Pertama kali terbit, 1982. Selanjutnya mengalami penyuntingan dan perbaikan berkelanjutan sehingga edisi terakhir, buku yang saya pegang sekarang edisi 2008.

Membacanya dari pinjaman senior-senior di komisariat usai menyertai Latihan Kader Himpunan Mahasiswa Islam. Ini salah satu bacaan yang direkomendasikan.

Kemudian membelinya lagi, edisi yang sekarang ini saya pegang.

Ramadhan kali ini, kembali mendaras buku tersebut. Untuk Kembali menelaah dan juga mengulangi bacaan ini.

Sekaligus dimulai dengan membacakan fatihah, pada penulisnya allahuyarham Nurcholish Madjid yang berpulang 2005, tepatnya 29 Agustus.

Dalam “Kata Pembuka” yang dituliskan di Montreal, Kanada, masa itu juga Ramadhan 1412 H. telah berlalu lebih 30-an Ramadhan.

Edisi inilah yang mengalami pengetikan ulang dan juga perbaikan serta penyuntingan.

Perlu waktu untuk membacanya, paling tidak tersedia 622 halaman. Belum termasuk kata pengantar yang berjumlah 128, yang ditulis dengan angka Romawi, cxxviii.

Totalnya mencapai 850 halaman.

Buku ini merupakan kompilasi sebagian makalah dari Klub Kajian Agama (KKA) yang dilaksanakan Yayasan Paramadina.

Dalam diskusi KKA tersebut, menjadi sebuah tradisi menuliskan makalah yang dijadikan bahasan diskusi. Dalam kesempatan berikutnya, dikumpulkan dan disunting menjadi buku dengan judul “Islam Doktrin dan Peradaban”.


Islam di Indonesia

Nurcholish Madjid yang disapa akrab Cak Nur menjadikan Indonesia sebagai ladang persemaian nilai universal Islam, sehingga kadang diistilahkan dengan Islam Indonesia.

Cak Nur mengemukakan bahwa pertemuan seluruh umat manusia dalam sebuah kesamaan inti ajaran keagamaan, tetap berada dalam ruang dan waktu dengan kondisi nyata.

Untuk menemukan sebuah kekuatan efektif di masyarakat, akan menjadi dasar dalam etika sosial sehingga perlu adanya kaitan antara nilai dengan kehidupan masyarakat.

Dari lintasan sejarah, peradaban umat manusia menunjukkan adanya paham kemajemukan masyarakat. Pada saat yang sama, dituntut kesanggupan setiap individu untuk menghargai sesama anggota masyarakat.

Masing-masing mengapresiasi apa yang dianggap orang lain sebagai apa yang penting. Walau bagi orang lain, belum tentu merupakan sebuah hal yang penting.

Pada kondisi seperti inilah, Islam Indonesia hidup. Dimana doktrin keislaman kemudian menyata dalam kehidupan masyarakat muslim Indonesia.

Dalam skala tertentu, kita menyaksikan bagaimana masyarakat muslim Indonesia mengapresiasi nabi dengan perayaan maulid yang berbeda bentuknya masing-masing.

Seperti dalam masyarakat Bugis, maulid justru diantaranya dirayakan dengan keberadaan telur. Begitu pula dengan pembacaan kitab barzanji yang menjadi kesempatan untuk kembali menelusuri sejarah kehidupan Rasulullah untuk menjadi ibrah bagi masyarakat sekarang ini.

Kesempatan maulid, tanpa telur akan menjadi “protes” tersendiri. Dimana dalam satu kesempatan masyarakat muslim jamaah masjid Alazhar di kota Sorong, mengundurkan waktu perayaan maulid karena ketiadaan telur di pasar.

Sementara itu, jamaah masjid di Kampung Baru, juga kota Sorong, mendapatkan komplain dari jamaah karena mengganti telur di pohon pisang yang ditancapkan buah-buahan.


Masa Modern Umat Islam Indonesia

Sementara ini, dalam proses penyusunan kelambagaan, enam institut yang berada dalam koordinasi Kementerian Agama RI, akan ditingkatkan menjadi universitas.

Tersebar tidak saja di Jawa, tetapi juga di Samarinda, Kalimantan Timur. Begitu pula di pulau Sumatera, provinsi Bengkulu. Bahkan direncanakan bernama UIN Fatmawati Bengkulu.

Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Islam Indonesia secara perlahan menemukan bentuk pemahaman.

Dimana masyarakat Saudi Arabia dengan perintah Putra Mahkota, Muhammad bin Salman, untuk memberikan izin bagi perempuan untuk menyetir.

Soal ini, dalam masyarakat Indonesia tidak pernah menjadi masalah. Bahkan pada posisi presiden sekalipun tidak ada masalah. Megawati Soekarno Putri menjadi Presiden Indonesia kelima.

Sekarang, juga Ketua DPR RI, Puan Maharani menjabat sebagai ketua DPR RI. Belum lagi, para perempuan Indonesia juga menjadi mentri, anggota DPR RI, gubernur, walikota, bupati, sampai ke tingkat berikutnya lurah atau kepala desa.

Bagi kita, masyarakat muslim Indonesia, kepemimpinan perempuan juga diterima secara luas. Bolehjadi, salah satu laboratorium pendidikannya berada di organisasi mahasiswa.

Dalam praktik Himpunan Mahasiswa Islam, dibentuk kelembagaan tersendiri Korp HMIwati (KOHATI) untuk menjadi sandingan HMI. Sementara itu, bagi anggota HMI perempuan, tetap saja dapat menduduki posisi apapun di HMI, tidak terbatas pada KOHATI saja.

Begitu pula pengusaha, diantaranya tergabung dalam Asosiasi Muslimah Pengusaha "Khadijah".

Tidak ada batasan tertentu bagi muslimah untuk beraktivitas. Tetap seimbang, dan sesuai dengan pilihannya masing-masing.

Kesadaran keagamaan memberikan dampak bagi pembangunan rumah ibadah. Dimana masjid bertambah. Tidak saja dalam jumlah tetapi juga perluasan. Termasuk aktivitas yang melingkupinya juga bervariasi.

Masjid tidak semata-mata lagi sebagai tempat sujud. Masjid mulai dilengkapi dengan klinik dan ruang-ruang untuk berobat. Seperti masjid Sunda Kelapa di Jakarta, dilengkapi dengan Rumah Sehat.

Sementara di masjid Al Akbar, kota Sorong, masjid dilengkapi dengan sekolah dan madrasah. Adapun untuk memenuhi keperluan masyarakat terkait dengan ruangan untuk acara ataupun perhelatan tertentu, maka dibangunlah ACC (Al Akbar Convention Centre). Gedung serba guna yang dikelola takmir masjid.

Dalam kaitan dengan ini, setidaknya Cak Nur telah memberikan gambaran betapa Islam tidak sekadar hanya hidup di ruang-ruang ibadah. Melainkan juga Islam harus hadir dalam kehidupan nyata, dan menjadi daya dukung bagi kelangsungan masyarakat.