Konflik sosial terus-menerus terjadi di berbagai belahan bumi Indonesia, sehingga menyebabkan ikatan sosial kini mulai meredup. Masifnya tindakan kekerasan yang mengatasnamakan kepentingan kelompok kian menjadi layar momok yang kerap dipertontonkan.

Hal ini jelas menjadi pertanda buruk bagi masa depan bangsa Indonesia. Karena ikatan sosial menjadi kekuatan utama dalam meneguhkan solidaritas suatu bangsa.

Islam pada hakikatnya hadir dalam memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana meneguhkan solidaritas sosial. Melalui sosok teladan yang mulia, Nabi Muhammad saw yang berhasil mencontohkan perihal betapa kuatnya ikatan sosial persaudaraan ketika menata dan membangun masyarakat Madinah.

Sebagaimana diketahui, masyarakat Madinah saat itu adalah masyarakat yang terbilang sangat multikompleks. Terdiri dari berbagai macam suku. Ada suku Aus, Khazraj, Qainuqa, Quraizha, dan Bani Nadhir. Penduduknya pun terdiri dari berbagai macam agama; ada Islam, Yahudi, dan sebagian kecil Kristen Najran. Penduduk Islam sendiri ada yang migran (muhajirin) dan pribumi (anshar).

Pola keberagamaan dan persaudaraan yang sejak awal dibangun oleh Nabi di tengah masyarakat yang heterogen ini adalah pola yang mengedepankan uswah hasanah, yakni pola moralitas dan keteladanan yang baik. Artinya, pendekatan moralitas menuntut umatnya untuk selalu menjadi uswah atau teladan yang baik bagi lingkungannya.

Metode uswah hasanah adalah gerakan beragama yang bersifat soft-power, yakni menjunjung tinggi keteladanan, moralitas, kemajemukan, pembelaan atas kaum mustadh’afin, dan penegakan hak asasi manusia. Metode inilah yang kemudian melahirkan Piagam Madinah, sebagai sebuah solusi deklarasi negara yang sangat demokratis dan modern, bahkan terlalu modern untuk ukuran zaman dan tempatnya.

Dalam Piagam Madinah, Nabi menjabarkan ihwal negara, demokrasi, politik, hukum, ekonomi, kebudayaan dan peradaban manusia. Komitmen yang dilakukan Nabi, sebagaimana zaman aksial, adalah membela rasa. Islam hadir membela rasa terhadap kaum marjinal, kaum perempuan, kaum budak, dan lainnya.

Sebagaimana zaman aksial, Nabi juga tidak membedakan antara Islam, Yahudi, dan Kristen. Sehingga Nabi pernah bersabda, “Barang siapa membunuh non-muslim, maka dia akan berhadapan dengan saya.”

Gagasan penting dari Piagam Madinah dan sabda Nabi tersebut adalah warta bahwa Islam menghargai pluralitas masyarakat. Islam sebagai rahmat bagi semesta berarti Islam yang tidak membedakan masyarakat berdasarkan suku, etnis, adat, tradisi, dan agama. Selama mereka “makhluk sosial” di alam semesta, Islam bertugas mewartakan kebajikan kepada mereka.

Sayangnya, spirit demokratisasi dan pluralisme yang pernah dibangun Nabi, sekarang telah dicabik-cabik oleh umat manusia sendiri. Spirit agama sebagai inspirasi kritik sosial perlahan sekarang tidak lagi tampak. Masing-masing agama mengeklaim dirinya paling suci dan paling benar. Sehingga yang terjadi adalah saling membenci, menghujat, menteror, dan bahkan saling membunuh.

Fakta sejarah telah memperlihatkan bahwa pembunuhan mengatasnamakan agama telah menjadi trend gerakan fundamentalis secara global. Ajaran-ajaran agama dibabtis untuk membakar semangat berperang, mengobarkan api kekerasan, dan kekejaman.

Padahal jika diamati, setiap agama-agama yang hadir dalam membawa misi ajarannya, tidak satu pun –yang dalam hal ini ajarannya– mengajarkan umatnya untuk memusuhi, menteror, apalagi membantai dan membunuh sesama. Hal ini tentu merupakan kedok dari si pelaku ajaran dan bukan terletak pada ajarannya.

Membela Sesama

Berbagai konflik sosial yang terjadi saat ini harus dijadikan sebagai starting point dalam merumuskan komitmen membela sesama, yang merupakan spirit gerakan solidaritas sosial. Islam hadir menawarkan konsep peradaban yang rahmatan lil’alamin, memberi rahmat kepada seluruh alam semesta.

Artinya bahwa, yakni Islam yang mengedepankan keadilan, kesederajatan, dan kemanusiaan. Siapa yang menghalangi prinsip tersebut, maka perlu diajak dialog secara damai, dan tidak diperangi. Kalau diajak secara damai ternyata ingkar, bahkan menawarkan angkara murka, barulah Islam mengizinkan umatnya untuk bertahan diri. Bukan berperang untuk saling membunuh.

Konsep perdamaian inilah yang dijalankan Nabi dalam mendakwahkan Islam kepada seluruh semesta. Di Makkah selama 13 tahun, Nabi bersosialisasi dengan warga kota. Nabi menawarkan konsep teologi la ilaha illalah, (tiada Tuhan selain Allah).

Di samping secara teologi menegaskan tiada Tuhan yang absolut kecuali Allah, pernyataan keimanan tersebut juga memberikan dampak sosial politik, yakni penolakan terhadap berbagai bentuk perbudakan, penjajahan, dan intimidasi yang melanggar kebebasan dan hak asasi manusia.

Spirit perjuangan Nabi Muhammad saw merupakan modal penting dalam membela rasa solidaritas yang kian tercabik di negeri ini. Terlebih di tengah kondisi maraknya konflik sosial yang masih sering terjadi.

Modal penting dan pelajaran berharga yang telah ditancapkan Nabi dapat menjadi dasar akan nilai kehidupan luhur yang bisa dijalankan untuk seluruh umat di tengah kehidupan yang berbingkai Bhinneka Tunggal Ika, di Indonesia.