26500_28102.jpg
https://commons.wikimedia.org/wiki/
Budaya · 6 menit baca

Islam dan Poligami

Sebuah talkshow di salah satu stasiun TV Jepang membahas Islam. Yang menjadi pemateri adalah seorang lelaki paruh baya. Agaknya dia seorang peneliti atau sejarawan atau seseorang yang memiliki pemahaman mendalam tentang Islam.

Di talkshow tersebut, dia berusaha menjelaskan kepada audiensi, yakni beberapa public figure seperti aktris atau komedian, tentang sisi-sisi positif Islam. Rujukannya adalah Islam di Timur Tengah. Kentara sekali, dia berusaha menangkal perspektif demonik yang kadung dilabelkan "Barat" kepada Islam pasca-9/11.

Poligami dalam Islam dan Konteks yang Melatarinya

Salah satu audiensi, seorang perempuan, mengajukan pertanyaan kepadanya tentang diperbolehkannya poligami dalam Islam. Sebelumnya para audiensi telah digiring kepada pemahaman bahwa orang-orang Islam umumnya melakukan sesuatu atau tak melakukan sesuatu karena hal tersebut tercantum di Alquran. Dan tentu saja di dalam kitab suci umat muslim tersebut terdapat ayat-ayat yang memperbolehkan seorang laki-laki melakukan poligami, dengan batas-batas tertentu.

Si perempuan, dari caranya bertanya juga gestur dan tatapan matanya, terlihat tidak senang dengan pembolehan tersebut. Dan dia tentulah meminta penjelasan yang masuk akal dan komprehensif tentang tentang hal ini.

Si lelaki paruh baya, dalam upayanya merespons "tantangan" si perempuan, memaparkan konteks sejarah yang melatari diturunkannya ayat-ayat yang memperbolehkan poligami itu.

Dia mengatakan bahwa ayat-ayat tersebut merujuk pada situasi pascaperang, di mana sejumlah keluarga kehilangan kepala keluarga, di mana para perempuan dan anak-anak kehilangan suami atau ayah, dan ini berdampak pada masa depan mereka yang tak jelas, bahwa mereka tak lagi memiliki sosok yang sebelumnya, setiap harinya, menanggung dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar mereka sebagai manusia, juga sebagai bagian dari masyarakat.

Si lelaki paruh baya juga menyinggung sistem masyarakat Arab saat itu yang, seperti bisa kita bayangkan, masihlah sangat sangat patriarkal, di mana fungsi dan peran seorang perempuan dalam masyarakat, bahkan dalam keluarga atau rumah tangga, sangatlah resesif, sangatlah terepresi, sehingga kehilangan sosok kepala keluarga berarti kehilangan terlampau banyak hal dan karenanya rentan membuat mereka tak berdaya.

Terkait hal inilah pembolehan poligami itu diberlakukan, jelas si laki-laki paruh baya, dengan maksud membantu dan mengasihi—bukan mengasihani—para perempuan dan anak-anak yatim itu—bukan untuk memuaskan hasrat berahi atau memenuhi ego pribadi.

Dan batasan paling banyak empat orang perempuan sebagai istri, jika ditarik ke konteks saat itu di mana adalah sesuatu yang lumrah bagi seorang lelaki untuk memiliki begitu banyak istri, bisa dilihat sebagai sebuah upaya untuk merepresi ketimpangan relasi dan kesewenang-wenangan tersebut; sebentuk negosiasi yang ditawarkan Islam untuk memperbaiki kehidupan para penganutnya, saat itu.

Untuk poin yang terakhir ini, si lelaki paruh baya tidak menyampaikannya secara eksplisit.

Pembacaan Mutakhir Atas Poligami

Terkait hal ini, saya kira kita perlu mencermati tiga hal krusial. Ini agar kita tidak terjebak pada pemahaman yang keliru tentang (diperbolehkannya) poligami dalam Islam.

Pertama, konteks yang melatari diturunkannya ayat-ayat yang memperbolehkan poligami itu—situasi pascaperang dan masyarakat Arab yang masih sangat patriarkal—mestilah membawa kita pada pemahaman bahwa diperbolehkannya poligami, juga relasi antara seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam sebuah keluarga atau rumah tangga, juga dalam masyarakat, bukanlah sesuatu yang final; sebaliknya, ia sesuatu yang masih perlu dikaji dan dikaji, seiring berubahnya konteks dan berkembangnya perspektif.

Ayat-ayat tersebut dengan kata lain bukanlah fosil atau benda mati, melainkan sesuatu yang hidup, semacam organisme. Dan itu berarti, mereka-ketika-baru-saja-diturunkan bisa sangat berbeda dengan mereka-di-saat-ini, di mata kita yang hidup di saat ini.

Dalam hal ini kita berusaha memperlakukan ayat-ayat tersebut, juga tentunya apa yang berusaha dikemukakannya, sebagai dasein, sebagai being-in-the-world, di mana kita senantiasa melekatkannya dalam relasi dengan hal-hal yang ada di sekitarnya, saat ini. Ini saya kira sebuah perlakuan yang jauh lebih baik dan adil ketimbang melihatnya sebagai fosil atau benda mati atau sesuatu yang telah berhenti tumbuh ratusan tahun lalu.

Kedua, dalam upaya memperlakukannya sebagai dasein tersebut, kita seyogianya tidak terjebak pada sentimentalisme sempit, di mana kita dengan gegabah menyangkal kebenaran ayat-ayat tersebut karena kita menilainya tak (lagi) relevan dengan realitas saat ini.

Sebagaimana kita ketahui, ayat-ayat dalam Alquran diturunkan tidak secara serempak atau bersamaan, melainkan "satu demi satu", sebagai respons atas peristiwa tertentu. Dan Islam yang ditawarkan lewat Alquran—sebenarnya lebih tepat mengatakan lewat Nabi Muhammad SAW—mesti dipahami sebagai jalan hidup—bukan agama dalam pengertian "institusi"—yang negosiatif—di sini saya menghindari penggunaan kata "permisif" yang terkesan bermakna peyoratif.

Dengan berpikir seperti ini, kita akan sampai pada pemahaman bahwa ketidakrelevanan ayat-ayat Al-Qur'an dengan realitas saat ini lebih menunjukkan perlu adanya perbaikan perspektif atasnya ketimbang semacam bukti bahwa ayat-ayat tersebut keliru dan karenanya Alquran bukanlah kitab suci.

Bagi mereka yang muslim, cara pikir ini penting, sebab mereka bisa tetap mengimani Alquran sembari menyikapinya dengan kritis. Sebuah sikap yang saya kira menyehatkan.

Ketiga, dengan mencermati konteks yang melatari diturunkannya ayat-ayat tadi, kita mestilah memahami betul apa tujuan sesungguhnya dari poligami saat itu, yakni membantu dan mengasihi—bukan memuaskan ego dan melampiaskan berahi. Inilah esensi dari poligami. Inilah yang semestinya diutamakan dari poligami.

Dan jangan lupa, kita pun mesti membenturkannya dengan konteks saat ini, supaya kita tahu apakah poligami masih relevan dijadikan sebuah cara untuk membantu dan mengasihi (perempuan).

Sekarang ini, di era di mana kesetaraan gender telah menjadi bagian penting dari denyut nadi kehidupan, seorang perempuan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri, masa depannya sendiri, pilihan-pilihannya sendiri; mereka (mestilah) tak lagi terlampau bergantung kepada laki-laki dalam menjalani hidup dan karenanya mereka tak lagi perlu dibantu dan dikasihi dengan cara itu—dinikahi.

Lagipula, seiring berkembangnya kesadaran masyarakat, mestilah semakin aus juga pemikiran bahwa seorang lelaki memiliki sejumlah banyak istri adalah hal yang lumrah. 

Dengan demikian, meski kita tak menilai ayat-ayat itu keliru sebab kita mengaitkannya dengan konteks yang melatarinya, kita pun, di saat yang sama, setelah membenturkannya dengan konteks saat ini, mendapati bahwa "solusi" yang ditawarkan ayat-ayat tersebut perlu ditinjau ulang, dan cenderung tak perlu untuk direalisasikan.

Dan kita perlu berhati-hati dalam melihat poligami di saat ini sebagai sebentuk ibadah. Konteksnya berbeda. Lagipula tidak ada urgensi untuk melakukan itu. Kita tidak berada pada situasi pascaperang dan para perempuan telah memiliki ruang untuk mengembangkan diri dan membuat posisi mereka relatif setara dengan laki-laki, maksud saya.

Alquran sebagai Organisme

Tentang melihat Islam yang dijelaskan di Alquran sebagai organisme, sebagai sesuatu yang senantiasa hidup dan berkembang, kita agaknya bisa mengaitkannya dengan apa yang coba dikemukakan Roland Barthes dalam esainya yang terkenal itu, “The Death of the Author”.

Menurut Barthes, ketika sebuah teks selesai ditulis, di mana ia disajikan ke hadapan pembaca, yang membuatnya kemudian terus hidup dan berkembang adalah pembaca, bukan penulis.

Ini masuk akal karena pembacalah memang yang berperan dalam pembacaan teks; si pembacalah yang berada pada posisi yang sangat dekat dan intim dengan teks, sedangkan si penulis telah berada pada posisi yang sangat berjarak dengan teks tersebut. Si penulis ada pada saat teks tersebut ditulisnya, dan tidak setelahnya. Lewat tangan pembaca teks tersebut dituliskan kembali, disajikan lagi, namun tidak dalam wujud yang sama. Ia berubah dan berkembang. Ia hidup.

Tentu seperti apa wujud si teks kemudian sangat tergantung pada "kualitas" si pembaca, apakah dia telah diperlengkapi dengan alat-alat sastra (literary devices) yang cukup atau belum, apakah perspektifnya atas teks telah cukup komprehensif atau belum. Dan tentu, sebab si pembaca adalah dasein, dia senantiasa terhubung dengan konteks, dan karena itulah wujud baru si teks adalah sesuatu yang terlahir atau terbentuk dari dibenturkannya wujudnya yang sebelumnya dengan konteks tersebut.

Seperti itu pulalah kiranya perlakuan kita (pembaca) atas Islam yang dijelaskan dalam Al-Qur'an (teks). Dan kebetulan di sini makna si pengarang sudah mati hampir-hampir berarti literal: kita tak bisa meminta Allah SWT menjelaskan secara langsung kepada kita tiap-tiap ayat yang telah diturunkannya itu.

Sebagai pembaca, sebagai sosok yang berperan dalam menjaga agar teks terus hidup dan berkembang, kita agaknya tak bisa mengelak dari tuntutan untuk mengembangkan diri—memperlengkapi diri dengan alat-alat sastra dan senantiasa memperbaki perspektif kita. 

Tentu, itu jika yang kita inginkan adalah pembacaan yang tepat dan kehidupan yang sehat.

NB. Talkshow yang dimaksud di tulisan ini saya tonton di YouTube beberapa bulan yang lalu dan saya saat itu tidak berhasil mengidentifikasi nama acara tersebut, juga si pemateri dan para audiensi.