Sebagai anak dari seorang petani saya sudah lama gundah gulana setiap melihat pertanian di Indonesia. Profesi petani di indonesia dianggap sebagai simbol ketidaksusesan, tidak hanya oleh orang yang tidak berprofesi sebagai petani tapi juga oleh petani itu sendiri.

Saat anak-anak pertama kali masuk sekolah ketika mereka ditanyakan cita-citanya oleh guru sebagain besar dari mereka pasti akan bilang ingin jadi guru, polisi, tentara, dokter, pilot dan sebagainya. Hampir tidak ada anak-anak yang bilang ingin menjadi petani.

Banyak orang tua yg berprofesi sebagai petani menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi agar si anak tidak bernasib seperti dirinya yang 'hanya' menjadi petani. Petani dianggap sebagai profesi yg tidak menjanjikan secara materi dan kalah populer dibandingkan profesi yang lain.

Dengan segala anggapan tidak populer terhadap profesi petani maka tidak heran jika negara seluas indonesia masih banyak hasil-hasil pertanian yg masih impor dari negera lain. Saya pernah membaca di media bahwa singkong saja Indonesia masih impor.

Beras impor dari thailand, vietnam dan negera-lain yg lahan pertaniannya masih kalah luas dgn lahan pertanian di indonesia.

Lalu kenapa hal itu bisa terjadi?

Sebagai anak seorang petani, saya mencoba menganalisa semampu saya kenapa hal itu bisa terjadi. Pertama, profesi petani dianggap simbol ketidaksuksesan di negeri ini bahkan oleh petani itu sendiri. Banyak anak-anak petani disekolahkan tingg-tinggi agar mereka tidak jadi petani seperti orang tuanya.

Tapi seorang petani punya pemikiran seperti itu bukan tanpa dasar, hasil panen yg kadang tidak sebanding dgn biaya dan tenaga dikeluarkan membuat petani frustasi dgn keadaan. Ditambah lagi cuaca yang tidak menentu membuat tanaman jadi rusak.

Hama yang semakin banyak dan biaya obat dan pupuk yang semakin mahal.Bagi mereka menjadi petani adalah suatu kesialan karena walaupun sawahnya luas namun tidak banyak menghasilkan secara ekonomi. Dan hal itu membuat mereka berharap agar anak-anaknya tidak menjadi petani.

Kedua, stigma yg tertanam di lembaga pendidikam tentang pertanian itu turut andil dalam membentuk pendangan siswa terhadap bidang pertanian. Menjadi petani dianggap sesuatu yg tidak keren, dan tidak menjanjikan secara ekonomi. Para siswa lebih suka mengejar profesi kelas perkotaan seperti pegawai perusahaan, tenaga IT, dokter, guru, TNI, Polisi dan sebagainya.

Dari beberapa media yg saya baca, jurusan yang paling banyak dipilih oleh calon mahasiswa tidak ada satupun jurusan pertanian di dalamnya contohnya bisa dilihat di tautan ini. Beberapa media malah menulis bahwa jurusan pertanian adalah jurusan yang dianggap akan bubar karena sepi peminat.

Dengan segala anggapan yang kurang populer itu maka tidak ada anak-anak muda yang ingin terjun ke bidang pertanian, tidak ada kreatifitas anak-anak muda yang tersalurkan pada bidang pertanian layaknya bidang-bidang teknolgi yg maju pesat.

Pertanian indonesia menjadi mandek dan hanya jalan ditempat karena yang mengelola hanya generasi tua dengan teknologi yang sudah tua pula. Para petani yg tersisa adalah orang-orang yg terpaksa menjadi petani karena tidak ada bidang lain yang lebih menjanjikan dan bisa mereka kerjakan.

Namun belakangan orang-orang tua yang jadi petani itu malah banyak juga yang pindah ke kota untuk bekerja apa pun, sebagai kuli, sebagai tukang ledeng, pedagang asongan atau apapun yang bisa menghasilkan daripada jadi petani. Akhirnya, jangankan menambah orang agar jadi petani. Mempertahankan petani yang sudah ada agar tidak lari ke profesi lain saja mungkin sangat susah.

Kalau di daerah saya di Madura sana, lahan pertanian sudah banyak yang ditinggalkan karena anak-anak mudanya besar sedikit langsung merantau ke kota-kota besar jadi kuli. Sedangkan para orang tua yang masih bertahan umumnya bertani agar sawah dan ladang mereka tidak ditumbuhi semak-semak dan tumbuhan liar. Karena memang tidak menghasilkan apa-apa.

Saya berharap masyarakat dengan bantuan pemerintah merubah mindset 'tidak populer' terhadap profesi petani agar anak-anak muda yang cerdas-cerdas itu mau dgn keinginannnya sendiri terjun langsung dibidang pertanian. Agar bidang pertanian di indonesia maju pesat dgn sentuhan kreatif anak-anak muda seperti bidang-bidang lain yang sudah maju duluan.

Perubahan cuaca dan hama yang merusak pertanian itu bisa diatasi oleh tangan-tangan kreatif anak muda yang cerdas dan memiliki pendidikan tinggi dibidang pertanian.

Bagaimanapun juga Indonesia yang punya lebel sebagai negera agraris harus memiliki SDM yang bagus dibidang pertanian agar lahan pertanian Indonesia yang sangat luas ini bisa dikelola dengan baik dan menjanjikan secara ekonomi agar kelak Indonesia bisa berhenti melakukan impor hasil pertanian dari luar negeri karena hasil pertanian dalam negeri sudah mencukupi.

Bahkan bukan tidak mungkin indonesia yang melakukan ekspor hasil pertanian ke luar negeri mengingat lahan pertanian indonesia yang sangat luas. Hal itu bisa terealisasi jika anak-anak muda mau jadi petani dengan bermodal pendidikan pertanian di perguruan tinggi.

Perlu diketahui juga daya tarik indonesia di mata orang asing, selain budaya dan keindahan alamnnya juga bidang pertaniannya. Di Bali turis-turis asing banyak menjadikan sawah yang berjejer-jejer dan tersusun rapi sebagai objek wisata favorit.

Saya yakin tidak ada satu pun turis asing datang ke indonesia untuk melihat bidang teknologi yang dihasilkan orang indonesia karena spesilisasi orang indonesia bukan dibidang itu. Jika hanya ingin melihat kemajuan teknologi mereka pasti akan datang ke Amerika, Jepang dan negera-negera Eropa yang lebih ahli di bidang teknologi.