Penghangat ruangan murahan berbahan bakar gas alam itu terus saja membarakan kalor yang bisa dibilang tak panas lagi. Sudah sekian lama elemen keramik pemanasnya belum diganti. Itulah yang membuat ngos-ngosan untuk sebisa mungkin menyemburkan hangat, tuk sekadar memberi kenyamanan dua orang yang asyik bercakap itu.

Sepertinya udara dingin sekitarnya hanya menertawakan segala upayanya yang remuk redam ini. Beberapa suap makanan khas hummus dan kubbi yang berbahan daging kambing itu tak mampu mengusir lecutan hawa musim dingin bulan November di Gaza.

Keadaan makin runyam ketika penyuplai listrik, Israel Electric Corporation (IEC), telah memutus pasokan listrik di kawasan Gaza beberapa hari yang lalu. Utang listrik Otoritas "statelet" (negara bayi) Palestina kepada Raksasa Israel terlalu membengkak katak. Memaksa penduduk Gaza harus menjalani malam-malam dengan gulita yang nyata. 

Ini adalah sebuah fenomena yang cukup menarik. Getol melakukan perlawanan terhadap Zionisme, namun listrik masih berharap derap darinya.

Bapak dan anak itu makin mendekatkan telapak-telapak tangannya ke pemanas rombeng itu. Bau gurih rambut-rambut halus tangan yang terbakar tak mereka gubris. Seolah melengkapi orkestra keterpurukan ini.

"Bangunkan dua temanmu itu!" perintah Isidor kepada Ribika.

"Baik, Pak."

Dengan segera Ribika membangunkan dua teman aktivis yang mengungsi ke rumahnya. 

Mossad, dinas intelijen Israel, memburunya beberapa hari ini akibat ulah mereka yang telah melakukan disrupsi di Beit Sira, sebuah desa sekitar 15 kilometer dari Ramallah, Tepi Barat. Disrupsi mereka yang tidak mentereng sekali sebagai pejuang, yaitu menggigit kelamin anggota Mista'arvim saat berhasil mengencani mereka. 

Mista'arvim adalah pasukan intelijen yang dilatih secara khusus dan keras untuk menyamar menjadi orang Palestina yang akan menyusup di tengah masyarakat untuk menimbulkan kekacauan atau apa pun yang diharapkan oleh Israel.

Tak lama kemudian, dua temannya itu, si Hanna dan Abigail, sudah berkumpul di ruang tengah rumah yang setengah gubuk itu. Hampir semua dindingnya terbuat dari papan kayu yang dikombinasi dengan tumpukan ban bekas. 

"Ayo, kalian siapkan alat tulisnya!" perintah Isidor kepada ketiganya. 

Serempak ketiganya langsung menjulurkan kepala-kepala mereka ke lubang ban bekas untuk mengambil berkas dan alat tulis yang dimaksud. Ban bekas adalah rak buku dan tempat penyimpan dokumen terbaik di Gaza untuk survival. Sangat mudah dipindahkan dan sekaligus mudah dibakar. 

"Setiap keterampilan dan ajaran, begitu pula tindakan dan keputusan, pastilah mengejar salah satu nilai saja," ujar Isidor, seorang pejuang sayap militer partai komunis Palestina yang mengutip kalimat pembuka dari buku Etika Nikomacheia yang ditulis filsuf bernama Aristoteles itu.

Isidor, si bapak Ribika, adalah tongkat estafet perlawanan Gaza yang sekaligus orang keprcayaan George Habash, pendiri Front for the Liberation of Palestine (PFLP) yang berhaluan Marxis-Leninis itu. 

“Maksudnya, Pak?” tanya Ribika, anak perempuannya yang  sematan wayang dan mulai matang itu. Ribika dan kedua temannya baru saja menyesali hidupnya. Sudah lama bergabung dengan faksi HAMAS di bagian kearsipan. Mereka kira Islami, namun apa ada hanya pan-arabisme saja. 

"Sapentia et vertus Sapientia et virtus," ujar si Isidor yang makin membingungkan Ribika.

"ehhhh." 

Belum sempat memintah yang kedua kali, langsung saja bapaknya memotongnya, "Itu adalah kebijaksanaan dan kebajikan, seperti apa yang dilakukan dua temanmu yang melawan dengan cara unik itu."

Ribika mengangguk pelan, seolah menyetujui apa yang bapaknya jelaskan, Mungkin dalam pikirannya berbisik, "Dalam keadaan perang, apa saja boleh."

Ketiganya mulai mencatat manifesto-manifesto penting yang akan disampaikan besok pagi di depan massa PFLP. Baik Ribika, Hanna, dan Abigail, kini ketiganya mencoba peruntungan bergabung dengan Front for the Liberation of Palestine (PFLP) yang berhaluan Marxis-Leninis itu.

Mungkin bagi ketiganya. ini adalah cara terbaik agar tak banyak bersinggungan dengan halal-haram agama yang sangat mengikat itu. Ketiganya akan bekerja keras dalam kelompok-kelompok kecil terpenting dari para kelas pekerja keras dengan kesadaran sosialis sebagai akibat dari dialektika distingsi kelas dari semua bidang, termasuk kelas agama dengan Tuhannya.  

Di pikiran mereka, harus membuat kebijakan dan kebijakan baru untuk dicurahkan total kepada perjuangan melawan Zionisme tanpa halangan agama dan Tuhan. 

"Han, tubuhmu makin bongsor saja," celetuk Ribika di tengah kesibukan pencatatan dokumen untuk besok pagi itu. Diantara mereka, Ribika yang paling langsing. 

"Bukannya gemuk itu," Abigail mulai iseng sambil terbahak.

"Kalian jahat!"

Dan benar adanya, sejak blokade diberlakukan di wilayah Gaza, semua lini kehidupan lumpuh, termasuk keterbatasan untuk memilih makanan, membuat siapa pun akan condong pada bahan yang tinggi lemak dan rendah protein demi energi yang dihasilkannya. 

Alasannya jelas, bahan makanan seperti ini jauh lebih murah, dan tahan lama untuk disimpan. Sehingga obesitas banyak menyerang warga Gaza. 

Hanna dan Abigail dan warga lainnya hanya melakukan Coping Mechanism untuk bertahan dari blokade. Sebuah tingkah laku atau tindakan penanggulangan dengan sembarang perbuatan untuk menguasai, menoleransi, mengurangi, dan meminimalisasikan suatu situasi atau kejadian yang penuh tekanan.

Blokade dan penerapan DOM di wilayah sipil menimbulkan ketidakseimbangan kehidupan. Orang akan cenderung berdiam diri dan tak melakukan aktivitas fisik dalam jangka panjang untuk mengurangi risiko eksekusi acak. Inilah yang membuat obesitas wilayah Gaza mengerikan.

"Hanna, kamu yakin tempat ini tak terendus Mossad?" Abigail mulai ragu. 

"Ada apa, Gail?"

Memang, saat mereka istirahat tadi, Abigail sempat terdengar obrolan yang mencurigakan dari ruang tengah. Siapa lagi di ruang tengah kalau tidak si Ribika dan bapaknya?

Abigail mencoba peruntungan dengan membuat pertanyaan seperti di atas, dan ingin melihat reaksi si Ribika dan si Isidor.

"Kalian mencurigai kami?" Ribika mulai meradang. 

"Sudah! Kalian ini apa-apaan!" bentak Isidor yang sudah siap dengan peralatan penyusupan ke Beit Sira, tempat di mana Hanna dan Abigail melumpuhkan para mista'arvin, mata-mata Israel itu. 

Menurut info, mereka meninggalkan dokumen penting yang tercecer. Beberapa pejuang mengamankan dokumen tersebut. Suasana yang tak mengenakkan itu berhasil dinetralisasi oleh Isidor. Mereka berempat akhirnya berangkat juga menuju sasaran.

Sementara di Beit Sira, sudah berkumpul pejuang dari Hamas. Ada lagi yang berhaluan komunis, tapi tidak radikal, Palestine Communist Party yang didirikan Suleiman Najjab pada 1984 itu.  

Kemudian yang berhaluan sosialis juga ada, yaitu Popular Democratic Front for the Liberation of Palestine (PDFLP), yang didirikan oleh Nayif Hawatmeh pada 1969. Semua berkumpul untuk membahas dokumen Israel yang berhasil mereka dapatkan lewat perlawanan yang mungkin dianggap enteng sekali, yaitu yang dilakukan oleh Hanna dan Abigail itu.  

"Kita berkumpul pagi ini, atas jasa Hanna dan Abigail," sambut perwakilan Hamas.

"Free Palestine!!" yel-yel mulai berkumandang. Pagi yang beku di pinggiran itu terasa memanas. 

Namun, kegelian juga merasuki ke setiap hati kecil mereka. Bagaimana tidak, sekali lagi, dokumen rahasia itu jatuh ke tangan mereka dengan cara yang sangat menggelikan bagi telinga mereka yang rata-rata sudah terbiasa dengan ledakan-ledakan amunisi. 

"Bahwa kemerdekaan Palestina diperjuangkan oleh seluruh warga Palestina, dari yang kiri maupun kanan, dari yang moderat sampai radikal, dari yang Islam sampai Kristen, dari yang ateis sampai agamis," kembali pidato perwakilan Hamas itu berkumandang. 

"We hate zionism!!" kembali yel-yel berkumandang memekakkan telinga. 

KIni giliran wakil dari PDFLP yang Marxis-Leninis itu giliran memberikan sambutan .

"Kenanglah perlawan kami pada September 1970, tentang Bandara Revolusi, kami berhasil membajak empat pesawat!" kata sang wakil dengan semangat sambil diiringi rentet muntahan peluru ke udara. 

"Free Al-Quds!!" lagi-lagi yel-yel berkumandang. 

Sejarah komunisme di tanah Palestina bahkan sudah jauh lebih tua dari yang dibanggakan FDFLP. Partai Komunis Palestina (PKP) sudah berdiri pada 1919 dan diakui oleh Cominter pada tahun 1924.

"Zionisme sebagai borjuasi dan hedonis Yahudi telah bersekutu dengan kekuatan imperialisme Barat, harus kita bendung!!" teriak wakil dari kelompok PKP yang sepertinya lebih senior dan berhak.

PKP merupakan salah satu dari empat komponen utama Intifada pertama. PKP memainkan peran penting dalam memobilisasi dukungan akar rumput untuk bangkit melawan pendudukan Israel.

Susana mendadak panas, tiap kelompok sepertinya merasa berhak dan merasa berjasa atas pejuangan selama ini. 

"Kami berhak menganalisis dokumen itu!"

"Oh, tidak, kamilah!"

"Tidak bisa, kami lebih pantas!"

"Enak saja!!!"

"Sialan!"

"Kami pokoknya!!"

"Tenaaaanggggg!" tiba-tiba Isidor angkat bicara. Dia memang senior, penerima tongkat estafet langsung dari George Habash, pentolan FDFLP yang Marxis-Leninis itu.

Suasana dapat dikontrol, massa tenang sesaat.

"Ribika, panggil Hanna dan Abigail!" titah sang Ayah.

"Mereka berdua pergi saat kalian ribut," jawab enteng Ribika.

Kemudian dengan tenang Ribika naik panggung, dan mulai angkat bicara.

"Dan, kalian terlambat!" tiba-tiba Ribika berteriak histeris.

Tampak dokumen itu terjatuh dari tangannya yang sedari tadi masih tersegel rapi. Rupanya Ribika tak sabar, ia buka diam-diam di saat mereka ribut dan setelah Hanna dan Abigail pergi.

Isidor berjalan mantap mengambil dokumen itu. Dibukanya saja tanpa menghiraukan yang lain. Ia juga merasa berhak membuka dokumen tersebut. Dengan terkejutnya dibacanya gambar data rapi tapi mematikan di dokumen tersebut:

Tak lama kemudian, sebelum sempat matanya berkedip, terdengar suara khas dorongan rudal jenis  fire and forget yang mendesis keras. Dan, gelaplah semua.