Fanatisme dalam Agama menjadi sebuah keniscayaan dalam proses beragama maupun dalam misi penyampaian doktrin agama tersebut.  Agama cenderung hegemonik dalam mengusai setiap individu pemeluknya. Secara epistimologis, keberangkatan pada proses beragama dalam Islam dimulai dari konsep iman yakni percaya dan meyakini baik secara qalb (hati), qoul (Perkataan) maupun afa’al  (perbuatan).

Kemudian dilanjutkan  dalam melakukan proses ritual-ritual beragama ataupun melaksanakan syariat sehingga mampu mencapai pada  taraf ihsan sebagai hasil titik kulminasi lahirnya agamawan yang mampu memahami dan melaksanakan ajaran agama yang sesuai dengan semestinya.

Dalam setiap zaman memiliki kompleksitas pemahaman dalam penerjemahan masing-masing agama, terdapat sejumlah aliran kesalehan. Tidak ada kecenderungan yang berlaku sepanjang zaman. Orang mengamalkan Agama dalam beraneka ragam cara yang berbeda dan kontradiktif.  Dalam sejarah Islam mencatat bahwa perbedaan aliran dalam Islam sudah bermula pada masa Khulafaurrasyidin, dan analisa mengarah pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Islam menyampaikan misi ke-Tuhanan, sesungguhnya berusaha menciptakan perdamaian, persatuan, keadilan, kesetaraan, dan menumpas semua bentuk kezhaliman termasuk kekerasan. Terlebih kekerasan yang dilakukan dengan mengatasnamakan agama, mengatasnamakan jihad, dan membela Tuhan.

Padahal Tuhan sendiri tak perlu untuk dibela, dzat-Nya akan tetap abadi. Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin melindungi umat manusia secara mutlak, tanpa melihat latar belakang ideologi, etnis dan bangsa. Gagasan tentang perdamaian melalui agama Islam, seperti disampaikan oleh Hassan Hanafi, sebenarnya sebuah gagasan yang menerjemahkan nilai-nilai kedamaian dalam Islam dan praktek hidup sehari-hari.

Ajaran agama yang membawa pesan perdamaian, kerukunan, persatuan dan keadilan dapat tereduksi oleh pemahaman fanatis terhadap teks-teks agama. Pemahaman secara parsial malah akan mereduksi tujuan, visi dan misi Islam sebagai agama damai.

Fanatisme beragama untuk mendapatkan predikat mujahid yang syahid, fanatisme  untuk mendapatkan surga yang diyakini dan direalisasikan dengan tindakan kekerasan dapat mengorbankan perdamaian, mencabik rajutan persatuan dan kerukunan umat.

Terlepas dari indahnya ajaran agama, memang diakui bahwa salah satu faktor kekerasan dalam agama adalah karena spirit agama, yaitu karena proses radikalisasi agama dan interpretasi serta pemahaman keagamaan yang kurang tepat dan keras yang pada gilirannya melahirkan sosok muslim fundamentalis yang cenderung ekstrem dan radikal terhadap kelompok lain dan menganggap orang lain yang berbeda sebagai musuh sekalipun satu agama, apalagi berbeda agama.

Adanya perbedaan bukanlah menjadi alasan dalam memunculkan sebuah konflik antar golongan ataupun kelompok. Perbedaan justru menjadi rahmat dan sunnatullah bagi umat manusia dan alam semesta ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam penulisan sejarah Islam banyak me-narasikan tentang peperangan, pemahaman inilah yang kemudian menjadi cara pandang yang dipahami oleh generasi berikutnya dalam melanjutkan perjuangan umat Islam.

Padahal dalam lintasan sejarah, Islam sempat mengalami masa keemasan sebagai pusat peradaban, dalam bidang keilmuan-keilmuan dan ekonomi, bukan hanya sejarah tentang perebutan kekuasaan. Sejarah inilah yang kemudian menjebak pemahaman umat Islam dalam menerjemahkan nilai dan ajaran-ajarannya.

Islam yang dipahami secara parsial ini memungkinkan munculnya Gerakan Islam yang secara tekstual sehingga di simbolakan dalam bentuk-bentuk kekerasan dan justru bersifat diskriminatif dan bertentangan dengan esensi Islam sendiri.

Keimanan dan kebenaraan agama menjadi komoditas yang dapat dimonopoli. Teks-teks Agama dijadikan hujjah  untuk melakukan tindakan radikal dan kekerasan dengan alasan untuk menegakkan kalimat Tuhan. Pemahaman Islam fundamental memberikan doktrin pemahaman agama secara tekstual.

Penafsiran secara tekstual inilah yang mendorong kepada pemahaman konservatif sehingga melahirkan perilaku-perilaku yang cenderung “kaku”. Sikap yang kaku ini acapkali diperkuat dengan ayat-ayat tertentu yang dijadikan sebagai “hujjah” dan legitimasi dalam melakukan aksi-aksi kekerasan.

Disadari atau tidak bahwa seringkali Islam fundamental membawa semangat dan spirit perjuangan atas nama Tuhan. Dengan spirit tersebut lebih mudah mengajak kaum muslimin untuk berjihad dan berperang atas nama Tuhan. Bagi sebagian kalangan yang belum memiliki pemahaman Islam secara matang, akan lebih mudah tertarik dengan gerakan atau aksi-aksi radikalisme atas nama agama dengan tujuan jihad.

Dalam konsep perdamaian, penafsiran Islam yang secara tekstual ini justru bergerser dari substansi Islam sendiri. Islam yang tampak adalah Islam menampilkan wajah yang garang dan Islam yang marah. Sehingga tidak heran jika Islam justru diidentifikasikan dengan terorisme, pemicu peperangan dan perpecahan.

Padahal substansi dari “perdamaian” masuk dalam ajaran Islam. Penafsiran ini bisa diperkuat dengan argumentasi bahwa Nabi Muhammad diutus tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak. Misi menyempurnakan akhlak ini adalah misi yang memiliki pengaruh dalam menata suatu kehidupan masyarakat.

Kata Islam sendiri memiliki makna damai, aman, selamat dan penyerahan diri. Dalam sholat, ikrar atau doa terakhir yang diucapkan adalah memberikan keselamatan dan perdamaian bagi sesama manusia. Hal tersebut merupakan suatu bentuk simbol bahwa muara akhirnya adalah pada perdamaian.

Rekonstruksi Doktrin Teologi Perdamaian

Menurut hemat penulis ada dua doktrin pemahaman yang perlu untuk dikaji, yang pertama bahwa perdamaian dipahami sebagai doktrin yang melangit dan tidak mampu diwujudkan oleh manusia. Doktrin ini menganggap bahwa perdamaian hanya bisa diwujudkan dan dikehendaki oleh sang khaliq.

Sementara manusia dipahami hanyalah sebagai makhluk yang diciptakan untuk selalu melakukan kerusakan dan kesalahan. Disisi lain doktrin perdamaian ini dipahami sebagai doktrin akhirat yang di identifikasikan dalam bentuk surga, dimana perdamaian hanya bisa didapatkan di dalam surga. Sementara dunia hanya menjadi tempat permainan, kesenangan, dan selalu diwarnai dengan krisis kemanusiaan.

Kemudian doktrin yang kedua adalah doktrin bahwa perdamaian bisa diwujudkan oleh manusia di dunia. Manusia dalam hidupnya didunia sudah menjadi sebuah keharusan dalam menjalankan ajaran Islam dalam mewujudkan perdamaian. Perdamaian bukan hanya bisa didapatkan di surga saja, tetapi juga bisa diwujudkan di dunia.

Dengan argumentasi bahwa  manusia juga memiliki dan mewakili sifat-sifat sang khaliq, dalam pemahaman ini manusia merupakan representasi dari kehendakn-Nya. Dalam doktrin ini menekankan pemahaman bahwa agama adalah sebagai ajaran kemanusiaan, seperti yang ditulis oleh Hassan hanafi, “Islam Is Humanitic religion”.

Oleh karena itu, Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, sudah semestinya sebagai teologi perdamaian, yakni sebagai pedoman dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai, teratur dan berkeadaban sesuai dengan nilai-nilai dan substansi ajaran Islam itu sendiri.

Maka perlu kesadaran kolektif dalam membangun perdamaian dalam setiap komponen masyarakat dengan mengedepankan nilai-nilai teologi sebagai jembatan untuk mencapainya. Kemudian menekankan dan menjalankan konsep tasamuh, karena tasamuh atau toleransi menjadi satu  bagian yang sangat penting dalam menciptakan perdamaian dengan cara saling menghormati dan menghargai perbedaan.

Tuhan menciptakan makhluk hidup, termasuk manusia dengan beragam, bersuku-suku dan berbangsa untuk saling mengenal. Saling mengenal di sini memiliki interpretasi bahwa manusia yang terlahir dengan segala bentuk perbedaanya memiliki potensi untuk mengenali dan memahami satu sama lain baik dari segi fisik maupun ideologi yang berbeda.

Dan yang terakhir adalah penanaman pemahaman tentang lokalitas sebagai upaya penguatan dan dialog antara keyakinan yang di ajarkan dan tradisi lokal yang berkembang dalam suatu masyarakat tertentu sehingga Islam selalu selaras dengan kebutuhan zaman, selalu menjadi bagian yang solutif terhadap persoalan-persoalan masyarakat dan mampu menciptakan agenda-agenda kerukunan serta perdamaian dalam kehidupan umat manusia.