Gangguan mental atau penyakit mental adalah gangguan serius yang dapat mempengaruhi pemikiran, mood, dan perilaku seseorang. Penyakit ini menyerang pada lingkup remaja di seluruh dunia.

Tanpa bisa dipungkiri, ketika manusia menginjak pada zona remaja di mana kebingungan, kemarahan, dan kebahagiaan saling berebut untuk  mendapatkan posisi utama. Kita membutuhkan rumah, bukan dalam artian rumah dengan keluarga di dalamnya ya, melainkan kita butuh ruang untuk menghela nafas di saat dunia dan seisinya sangat sesak.

Di saat semua orang asyik memburu kita, di saat isi kepala terlalu liar dalam mengambil keputusan, dan di saat mulut dipaksa bungkam walaupun tidak ada yang memaksanya. Kita berbicara tentang seorang manusia yang seharusnya menggapai mimpi, namun malah terbelenggu di dalam ruangan pengap dan penuh tragedi.

Kita ini sedang sakit, sama halnya dengan penyakit lain, kita butuh pertolongan. Bukannya tidak bersyukur, tapi kesepian, sedih, merasa tak berharga yang terus-menerus menjadi alasan untuk menangis dan terus menangis.

Namun sebelum melanjutkan, apakah kalian sudah mengenali diri kalian dengan baik? Tidak jarang seseorang justru merasa asing dengan dirinya sendiri. Mereka seolah-olah manusia yang kosong hidup dalam bayang-bayang orang lain tanpa mengetahui apa yang sebenarnya mereka inginkan.

Depresi itu nyata, bukan hal yang memalukan atau bisa disepelekan. Keluarga, teman yang banyak, mereka ada namun entah mengapa tak mengisi apa-apa. 

Namun, sebagian besar remaja tak perlu diragukan lagi keahliannya dalam mengenakan topeng, di depan orang lain selalu tersenyum bahkan tertawa lepas, tapi di belakang? Siapa tahu. Hampir seluruh pepatah berkata “jadilah dirimu sendiri” terdengar mudah, namun di dunia ganas ini? Tidak yakin.

Rasanya sangat sulit untuk mendapatkan kebahagiaan, walaupun sudah bersikeras untuk membuat kebahagiaan itu sendiri. Kehidupan yang membosankan, dan pikiran akan kematian, membuat hari-hari terasa sangat berat dan menyedihkan.

Bagaimana merasakan hidup dengan jiwa yang mati? namun di waktu ini yang terpenting bukan cinta dari pangeran ataupun raja, melainkan cinta dari dalam diri sendiri. Kalian berhak menjadi pemilik atas dunia kalian sendiri, melakukan apapun yang kalian inginkan, sehingga hidup akan menjadi hidup tanpa penyesalan.

Apabila seorang remaja dinyatakan menderita depresi, dokter akan memberikannya penanganan berupa obat-obatan, seperti antidepresan. Selama pengobatan berlangsung, peran orang tua sangat ampuh untuk membantu anak remaja mereka pulih dari depresi.

Sebagai orang tua, penting untuk mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan depresi, misalnya dengan bagaimana harus menyikapi dan bagaimana teknik berkomunikasi dengan penderita depresi. Upaya mengetahui informasi tentang depresi, akan membuat para orang tua bisa lebih memahami tentang apa yang sebenarnya dialami dan dirasakan oleh anak remaja kalian.

Langkah kedua adalah sebisa mungkin orang tua selalu siap mendengarkan segala keluh kesah anak remaja kalian, tatap matanya atau pegang erat tangannya saat ia bercerita supaya ia merasa lebih nyaman. Jika anak remaja kalian belum terbiasa bercerita, bisa diawali dengan mengajukan pertanyaan supaya mereka bisa bercerita, contohnya seperti ini, “Bagaimana harimu?”, atau “Apa yang kamu rasakan hari ini? Yuk, cerita dengan Bunda.” Ingat ya bunda, saat ia bercerita, jangan menghakimi atau terkesan menginterogasinya.

Langkah ketiga adalah dengan mengingatkan anak remaja kalian untuk rutin untuk olahraga supaya suasana hatinya menjadi lebih baik. Selain itu, pastikan juga ia mengonsumsi makanan sehat dan tidur yang cukup setiap harinya.

Langkah keempat yaitu dengan membuat batasan waktu dalam penggunaan gadget, alih-alih terus berkutat dengan ponselnya, ajaklah anak remaja kalian untuk lebih sering melakukan kegiatan yang positif dan bergaul dengan lingkungan yang baik. Orang tua perlu lebih jeli terhadap perubahan yang anak remaja kalian alami.

Jika sudah menunjukkan gejala depresi, sebaiknya segera ajak ia berkonsultasi dengan psikolog dan psikiater guna mendapatkan penanganan lebih lanjut. Konsultasi dengan psikolog dan psikiater merupakan salah satu cara ampuh yang diyakini keberhasilannya untuk menyembuhkan penyakit mental ini.

Orang tua wajb waspada, perilaku melukai diri sendiri yaitu secara sengaja dalam upaya untuk mencoba mengekspresikan atau mengendalikan rasa sakit batin. Tindakan ini seperti melukai diri sendiri, memukul diri sendiri, mencabut rambut, dan mencabut kulit.

Perilaku impulsif ini dapat dilakukan berulang kali, itulah bahaya depresi remaja yang tentu ayah dan ibu tidak pernah harapkan. Jika anak menunjukkan gejala depresi, upayakan untuk mendekatinya, menenangkan, dan mencari solusi bersama.

Semua uraian yang penulis sampaikan adalah perwakilan dari berjuta-juta diri manusia yang beranjak kepala dua. Penulis juga memahami bahwa tulisan di atas tidak saling berkesinambungan antara satu dengan lainnya.

Terlihat seperti sepele dan tidak bermakna. Tapi, apabila melihat dari sisi remaja yang sedang depresi akan timbul rasa senasib dan seperjuangan.

Penulis ingin menitipkan pesan untuk seluruh remaja tanpa terkecuali, karena penulis yakin semua pasti akan mengalami hal ini, tergantung dengan cara melihat dan menghadapinya. Pesan penulis Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu selain dirimu sendiri, dan kamu layak diselamatkan.

 Ini perang yang tidak mudah dimenangkan, tetapi jika ada sesuatu yang layak dimenangkan maka inilah saatnya. Jadi, mari kita para remaja untuk memperjuangkan hidup kita masing-masing. Hidup para pejuang depresi!