3 minggu lalu · 135 view · 4 menit baca · Agama 14573_23383.jpg
CNN Indonesia

Islam dalam Arus Ketegangan di Indonesia

Kuntowijoyo, seorang sejarawan Indonesia, dalam analisisnya menyebutkan bahwa keterlibatan umat Islam dalam sejarah Indonesia, mulai dari fase munculnya Kerajaan Demak, fase Kolonial, hingga fase kemerdekaan, senantiasa berlanjut dan berulang.

Kehadiran Islam di Indonesia ditandai dengan penyebaran Islam di kawasan pesisir. Peran dari para pedagang cukup besar dalam proses penyebaran Islam. Diterimanya Islam di kawasan pesisir tidak terlepas dari visi Islam yang mengakui persamaan hak antarmanusia.

Ketertarikan orang masuk Islam disebabkan oleh Islam tidak mengenal strata sosial, seperti agama sebelumnya yang dianut oleh masyarakat. Akibatnya, Islam dengan mudah diterima di kalangan pesisir yang banyak berprofesi sebagai pedagang.

Penerimaan Islam di kelas ekonomi menengah yang didominasi oleh pedagang lambat laun menjadi kekuatan secara sosial ekonomi dan politik. Hal tersebut juga tidak terlepas dari merosotnya Kerajaan Majapahit.

Proses perkembangan Islam mengalami kemajuan yang demikian pesat membuat secara politik melahirkan Kerajaan Demak sebagai identitas politik Islam. Kelahiran Kerajaan Demak tidak terlepas dari kalangan pedagang Islam.

Secara perlahan Kerajaan Demak mengalami perkembangan dan menjadi kerajaan maritim. Yang tentunya aktivitas perdagangan yang banyak mewarnai kehidupan masyarakatnya. Kerajaan Demak pun dengan begitu cepat menyebarkan pengaruhnya ke berbagai daerah.

Laju perkembangan Kerajaan Demak mengalami rintangan dan gangguan dengan hadirnya para Kolonial Eropa seperti Portugis, Inggris, dan Belanda. Menyebabkan Kerajaan Demak mengalami keterhambatan dalam aktivitas dagang.


Jatuhnya Malaka di tangan Portugis membuat Kerajaan Demak mengalami tantangan dalam proses perdagangan. Tetapi, upaya yang gigih dan mengerahkan berbagai kekuatan demi merebut Malaka dari tangan Portugis telah dicoba oleh Kerajaan Demak.

Tetapi, selama tiga kali Kerajaan Demak mengupayakan hal tersebut, malah setelah ketiga kalinya Kerajaan Demak mengalami kemerosotan dan tidak muncul lagi sebagai kekuatan politik yang menjadi simbol politik Islam.

Kemunculan Kerajaan Mataram yang berbasis di pedalaman Jawa yang memanfaatkan kultur agraris. Untuk menjadi penyedia dan pemasok beras, telah menjadi faktor yang turut serta menyebabkan kemunduran Kerajaan Demak. Sebab menguatnya simbol-simbol lama, yakni kalangan priyayi.

Masuknya pengaruh Kolonial Eropa dan bangkitnya kekuatan priyayi dengan lahirnya Kerajaan Mataram. Menyebabkan posisi Islam secara politik berada pada kondisi yang tidak menguntungkan.

Dalam bahasa Kuntowijoyo, umat Islam mengalami marginalisasi-periferalisasi yang menjadikan Islam sering kali tampil sebagai pelopor aksi protes terhadap penguasa, baik pada Pemerintah Kolonial Belanda maupun kepada penguasa priyayi lokal.

Ada banyak kasus yang menunjukkan berada pada pusaran ketegangan dengan pusat-pusat kekuasaan, entah dengan Kolonial Belanda maupun kepada penguasa lokal. Kasus Haji Ahmad Mutamakin yang terjadi pada daerah kekuasaan Mataram, yang menyebabkan dijatuhi hukuman akibat dianggap menyimpang dan melawan arus utama antara penguasa dan penghulu agama yang pro-penguasa priyayi.

Lain lagi dengan kasus Haji Ahmad Rifai juga mengalami ketegangan dengan arus utama yang tentunya didukung oleh penguasa. Akibatnya Haji Ahmad Rifai dijatuhi hukuman oleh para penghulu agama.

Pada masa tumbuhnya kesadaran nasional Indonesia yang juga dimotori oleh umat Islam. Yang datang tidak lewat bangku sekolah yang disediakan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Tetapi, lewat kesadaran kelas ekonomi menengah yang pedagang timbul kesadarannya akibat ketidakberpihakan Penjajah Belanda kepada Kaum Bumi Putra.

Akibatnya lahir Sarekat Dagang Islam yang mengalami banyak pengikut di kalangan Islam dengan berbagai latar sosial yang berbeda, termasuk serdadu Belanda yang pribumi. Tetapi, ketegangan-ketegangan dengan penguasa tidak dapat dihindari menyebabkan Sarekat Dagang Islam menjadi organisasi yang mendapat pengawasan Pemerintah Kolonial Belanda.

Dari rahim Sarekat Dagang Islam yang mengalami perubahan nama menjadi Sarekat Islam melahirkan semangat kesadaran dan nasionalisme di kalangan bumiputra. Tetapi, dari rahim Sarekat Islam pula melahirkan tokoh-tokoh yang berhaluan Sosialis Komunis seperti Semaun yang menjadi pimpinan Sarekat Islam Semarang.

Masuk masa kemerdekaan Islam sebagai salah satu kekuatan politik mengalami ketegangan dengan Presiden Soekarno. Yang menjadi faktor dibubarkannya Partai Masyumi dan tokoh-tokohnya akhirnya dipenjara.

Perubahan rezim dari Orde Lama ke Orde Baru ketegangan itu belum kunjung usai. Bila Orde Baru menarik tokoh-tokoh PSI dalam jajaran pemerintahan dan Golkar, tetapi tidak dengan tokoh-tokoh Partai Masyumi, bahkan pergerakan tokoh-tokohnya pun tidak diberi ruang gerak yang memadai.

Era reformasi yang menjadi harapan munculnya kembali kejayaan dan peran-peran yang bisa dimainkan oleh tokoh-tokoh Islam. Kemenangan Abdurrahman Wahid menjadi Presiden yang berlatar Nahdatul Ulama, Amien Rais menduduki posisi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat yang berlatar Muhammadiyah, dan Akbar Tanjung menjabat Ketua Dewan Perwakilan Rakyat berlatar Himpunan Mahasiswa Islam.

Kemunculan tokoh-tokoh Islam menduduki jabatan strategis pada era reformasi memberikan angin segar. Tetapi, rupanya kondisi itu tidak bertahan lama. Kejatuhan Abdurrahman Wahid dari posisi Presiden Republik Indonesia seolah menjadi cerita yang berbeda dari harapan umat Islam.

Beberapa pemilu yang diikuti oleh partai berasas Islam pada Era Reformasi menunjukkan cerita berbeda. Partai berasas Islam belum mampu bersaing dengan partai-partai berhaluan nasionalis-sekuler.

Ada hal yang perlu pula dicermati terkait Islam dalam pusaran ketegangan, yakni dua perhelatan pilpres pada tahun 2014 dan 2019. Umat Islam banyak berkonsentrasi dan mengambil bagian bahkan pasca-pilpres 2014 muncul aksi-aksi seperti 212.

Apalagi dalam arus ketegangan ummat Islam pasca-pilpres 2019 muncul akibat adanya perasaan ketidakberpihakan kalangan penguasa. Yang menjadi alasan total umat Islam dan seolah mengerumuni kekuasaan dengan berbagai argumentasi dan bukti yang dinilai tidak adil.


Meminjam analisis Kuntowijoyo, dapat dikatakan bahwa kehadiran umat Islam dalam arus sejarah pergolakan dan pergerakan senantiasa terjadi kesinambungan serta pengulangan. Dari masa Kerajaan Demak hingga Era Reformasi tampaknya mengalami kesinambungan dan pengulangan terkait ketegangan dengan kekuasaan.

Posisi Islam dalam arus sejarah bangsa Indonesia bisa dikatakan hanya berjasa dalam memulai. Sebagaimana dalam Kerajaan Demak ummat Islam telah memulai suatu corak kerajaan berbasis maritim. Tetapi akhirnya pupus oleh kekuasan Kolonial Belanda dan penguasa priyayi lokal.

Masa tumbuhnya kesadaran nasional dalam wujud Sarekat Dagang Islam/Sarekat Islam peran umat Islam memulai menghadirkan kesadaran nasional. Tetapi, pada masa kemerdekaan mesti menerima dengan suatu kenyataan aspirasi politiknya menjadi termarginalkan dan terperiferalkan.

Pada aksi 212 dan Ijtima Ulama I dan II serta entah dengan Ijtima Ulama III, apakah umat Islam hanya berperan sebagai aktor yang memulai? Tapi, setelah itu umat Islam diminta legowo memberi ruang kepada yang lain. Apakah episode itu akan terulang?

Artikel Terkait