Mahasiswa
1 bulan lalu · 118 view · 3 min baca menit baca · Agama 89827_36634.jpg

Islam dan Bela Negara

Bela Negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam menjalin kelangsungan hidup bangsa dan negara yang seutuhnya. Jadi seluruh warga negara wajib ikut serta dalam bela negara.

Bela negara sejatinya telah dirangcang secara konstitusional tepatnya terdapat pada Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, yaitu “setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara”. Pasal 27 ayat (3) disebutkan bahwa : “Tiap – tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara”.

Ada beberapa cara dalam mengimplementasikan kewajiban bela negara untuk generasi saat ini, yaitu melalui pengakuan terhadap pancasila sebagai ideologi negara, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, taat hukum, toleransi antar umat beragama dan menjaga kohesi sosial antar sesama warga negara.

Selain diatur dalam norma hukum positif kewajiban bela negara juga merupakan perintah agama . Legitimasi dalil naqli tentang kewajiban bela negara tersebar dalam beberapa ayat Al-Quran, seperti halnya Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang mundur di waktu itu kecuali berbelok (untuk siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah dan tempatnya ialah neraka jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS. Al-Anfal 15-16). Ayat tersebut dapat dipahami sebagai dasar kewajiban dan sosio-historis, agar senantiasa membela harga diri dan kedaulatan negara.

Dan disebutkan lagi dalam Alquran bagaimana Nabi Ibrahim As mendoakan negeri yang ia tinggali (Makkah) agar aman dan makmur. "Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman kepada Allah dan hari kemudian...". (QS: Al-Baqarah:126).

Juga dalam ayat lain: "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala." (QS: Ibrahim: 35).


Kecintaan terhadap tanah air ini juga terekam dengan baik dalam hadis Rasulullah Saw., sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas, beliau bersabda: “Alangkah baiknya engkau sebagai sebuah negeri dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu.” (HR. Ibnu Hibban).

Dasar Al quran dan Hadis tersebut sangat jelas bahwa konsep Bela Negara benar-benar ada dalam Islam. Meski sebagian kelompok menolak konsep itu dikaitkan dengan politik Islam, namun dalam catatan sejarah, nilai-nilai itu dipraktikkan. Pengalaman-pengalaman selama pemerintahan yang dipimpin tokoh Islam selalu menyisakan kisah-kisah heroik tentang bagaimana muslim mencintai negaranya dalam banyak ekspresi.

Islam adalah agama yang lengkap-komprehensif. Segala ajaran, arahan, dan larangannya merangkum segala aspek kehidupan manusia. Termasuk didalamnya terdapat konsep mengenai bela negara. Banyak orang mengira bahwa konsep bela negara bertentangan dengan Islam yang mengharuskan berukhuwah antar sesama muslim tanpa ada sekat negara.

Bela negara merupakan salah satu perwujudan berukhuwah dalam Islam, yakni ukhuwah wathoniyah yang berarti mencintai dan bersaudara dengan yang sebangsa dan setanah air.

Persoalan bela negara dalam Islam di Indonesia memang cukup rumit, bela negara bukan hanya masalah geografis, akan tetapi nilai lokalitas dan kebudayaan yang seharusnya dijadikan jembatan antara nilai Islam dan kenegaraan. Bela negara dalam bentuk lain adalah mencintai tanah air sebagaimana mencintai Ibu kita sendiri.

Konsep jihad dalam Islam sering disalahfahami. Bagi pihak lain konsep ini sering ditangkap sebagai konsep genocide atau pemusnahan bagi mereka yang berbeda dengan (kebenaran, aqidah) Islam. Karena itu, kata jihad sering menjadi momok bagi orang-orang yang tidak seiman dengan Islam.

Maka timbul Islamophobia, rasa takut dan anti terhadap Islam. Bagi kalangan muslim sendiri, sebagian mempersempit pengertian jihad dengan usaha menyingkirkan setiap yang berbeda dengan “diri”nya, dengan faham dan keyakinannya, bila perlu dengan kekerasan.

Pengertian seperti inilah yang menyebabkan kesalahfahaman orang lain. Apalagi ada kalanya konsep seperti itu menjelma dalam tindakan.


Islam telah memperkenalkan jihad dengan konsep yang universal. Jihad memang mengandung pengertian perlawanan. Namun, perlawanan yang diusungnya adalah perlawanan terhadap nilai-nilai yang merugikan kehidupan manusia, perlawanan terhadap setiap yang tidak humanis. Seperti ketidakadilan, penganiyaan, perampokan hak dan seterusnya, yang sifatnya universal. 

Karena itu, Islam telah menegaskan bahwa jihad yang utama adalah jihad terhadap tirani sendiri atau jihad al-nafs. Dengan demikian, maka jihad dalam Islam tidak bertentangan dengan tujuan keberadaan islam sendiri, yaitu rahmatan lil alamin. Dari itu, maka setiap aktivitas jihad tidak boleh melukai orang lain, termasuk diri sendiri, sebab yang dilawannya adalah nilai, bukan orangnya atu fisiknya.

Dalam konteks bangsa dan negara kita, pelaksanaan "Bela Negara" dapat dilakukan oleh siapapun, dan dalam kondisi apapun. "Bela Negara" tidak hanya berhenti pada perjuangan fisik (memanggul senjata), namun juga bisa dilakukan dalam bentuk amal-amal baik yang bermanfaat.

Prinsipnya, sikap dan tindakan-tindakan positif yang bermanfaat bagi orang lain (apapun agama atau golongannya) yang didasarkan pada kecintaan penuh kepada negerinya adalah bentuk "Bela Negara".

Artikel Terkait