Ada yang kenal dengan wajah tersebut? Kalau iya, berarti tontonan kita sama saat tahun 2000an.

Tayangan-tayangan semacam ini -- sebut saja salah satunya Keluarga Cemara, sudah menjadi barang yang langka di pertelevisian saat ini. Tayangan yang memberi nilai-nilai moral, pengetahuan umum, semangat perjuangan menggapai cita dan sebagainya, sepertinya sudah dibuat "tidak laku" dan kemudian diganti dengan tayangan yang sama sekali, entahlah, tidak memiliki nilai moral yang bisa dipetik.

Sebut saja, dulu, kita menyaksikan Who Wants to be a Millioner, Oprah Winfrey, Are You Smarter than a 5th Grader. Kini, ruang bergosip penambah dosa menjamur. Tayangan (yang katanya) lucu-lucuan seperti Pesbuker, YKS, dan sebangsanya tidak lebih dari gudang kata-kata hujatan, gombalan, dan percakapan-percakapan yang, saya tidak mengerti, dari sisi mana saya bisa dapatkan nilai positifnya pun menjamur.

Belum lagi "opera sabun" yang tayang hingga berjam-jam dengan ribuan episode juga ikut-ikutan menjamur. Meski tak dipungkiri juga, masih ada tayangan yang menawarkan nilai-nilai positif, sebut saja Kick Andy, Mata Najwa, Laptop si Unyil, Bolang, dan On the Spot. Namun sayangnya, jumlah dan pamor tayangan mendidik ini masih kalah dengan tayangan-tayangan micin.

Mari kita lihat faktanya. Dibandingkan dengan masyarakat ASEAN yang hanya menghabiskan waktu 2-3 jam untuk menonton tayangan TV, masyarakat Indonesia menghabiskan waktu 5 jam lebih (kpi.go.id). Waktu yang tidak sedikit. Bukan masalah jika tayangan yang disajikan memiliki nilai didik dan hiburan yang sepantasnya ditonton selama itu, namun jika yang ditonton selama 5 jam yang bernilai sebaliknya?

Jadi, tidaklah mengherankan jika perilaku kini dipengaruhi dari konten tontonan saat ini. Kita bisa menyaksikan perilaku-perilaku yang dianggap tabu, bahkan dulu saya tak pernah membayangkan perilaku-perilaku yang ada sekarang, kini terjadi.

Siapa yang menyangka bahwa kini siswa SD sudah ada yang tawuran? Siswa SMA dan SMP dengan cinta monyetnya yang berpacaran sama romantisnya sebagaimana diperlihatkan sinetron: bawa bunga, berlutut, will you be mine, rangkul sana-rangkul sini, panggilan ay-bun, mom-dad, padahal belum menikah. Parahnya, kita sudah bisa menjumpai anak SD berperilaku serupa.

Belum lagi, video balita dan anak-anak kecil menirukan percakapan ala-ala sinetron diselingi dengan istilah yang tak sepantasnya mereka ucapkan. Banyak yang menganggapnya menggemaskan, lucu, dan istilah imut lainnya, namun bagi saya itu sangat memprihatinkan.

Juga, video yang menampilkan laki-laki gemulai berlenggak-lenggok sana-sini, berbicara layaknya perempuan dianggap lucu. Sekarang, segala sesuatu yang menyimpang dianggap sebagai lelucon belaka.

Lantas, siapa yang bertanggung jawab dari banyaknya tayangan-tayangan micin yang berseliweran saat ini? Tentu bukan televisinya, namun pihak stasiun televisi.

Banyak "kepala" yang bekerja di balik sebuah tayangan, dan inikah hasil dari "kepala" tersebut? Hmm, atau jangan-jangan, mereka sengaja memperbanyak tayangan-tayangan micin dan berita-berita hoax, agar masyarakat Indonesia terlatih untuk tidak berpikir dan mencegah agar kita "pintar", yang hanya tahu tentang kehidupan artis dan para pesohor lainnya, hanya tahu apa yang sedang "In".

Saya kerap kali berpikir, bagaimana menghindari atau setidaknya, mengurangi waktu menonton, baik melalui TV maupun online (Youtube, misalnya) dan cara-cara bersifat praktikal tersebut telah tersedia dan sangat mudah diperoleh di media-media cetak maupun online.

Namun, kembali lagi, cara-cara tersebut tidak berefek jika tidak force ourselves to do that, even though it is not easy. Jika kita menghendaki tayangan yang sepenuhnya menghibur plus mendidik, tentu diperlukan kerja sama yang massif dari semua kalangan. Kapan hal itu bisa terjadi?

Jika tontonan receh masih mendominasi, mungkin buku bisa menjadi penyelamat. Mengutip kalimat dari salah satu novelis kondang Indonesia, Tere Liye:

“Semoga anak-anak kita masih punya alternatif tontonan yang baik. Kalaupun di televisi tidak ada lagi, maka semoga mereka punya bacaan yang baik. Novel-novel yang baik. Buku-buku yang baik. Boleh jadi, dari sanalah kita bisa melahirkan generasi berikutnya yang lebih baik.”