Islamic State of Iraq and Syria atau dikenal dengan ISIS adalah sebuah gerakan  yang masih hangat diperbincangkan di belahan dunia manapun. Gerakan ini sendiri  dianggap bertujuan untuk membentuk negara Islam di Irak dan Suriah. Gerakan ini sering diidentikkan dengan gerakan terorisme dimana mereka siap melakukan apapun demi mewujudkan tujuannya.

Bukan bermaksud untuk mendukung atau menghujat gerakan ISIS yang terjadi sekarang, tetapi lebih kepada ingin mengulik gerakan ini lebih dalam lagi dikarenakan beberapa fenomena yang terjadi. Fenomena tersebut adalah pelebaran sayap mereka di beberapa negara diluar Irak dan Suriah seperti Indonesia dan negara yang terdapat umat Islam lainnya.

Walaupun umat Islam Dunia sendiri banyak yang mengutuk gerakan ISIS karena dianggap gerakan yang tiidak manusiawi dan Islami seperti menghalalkan pembunuhan dan aksi teror lainnya, tetapi ada juga sebagian umat Islam mengaminkan gerakan ISIS dan bahkan sepakat bergabung dalam gerakan tersebut.

Secara teoritis tentunya hal ini dapat dikaji. Jika kita mengenal sosok Benedict Anderson seorang penulis buku Imagined Communities (komunitas – komunitas terbayang) maka fenomena tersebut dapat dengan mudah dipahami. Ben Anderson mengatakan bahwa bangsa adalah komunitas politis yang dibayangkan, bersifat terbatas, dan berdaulat.

ISIS hari ini dapat dikatakan sebagai konsep nation atau bangsa yang bergerak melalui identitas (agama Islam). Identitas itu sendiri adalah tanda, teks, atau wacana yang memberikan pembayangan tertentu tentang kesamaan dan kebersamaan sebuah komunitas, dan atas dasar itu secara bersama – sama mereka membayangkan diri sebagai sebuah bangsa dengan menunda atau mengabaikan untuk semntara perbedaan – perbedaan antara mereka sendiri.

Lebih spesifik lagi fenomena ISIS tersebut dapat dikatakan sebagai komunitas religius, dimana identitas agama Islam yang mereka gunakan membuat koneksi yang kuat diantara umat Islam dunia. Walaupun diantara mereka belum pernah bertatap muka dan berinteraksi secara langsung, tetapi ikatan agama dan kondisi yang dianggap serupa membuat mereka terkoneksi.

Kondisi umat Islam yang hari ini banyak “tertuduh” sebagai kaum teror, membuat jengah mereka dan keadaan saudara mereka yang terus – terusan tertindas seperti di Palestina, Suriah dan negara lainnya semakin membuat mereka terintegrasi dalam memperjuangkan nilai – nilai Islam yang mereka yakini.

Terlepas dari segala kepentingan yang ada di balik gerakan ISIS, fenomena ISIS dapat dikatan sebagai bentuk kekecewaan umat Islam yang merasa tertindas dan terasingkan dibanyak tempat di dunia ini. Walaupun tidak semua umat Islam mendapati kondisi seperti itu, tetapi ikatan kuat doktrin agama Islam membuat mereka ikut merasakan penderitaan yang dialami saudara – saudara seiman mereka.

Harus diakui gerakan ISIS sendiri masih banyak terdapat kontroversi karena dianggap bukan “murni” gerakan Islam tetapi gerakan kontra intelijen yang diusung negara – negara Kapital untuk memecah belah umat Islam. Akan tetapi titik fokus tulisan ini bukan melihat ISIS sebagai gerakan kebenaran atau tidak, atau gerakan Islam murni atau tidak, tetapi ingin membuktikan bagaimana keadaan yang dibungkus oleh identitas dan mendapat kondisi tertindas secara terus menerus dapat membuat banyak manusia terkoneksi, dan ISIS telah membuktikan itu.