Cina salah satu negara terkuat di dunia dalam hal ekonomi maupun politik, negara paling maju dan berkembang yang memproduksi alat-alat teknologi, obat-obatan, dan film. Produk Cina pun diekspor ke penjuru dunia, termasuk Indonesia. Dalam ajang Olimpiade pun, Cina begitu mendominasi setiap cabang olah raga.

Terakhir Cina membuat gempar dan panik seluruh masyarakat dunia, kehidupan dunia pun lumpuh akibat Covid-19 yang berasal dari negeri tirai bambu ini. Virus mematikan yang banyak memakan jiwa berasal dari Cina dan penangkalnya pun berasal dari Cina berupa vaksin.

Nah, berkaitan dengan Cina hal paling menarik dibahas adalah ideologinya karena selain negeri tirai bambu, Cina juga dikenal sebagai negeri komunis. Dari itu, bagi insan yang sempit alam pikirannya: jika berkenaan dengan Cina mudah dikompori untuk menyulut api pertikaian dan permusuhan dengan hembusan isu komunis.

Padahal di Cina sendiri terdapat pemeluk agama Islam dan pernah berjaya di sana. Untuk itu, perlu kiranya kita memperbanyak bahan bacaan dari berbagai referensi untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahui, termasuk Cina. Dibalik komunis ada Islam yang pernah gemilang di negeri komunis tersebut.

Dalam menambah khazanah keislaman, tulisan singkat ini menguraikan Islam di Negeri Komunis yang terdiri dari awal mula Islam di Cina, komunitas Islam di Cina, dan bagaimana Islam di bawah komunis Cina. Tulisan ini berangkat dari buku Ann Wan Seng, Kegemilangan Islam di Cina, 2008.

Buku setebal 145 ini memberikan informasi kepada pembacanya bahwa menjadi muslim di negeri komunis sangat berat dalam mempertahankan akidah Islam, hal ini dirasakan oleh komunitas umat Islam di Cina. Pemerintahan di sana berusaha menyingkirkan Islam dengan aturan-aturan yang keras dan menekan muslim Cina.

Terdapat teori mengenai kedatangan Islam ke Cina, di antaranya menyebutkan bahwa Islam telah sampai ke Cina sejak 1400 tahun yang lalu, Nabi Muhammad mengantar sahabatnya pergi berdakwah ke Cina. Di antaranya ada Saad bin Abdul Qais, Qais bin Abu Hudhafah, Urwah bin Uththan, dan Abu Qais bin Al-Harits.

Jarak antara Mekkah dan Cina sangat jauh, jalur yang digunakan ketika itu hanya jalur darat dan laut. Para pendakwah menggunakan jalur darat dan berdakwah di setiap tempat yang disinggahi, jalur yang digunakan ini dikenal sebagai jalur sutra yang pernah digunakan Marcopolo dalam pengembaraannya ke Cina.

Wilayah yang berdekatan dengan jalur sutra atau di bagian barat Cina mendapat pengaruh Arab dan Parsi, seperti wilayah Xinjiang, Qinghai, Gansu, dan Ninxia. Penduduknya tediri dari berbagai suku, ada suku Hui, Uygur, Kazak, Dongxiang, Kirghiz, Salar, Tadjik, Uzbek, Baon, dan Tartar.

Sepuluh suku tersebut merupakan komunitas Islam yang ada di Cina, komunitas Islam terbesar adalah suku Hui yang mendiami wilayah Ningxia, Xinjing, Gansu, Ginghai, Henan, Hevei, Shandong, dan Yunan. Daerah Yunan merupakan tempat lahirnya Laksamana Cheng Ho.

Etnis Uyghur mendiami wilayah Xinjiang, etnis ini merupakan orang Turki yang telah berhijrah ke Cina sejak awal abad ke-6. Kemudian ada etnis Kazakh yang berasal dari Kazakhstan yang mendiami Xinjiang dan Gansu. Sama dengan suku Kazak, Dongxiang juga berada di wilayah Gansu dan Xinjiang. Etnis ini memeluk Islam sejak abad ke-16 dan dipercayai telah ada di Hezhou awal abad ke-13.

Selanjutnya suku Kirghiz berada di wilayah Xinjiang dan Heilonjiang, masyarakat Kirghiz memiliki persamaan dengan Kazak dari segi sejarah maupun kebudayaan. Suku Salar ada di Qinghai dan Gansu, mereka adalah orang Turki yang datang ke Cina pada masa Dinasti Ming, masa inilah Islam meraih kegemilangannya.

Suku yang berasal dari keturunan Parsi dan menganut paham Syiah adalah suku Tadjik, mereka berada di wilayah Xinjiang. Sementara komunitas Uzbek berasal dari Uzbekistan dan Afghanistan yang telah hijrah ke wilayah Xinjiang pada abad ke-18 dan memiliki kesamaan dengan masyarakat Uyghur.

Etnis Baon dipercaya telah mendiami wilayah Gansu dan Qinghai masa Dinasti Yuan pada abad ke-13. Kelompok etnis Islam yang terakhir adalah Tartar, salah satu suku yang terkecil. Masyarakat Tartar tinggal di wilayah Xinjiang, mereka berasal dari Hungary dan dipercaya telah memeluk Islam awal abad ke-14.

Tidak ada catatan yang tepat mengenai tahun kedatangan Islam di Cina, catatan dari Dinasti Tang pada 618 M menyebutkan bahwa umat Islam sudah sampai ke Canton awal abad ke-7 dan telah terjalin hubungan diplomatik antara pemerintahan Cina dengan pemerintahan Khulafa’ Ar-Rasyidin, Utsman bin Affan.

Catatan tersebut menyebutkan bahwa pada awal pemerintahan Dinasti Tang telah sampai orang asing ke Cina dari Madinah, orang asing yang datang menyembah langit tanpa tugu dan patung di dalam masjid. Mereka juga tidak memakan daging babi, tidak meminum arak, dan menyembelih hewan sebelum memakannya.

Cina telah menjalin hubungan dagang dengan negara lain, seperti Arab. Dari itu, hubungan Cina dengan Arab telah terjalin sebelum perkembangan agama Islam dan kehadiran Islam di Cina memperkuat kembali hubungan tersebut sehingga terbentuklah sebuah komunitas orang Islam di Canton, Cina.

Ketika itu, kehadiran Islam tidak dianggap sebagai saingan dan ancaman kepada dinasti lain bahkan umat Islam disambut dengan baik dari pemerintahan Cina, pada zaman Dinasti Yuan dan Ming. Umat Islam mendapatkan kemakmuran dan kedudukan sosial yang tinggi sewaktu bangsa Mongol memerintah di Cina.

Islam di Cina meraih kegemilangannya pada zaman Dinasti Ming dari tahun 1368 hingga 1644 M. Dinasti Ming memberi kesempatan kepada umat Islam untuk ikut terlibat dalam pemerintahan yang mengurusi bidang politik, ekonomi, seni budaya dan perdagangan.

Laksamana Cheng Ho pun dari kalangan umat Islam ditunjuk sebagai pemimpin angkatan laut dalam membawa misi diplomatik, dari misinya itu ia membawa Dinasti Ming terpandang di belahan dunia, khususnya Asia dan Nusantara. Cheng Ho pun dikenal sebagai kesatria samudera melalui ekspedisinya.

Setelah jatuhnya Dinasti Ming, pemerintahan dikuasai Dinasti Ching. Selama Dinasti Ching berkuasa, umat Islam mendapat penindasan dan kekerasan dengan aturan-aturan yang keras sebagai bentuk balas dendam karena umat Islam pernah membantu pemerintahan Dinasti Ming sebelumnya.

Sejarah pun berlanjut sampai agama Islam berada di bawah komunis ketika Partai Komunis Cina mengambil alih pemerintahan pada tahun 1948 di bawah pimpinan Mao Zedong. Umat Islam kembali ditekan dengan aturan yang keras sehingga banyak yang lari dari Cina dan ada juga yang melakukan revolusi yang menentang penindasan pihak komunis.

Peradaban Islam di Cina menunjukkan bahwa perjalanan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad mempunyai sejarah yang panjang dan menghadapi berbagai rintangan hingga hari ini. Dari itu, Islam di Negeri Komunis ini layak ditelaah, termasuk menelaah buku secara mendalam yang ditulis Ann Wan Seng.