Pada 17 hingga 20 Februari tahun 1923, Serekat Islam mengadakan kongresnya yang ketujuh di Kota Madiun. Pada kongres ini menghasilkan sebuah keputusan untuk mengubah nama Serekat Islam menjadi Partai Serekat Islam.

Kelompok revolusioner golongan Semaoen  menolak hasil kongres  golongan HOS Tjokroaminoto yang dikenal kooperatif dengan pemerintahan kolonial. Dibuatlah kongres tandingan awal Maret 1923 di Kota Bandung. Setelahnya, SI kelompok Semaoen berganti nama menjadi Serekat Rakyat yang berhaluan Komunis. Kongres itu juga dihadiri oleh dua komunis dari Sumatera Barat, yaitu Haji Datuk Batuah dan Natar Zainuddin.

Pada kongres tandingan kelompok Semaoen, tampil seorang Haji menaiki podium. Ia segera perkenalkan diri; “Saya bukan Haji, tapi Mohammad Misbach, seorang Jawa yang telah memenuhi kewajibannya sebagai muslim dengan melakukan perjalanan ke tanah suci Mekah dan Madinah,’’ kata Mohammad Misbach seraya memperkenalkan diri dihadapan seluruh peserta kongres tandingan kelompok Semaoen.

Misbach tampil bagai Bintang. Ia tampil memukau di kalangan cabang-cabang PKI dan SI merah, terutama mereka yang bercorak agamis. “Al-Qur’an menetapkan bahwa kewajiban bagi setiap muslim untuk mengakui hak azazi manusia, dan pokok ajaran ini juga ada dalam prinsip program komunisme ...,’’ ungkap Misbach dengan lantang.

Haji Mohamad Misbach (Selanjutnya disebut Haji Misbach), seorang muslim yang menuntut Indonesia bebas dari kekejian kapitalisme. Lahir pada 1876 di Kauman Surakarta. Tumbuh dewasa di lingkungan Kesunanan dan pejabat keagamaan Keraton Surakarta. Misbach  yakin dan terus mengorbankan seluruh kekayaannya untuk pergerakan rakyat.

Haji Misbach adalah kaum muda Islam yang melanjutkan pendidikan pesantren. Meski sempat berziarah ke Tanah Suci Mekkah, Haji Misbach tidak memperlihatkan atribut ‘kehajiannya’. Misbach tidak menggunakan tutup kepala ala Turki, tapi menutup kepalanya layaknya kebanyakan orang Jawa. Misbach tidak mampu berbahasa Belanda, tidak memiliki teman Belanda dan Indo. Hanya bahasa Melayu dan Arab yang ia kuasai.

Haji Misbach mula-mula bukan seorang proletar, hapal banyak surah dan doa. Mirip Nabi hidupnya: berdagang dan buka toko. Semula kegiatanya sederhana: jualan, mengaji dan dirikan sekolah, setelahnya gabung dengan Sarekat Islam (SI) Surakarta sebagai anggota biasa, pada 1912 mulai menyatu dengan rakyat.

Latar belakang dan gaya pergaulan tersebut, membuat Misbach lebih dekat dengan petani miskin, petani tak bertanah, buruh tani, kaum muda Islam dan pedagang muda ketimbang pejabat keraton maupun pejabat Eropa.

Hidupnya melawan terus berontak terus. Bagi Haji Misbach program yang semakin memiskinkan rakyat karena adanya tambahan pengeluaran rakyat di samping keharusan-keharusan kerja paksa harus di lawan, harus di tentang; Betul mereka senantiasa menunjuk-tunjukkan keislamannya, tapi sebetulnya cuma di atas bibir saja, mereka menjalani aturan agama Islam tetapi dipilih aturan yang disukai hawa nafsunya saja, perintah yang tidak disukai mudah dibuangkan saja.

Haji Misbach gabung di SI Surakarta. Meski sebagai anggota biasa, Haji Misbach rela  mengumpulkan dan menggalang dana untuk kegiatan-kegiatan yang dapat menggerakkan Islam. Seperti penerbitan jurnal baru, pendirian sekolah, perpustakaan dan pertemuan tablig. Tidak hanya kepada SI, Misbach pun menjadi anggota dan donatur resmi surat kabar Doenia Bergerak, pada 1914.

Keterasingan

Pada hari suram tanggal 24 Mei 1926, sebuah iring-iringan kecil; Bahkan sangat kecil mengantarkan jenazahnya ke tempat peristirahatannya yang terakhir di pemakaman Penindi, Manokwari. Tak ada pidato-pidato sambutan.Tak ada yang memberitakan jasa-jasa dan amalnya dalam hidupnya yang tak begitu panjang.

Sebagai seorang mantan anggota organisasi pergerakan semacam Insulinde dan Sarekat Rakjat, dan sebagai mantan propagandis yang terbiasa berhubungan dengan ratusan bahkan ribuan orang, kematian dan penguburannya yang sunyi memang ironi. Ini lah hari terakhir Haji Misbach. Seorang tokoh gerakan dan Mantan Propagandis yang wafat setelah mengidap penyakit malaria, menyusul istrinya yang sebelumnya meninggal karena TBC.

Hidupnya penuh keterasingan. Pembuangan Misbach ke Manokwari adalah hukuman yang ketiga dengan tuduhan mendalangi kerusuhan, melakukan sabotase, meneror serta menggangu rust en orde (ketertiban umum). Meski diketahui tuduhan itu tidak pernah terbukti, ia tetap dibuang tanpa diperbolehkan diantar oleh siapapun.

Di pengasingan, ia tidak boleh ditengok dan hanya diperbolehkan membaca al-Quran. Sebelumnya, pada 7 Mei 1919, ia dipenjara dengan tuduhan menghasut kaum tani untuk mogok. Pada 16 Mei 1920, kembali dipenjarakan di Pekalongan selama dua tahun tiga bulan dengan tuduhan melanggar delik pers, menghasut massa melawan raja dan Pemerintah Hindia Belanda.

Begitulah kisah heroik Haji Misbach. Haji yang sebelumnya adalah seorang propagandis dengan ribuan masaa ini, harus menjalani hari-hari terakhir hidupnya bersama keluarganya di Manokwari. 

“Penjagaan polisi sangat ketat.Ketika Misbach kembali sebentar ke Surakarta, hanya Sjarief dan Haroenrasjid dari Medan Moeslimin, di samping kerabatnya, yang diizinkan menjenguknya. Anggota-anggota PKI dan SR Surabaya pergi ke pelabuhan, tetapi usaha ini sia-sia karena ia dikurung dalam kabin. Misbach meninggalkan Jawa dalam keterpencilan,’’ kata Takashi Shiraishi dalam bukunya Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926.

Ketemu di Jalan

Ada dua momen penting yang mengarahkan Misbach menggerakkan Islam sebagai inspirasi untuk melawan Belanda. Pertama, keterlibatan Misbach dalam menolak kebijakan perbaikan rumah untuk membasmi mewabahnya penyakit pes yang dikeluarkan Belanda pada 1915.

Bagi Misbach program tersebut semakin memiskinkan rakyat karena adanya tambahan pengeluaran rakyat di samping keharusan-keharusan kerja paksa untuk Belanda. Setelah itu, Misbach gencar menolak kerja paksa. Dalam hal ini, Misbach melihat bahwa program perbaikan rumah memiliki hubungan dengan kebijakan-kebijakan lain.

Kedua, keterlibatan Misbach dalam upaya mempertahankan penodaan agama Islam yang dilakukan oleh surat kabar Kristen, pada 1918. Kala itu, Tjokroaminoto sebagai orang berpengaruh di SI, mengajak seluruh anggotanya untuk menggempur penodaan agama tersebut. Sementara Tjokro mendirikan Tentera Kandjeng Nabi Moehammad (TKNM), Misbach dan santri lainnya mendirikan organisasi Sidik Amanah Talegh Vatonah (SATV).

Tentu saja kampanye ini berbeda dengan keadaan sekarang, di mana penodaan agama direaksi dengan kekerasan dan cenderung arogan. Di awal-awal abad dua puluh, debat melalui media surat kabar dan  pamflet adalah hal yang biasa. Setelah debat akan berlanjut dengan rapat umum. Tidak ada unsur kekerasan.

Ketika Misbach memasuki gelanggang politik, Belanda sedang melakukan reorganisasi politik dan administrasi di tanah jajahan. Tidak sedikit pula pemuka Islam ketakutan, berdiam diri, atau memilih berkompromi dengan kebijakan Belanda.

Birokrat keagamaan umumnya adalah alat negara sehingga wewenang keagamaannya lebih banyak dari jabatan ketimbang dari pengetahuan agama. Karena itu, dalam soal keagamaan, pandangan rakyat lebih percaya pada orang-orang yang lulusan pesantren yang relatif bebas dari negara.

Di saat inilah, Misbach mulai mendampingi dan mengorganisasikan perlawanan kaum tani melalui Insulinde bersama Tjiptomangoenkoesoemo, sampai ia dipenjara di Pekalongan. Waktu itu kaum tani mengajukan tiga tuntutan: kewajiban ronda malam dihapus, kerja-wajib umum untuk negara dibayar, dan pejabat desa harus terlibat dalam kerja wajib-umum.

Hai saudara-saudara ketahuilah!
Saya seorang yang mengaku setia pada agama dan juga masuk dalam lapang pergerakan komunis, dan saya mengaku bahwa tambah terbukanya pikiran saya di lapang kebenaran atas perintah agama Islam itu, tidak lain ialah dari sesudah saya mempelajari ilmu komunisme…

Sesudah saya mendapat pengetahuan yang demikian itu (ilmu komunisme, penulis), dalam hati saya selalu berpikir-pikir tentang berhubungannya dengan pasal agama, sebab saya ada rasa bahwa ilmu komunis suatu pendapat yang baru, saya ada pikir, hingga rasa dalam hati berani menentukan, bahwa perintah dalam agama mesti menerangkan juga sebagaimana aturan-aturan komunisme.

Hai sekalian kawan-kawan kita, bahwa kita akan masuk dalam lapang pergerakan itu, haruslah kita dengan berasas agama yang hak, agar supaya jangan sampai kita mendapat rugi dalam zaman perlawanan ini, untung dalam kemenangan atau untung dalam akhirat, korbankanlah harta benda, dan jiwamu, untuk mengejar kebenaran dan keadilan tentang pergaulan hidup kita dalam dunia ini. ….

Dengan mempertimbangkan situasi yang begitu kompleks, gagasan Islam dan Komunisme dilontarkan dalam hubungan aksiologi Islam dan politik di awal-awal kehidupan modern di Indonesia.

“Sesudah saya mendapat pengetahuan yang demikian itu (ilmu komunisme, pen.), dalam hati saya selalu berpikir-pikir tentang berhubungannya dengan pasal agama, sebab saya ada rasa bahwa ilmu komunis itu suatu pendapat yang baru, saya ada berpikir, hingga rasa dalam hati berani menentukan, bahwa perintah dalam agama mesti menerangkan juga sebagaimana aturan-aturan komunis,’’ ungkap Misbach

Islam dan Marxisme merupakan dua hal berbeda, bahkan bertentangan. Islam adalah agama yang ajaranya dapat diterima dan ditolak berdasarkan iman atau kepercayaan, sedangkan Marxisme sebagai suatu teori ilmiah yang diterima atau ditolak berdasarkan penalaran rasional dan obyektif. Kebenaran agama bersifat absolut, sedangkan kebenaran teori ilmiah bersifat relatif yang bersifat hipotesis.

Soekarno, misalnya, pada 1940 mengakui bahwa “teori Marxisme adalah satu-satunya teori yang saya anggap kompeten buat memecahkan soal-soal sejarah, politik, dan kemasyarakatan”. Bahkan Sjahrir, yang di kemudian hari pandangan ekonomi-politiknya dianggap “kanan” (karenanya disebut soska alias sosialis kanan), “dengan tegas mengatakan bahwa gerakan nasionalisme di Asia-Afrika tak dapat dilepaskan dari ketertarikan mereka terhadap Marxisme.

Menurut sejarawan dan pemimpin redaksi majalah Historia, Bonnie Triyana, pertanyaan yang mencuat dalam menelaah kaitan Islam dan komunisme di Indonesia sering kali berada di seputar: mengapa di daerah Banten dan Silungkang Sumatera Barat, dua daerah yang mayoritas penduduknya muslim fanatik, bisa sekaligus menerima kehadiran Partai Komunis Indonesia (PKI)?

Paham Marxisme dibawa Henk Sneevliet, seorang sosialis Belanda yang datang pada Februari 1913. Dia dipecat oleh Partai Buruh Sosial Demokrat (SDAP) karena bergabung dengan Partai Sosial Demokrat (SDP) yang kelak menjadi Partai Komunis Belanda (CPN).

Dia mendirikan Perkumpulan Sosial-Demokrat Hindia Belanda (ISDV) yang diakui sebagai partai Marxis pertama di Asia Tenggara. Dialah aktor intelektual di balik radikalisme Sarekat Islam (SI) Semarang di bawah Semaoen.

Sementara itu, SI sebagai organisasi muslim dengan jumlah anggota terbesar, di bawah pimpinan Tjokroaminoto menjadi organisasi moderat dan berhubungan baik dengan pemerintah kolonial. Sikap demikian ternyata menimbulkan ketidakpuasan sekelompok kecil anggotanya.

Menurut Bonnie, ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim yang memilih kooperatif terhadap pemerintahan penjajah membuat Haji Misbach bergabung dengan SI Merah yang dibentuk oleh Semaoen yang setelah mengalami radikalisasi sejak 1919 dan memisahkan diri dari SI, menjadi PKI pada 1923.

Selain itu, perpecahan di tubuh SI semakin memuncak ketika terjadi insiden Afdeling B pada 1919, yaitu perlawanan Haji Hasan di Leles Garut yang menentang pembayaran pajak padi. Peristiwa ini berakibat penangkapan para pemimpin SI termasuk Tjokroaminoto. Agus Salim mengambil-alih kepemimpinan SI dan melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh Tjokroaminoto: pembersihan SI dari unsur-unsur komunisme.

Bagaimana Haji Misbach, seorang mubalig, fasih bahasa Arab dan suka mengutip ayat-ayat Alquran dan hadis Rasulullah dalam tulisan-tulisannya yang bernah nan kritis, dapat menerima komunisme?

Haji Misbach yang taat beragama, kata Bonnie, menerima komunisme sebagai ideologi pembebasan tanpa harus khawatir kehilangan akidahnya. Pandangan Haji Misbach bersandar pada nilai-nilai ajaran Islam yang berpihak kepada kaum tertindas.

Inilah titik temunya dengan ajaran Marxisme yang diperkenalkan oleh Henk Sneevliet.  Misbach, menangkap Islam sebagai agama yang revolusioner yang dalam sejarah Nusantara telah menimbulkan pemberontakan-pemberontakan lokal yang bertema pembebasan. Dari situlah pikiran Misbach bertemu dengan ideologi komunisme.

Seperti halnya Misbach, kata Bonnie, komunisme diterima kalangan ulama di Banten pertama-tama karena kekecewaan mereka terhadap kepemimpinan Tjokroaminoto. Terlebih SI Banten dipimpin oleh tokoh moderat, Hasan Djajadiningrat.

Tokoh SI yang memainkan peran penting dalam perkembangan komunisme di Banten adalah Kiai Haji Achmad Chatib, menantu kiai terkemuka Haji Asnawi Caringin. Tokoh penting lain adalah seorang Arab, Ahmad Basaif, yang pandai bahasa Arab dan khusyuk beribadah.

Dia bersama Puradisastra dan Tubagus Alipan, menjadi pionir gerakan yang mengkombinasikan Islam dan komunisme di Banten. Kelak, tokoh-tokoh ulama bersama jawara memainkan peranan penting dalam pemberontakan PKI pada 1926. Pemberontakan serupa terjadi di Silungkang pada awal 1927, juga digerakkan oleh guru agama dan saudagar.

Misbach tidak mengatakan bahwa Islam dan komunisme bersesuaian tapi menganjurkan perlunya perintah agama diterangkan sebagaimana komunisme memberikan alat analisis dan cita-cita tertentu.

Dalam pikiran Misbach, al-Quran dan sunah sebagai rujukan utama umat Islam masih memerlukan alat analisis yang tajam. Baginya, ajaran Islam hanya menyediakan rambu-rambu tertentu agar manusia hidup selamat di dunia dan di akhirat. Selebihnya, manusia harus berjuang agar jangan tergelincir dalam jebakan-jebakan duniawi untuk meraih ridla ilahi.

Dalam hal ini, Misbach meyakini ‘atoeran2 kommunisten’ sebagai perkara yang dapat menerangkan keumuman dari perintah-perintah al-Quran. Hal ini dapat dilihat dalam tulisan sebelumnya.

Terlepas pemberontakan tersebut dapat dipatahkan, peristiwa ini menunjukkan bahwa Islam dan komunis pernah harmonis. Meskipun dalam pertemuannya bukan perkara ideologi, tetapi semangat perlawanan dalam menghadapi penindasan kolonial. “Mereka bertemu di jalan dan bubar di jalan, karena bukan persatuan organik antara agama dan ideologi.”