Mengapa seni itu penting? Jawaban sederhananya, banyak hal yang bisa dipahami dengan seni. Banyak hal pula yang bisa dikerjakan dengan seni. Sebaliknya, banyak hal yang tidak bisa dipahami kecuali dengan seni. Banyak hal pula yang tidak bisa dikerjakan kecuali menggunakan seni.

Jika kita asumsikan, pemahaman sebagai pintu untuk segala hal, maka seni adalah salah satu cara yang sangat penting untuk memenuhi permintaan pintu pemahaman itu. Tanpa seni, ada banyak pintu yang kehilangan kuncinya. Banyak pemahaman dan langkah tidak bisa digunakan lagi.

Salah satu kehidupan yang bisa dipahami melalui pintu seni adalah politik, termasuk di dalamnya adalah negosiasi, dan sastra. Jika Anda memasuki dunia politik, dengan kemiskinan seni, hidup Anda akan benar-benar absurd dan terpelanting ke lembah khayalan belaka.

Seni, Mencicipi Gula dengan Lidah, Bukan dengan Telinga

Sastra adalah salah satu bentuk seni. Saya memahami sastra sejak duduk di bangku sekolah aliyah (MA), setara dengan SMA. Memahami sastra di bangku sekolah tingkat menengah atas, tak ubahnya seperti memahami bahwa gula itu manis, tanpa mencicipinya. Bisa jadi, itu karena faktor umur yang masih cukup hijau, pemahaman yang masih dangkal, atau pelajaran yang sangat letterlijk.

Untungnya, di tempat saya menempuh pendidikan saat itu, pesantren Darul Ulum Banyuanyar I, ada lembaga seni yang kami kenal sebagai Teater Kertas. Di lembaga seni ini, saya tidak hanya memahami bahwa gula itu manis, tetapi saya juga mencicipinya.

Bahkan bisa dikatakan, saya membuat teh, kopi, eskrim, dari konstruksi gula itu. Dari perspektif ini, membubarkan lembaga seni adalah sebuah kemunduran yang SK-nya seyogianya dicabut. Saya memperoleh informasi, lembaga seni di sana sudah bertambah, Teater Topan.

Seni, Proses Elastisitas Pola Pikir

Dengan mempelajari seni, pola pikir seseorang akan semakin elastis. Elastisitas pola pikir sangat dibutuhkan di dalam menghadapi perbedaan yang rumit dan runcing. Tanpa seni, dunia akan terpecah ke dalam dua kutub ekstrim, hitam-putih, neraka-surga, kafir-iman, salah-benar, sesat-sahih, dan bawah-atas.

Bahayanya, saat ini banyak oknum, saking banyaknya barangkali tidak bisa disebut oknum lagi, yang mengklaim hanya dirinya satu-satunya pemegang surga, benar, iman, dan sahih. Orang lain adalah golongan hitam, kafir, masuk neraka, salah, sesat, dan di bawah.

Menghadapi kebuntuan dikotomi semacam ini, seni tak bisa dielakkan sangat dibutuhkan dan mesti turun tangan.

Teater Kertas: Spontanisasi Seni

Di Teater Kertas, saya tidak hanya tahu seni secara teoritis, tetapi juga mengaplikasikannya ke dalam struktur kerangka berpikir dan ke dalam kehidupan nyata.

Secara teori, seni memang sebuah abstaksi yang membutuhkan umur yang cukup untuk bisa memahaminya. Meskipun seni adalah sebuah abstraksi, seni tidak bisa sekonyong-konyong langsung bisa diaplikasikan ke dalam struktur kerangka berpikir.

Karena kerangka berpikir, secara alami, adalah logis, diperlukan latihan untuk memasukkan software seni ke dalam kerangka berpikir tersebut. Teater Kertas telah meng-upload software seni itu ke dalam hardware kepala saya.

Adalah kegiatan rutin setiap malam Jumat dan Selasa, Teater Kertas mengorganisasikan member-nya untuk spontanisasi puisi, yaitu naik ke atas panggung, waktu itu panggungnya hanya satu buah kursi yang dikelilingi oleh member yang lain, berpuisi tanpa teks, dan itu pun tanpa persiapan apa-apa.

Secara sengaja, rutinitas ini men-charge (baca: nge-cas, HP/laptop/notbuk) software seni ke dalam kepala dan kesadaran para member-nya.

Dengan logika, otak kiri mampu dioptimalkan. Dengan seni, otak kanan mampu diasah dan dioptimalkan. Jika seseorang hanya menggunakan logika, otak yang terpakai hanya sebelah.

Tentu saja, seperti dua buah cawan timbangan, menggunakan salah satunya saja menimbulkan ruang kemiringan yang tidak diinginkan. Agar keseimbangan terjaga, dua cawan otak itu perlu digunakan, dua-duanya.

Untuk Apa Seni?

Di tahun ini, 2017, mempertanyakan untuk apa seni, tentu saja akan ditertawakan, lucu. Bagaimana mungkin, sesuatu yang sangat bermanfaat dan penting masih ditanyakan manfaatnya dan urgensitasnya.

Saya hanya akan menulis dari perspektif yang sangat sederhana mengapa seni itu penting. Kitab utama umat Islam, al-Quran, memuat banyak sekali, bahkan hampir penuh, bisa dikatakan sepenuhnya, sastra. Tanpa memahami seni, kita hanya akan tahu bahwa al-Quran itu manis, tanpa mencicipinya.

Banyak sekali literatur-literatur yang tidak mungkin bisa dipahami kecuali dengan menggunakan mikroskop sastra. Kebanyakan, literatur tasawuf adalah literatur sastrawi. Karena, tasawuf berusaha menjelaskan dunia yang logika an sich tidak mungkin mampu memahaminya.

Pernah dengar, “pintu taubat”? Logika tidak mampu memahami hal ini. Bagaimana mungkin pintu ada taubatnya, atau bagaimana mungkin taubat ada pintunya! Pintu ya untuk rumah, ada gagang pintunya, ada kuncinya, terbuat dari kayu/besi/kaca, dan seterusnya.

Bagi seseorang yang memahami seni sastra, dia bukan hanya mampu memahami “rumah taubat”, tapi jauh lebih dari itu. Ada “Partai ... adalah rumah besar umat Islam”, ada “keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia”, ada “pemerataan daerah”, dan semacamnya.

Pernah seorang kekasih (seseorang yang dicintai) pergi ke rumah kekasihnya. Sesampainya di rumah kekasihnya, dia mengetuk pintu. Terdengar jawaban dari dalam rumah, “Siapa yang mengetuk pintu?”.

Dia menjawab, “Saya adalah kamu”. Kekasihnya menjawab dari dalam rumah, ‘Wahai saya, masuklah”. Dialog sederhana ini juga tidak mampu dipahami oleh logika.

Jika anda berkata, “Bagaimana mungkin saya memanggil saya sendiri?”. Saya jawab, “Anda hanya menggunakan logika. Kan sudah saya bilang, logika tidak mampu memahami dialog sesederhana itu. Jika ingin memahaminya dengan baik, cobalah membuka diri memasuki dunia seni!”.