan dan aksi marah-marahan.

Hal-hal semacam ini penting ditegaskan ulang agar kita kembali sadar bahwa spirit dasar ajaran Islam bukan amarah dan kebencian, melainkan cinta dan perdamaian. Semakin deras ujaran kebencian dalam agama kita, semakin sulit umat agama lain untuk menerima agama kita dengan keterbukaan.

Sebaliknya, semakin luas ujaran cinta dalam agama kita, semakin mudah umat agama lain memeluk-cium agama kita dengan penuh kehangatan dan kemesraan.

Agama yang menggairahkan akan lebih mudah diterima ketimbang agama sentimentil dan cepat marah-marahan. Oleh karena itu, mari kita bangun Islam gokil yang menggairahkan, bukan Islam tengil yang suka marah-marahan.

(Kairo, Bawwabat Tsalatsah, 26 Oktober 2016)   

Artikel Terkait