“Sudahlah jangan kau banyak tanya! Kau baca dan hafal aja!” Begitu celoteh salah satu guruku dengan aksen khas Bataknya yang masih saya ingat sampai sekarang. Sebagai generasi millenial, saya merasa responnya menjadi sesuatu yang wajar-wajar saja pada masa itu. Guru banyak memberi perintah. Siswa banyak melaksanakan instruksi mereka. Silap mata, kita tidak lakukan, tangan guru melayang bahkan penghapus kayu khas untuk menghapus tulisan kapur ikut menghantam kepala kita.

Kita melapor kepada mak-e (Ibu) kita, dia pun berkata, “Pantaslah kau terima. Jogal (bandel) kali kau. Tak kau dengar apanya gurumu itu.” Itulah kira-kira sekilas kisah saya bersekolah di tahun 90-an. Kala itu, kita hanya bergantung kepada guru sebagai sumber informasi. 

Apapun yang dia bilang, kita pasti percaya dan turuti. Masa itu, perpustakaan juga belum ada di setiap sekolah apalagi internet yang kita kenal sekarang ini dengan sedemikian cepat dan masifnya dalam pengkinian, penyajian dan pencarian informasi.

Sistem pendidikan saat itu tidak banyak menerima kritikan seperti sekarang. Coba saja kita menjewer telinga siswa kita sekarang. Walaupun hanya menyentuhnya saja, bersiaplah kita dengan orang tua yang hadir bahkan aparat penegak hukum yang hadir mengadili kita. 

Mau tak mau, kita pun meninggalkan cara demikian bahkan semakin sadar bahwa hukuman fisik juga tidak membuat efek jera yang positif dan berlangsung efektif lama karena bukan kesadaran siswa yang dibangun.

Namun sayang perubahan ini belum berlanjut di dalam proses pembelajaran di kelas. Ini yang masih menjadi tantangan besar dan menjadi catatan merah bagi pendidikan kita. 

Baca Juga: Bukan Guru Biasa

Berbagai penelitian juga sudah membuktikan bahwa alokasi besar dana pendidikan itu tidak berkorelasi dengan peningkatan kualitas pembelajaran kita. Buktinya, hasil survei PISA 2018 menunjukkan skala literasi, numerasi dan sains mengalami penurunan.

Belum lagi, perubahan kurikulum selalu ditanggapi oleh guru dengan sinis sehingga muncul motto ganti menteri, ganti kurikulum. Kalau mau dikaji, sebetulnya tidak selalu pergantian kurikulum adalah sesuatu yang buruk. Memang benar dan harus diakui kelelahan bahkan frustasi para guru dalam mengikutinya memberi tekanan tersendiri bagi sebagian besar guru apalagi guru yang sudah nyaman dengan ketidakmauan untuk belajar.

Disrupsi Teknologi

Meskipun demikian, kita sebagai guru perlu bernalar kritis dalam membaca kondisi dunia saat ini - pasca pandemi yang berangsur pulih. Kita hidup di dunia yang semakin terhubung satu sama lain. Konektivitas antar negara semakin mudah. Informasi sebegitu cepat dan mudah diperoleh. 

Keadaan ini sungguh tak terbayangkan di masa dulu kita bersekolah. Ini hanya satu dari banyaknya fenomena perubahan masif yang sedang terjadi. Terlalu banyak contoh disrupsi teknologi yang sedang berlangsung saat ini dan mustahil untuk dielakkan di dunia pendidikan.

Perubahan demikian seharusnya membuat kita para guru lebih kritis di dalam mengajar di kelas. Kalau dulu di kala pandemi, kita bisa maju dengan menggunakan beragam aplikasi seperti Gmeet, Zoom, Google classroom dsb. Masakan masa sekarang kita tinggalkan ketika kita sudah bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka penuh.

Seharusnya kita tetap merangkul teknologi dalam pelaksanaan pembelajaran yang lebih efektif dan menyenangkan bagi siswa kita. Selain itu, kita sudah seharusnya meninggalkan pola pembelajaran lama yang tidak lagi memberdayakan potensi hebat mereka. Kita suruh, mereka lakukan.

Dengan demikian, guru tidak bisa lagi asyik berceramah menyampaikan materi pembelajaran, sementara siswa mendengarkan, mencatat dan meringkas. Kita semestinya sadar diri. Kita bukanlah yang maha tahu pada masa sekarang. Alangkah bodohnya kita melawan kehebatan teknologi sekelas Google dalam mengajarkan informasi pengetahuan dan bahkan keterampilan melakukan sesuatu.

Padahal mereka adalah generasi emas yang perlu dipersiapkan sedini mungkin lewat pendidikan yang memberdayakan mereka bukan malah memalaskan pikiran dengan suguhan pengetahuan hafalan belaka. Atau barangkali kita sendiri sudah terlalu nyaman menyajikan soal pemahaman dangkal yang seluruh jawabannya bisa dengan mudahnya dicontek, ditanya ke teman sewaktu ujian atau di-Google saja.

Ketidakprofesionalan Guru

Kita tidak semestinya lagi meninggalkan tugas PR menjawab soal latihan semata. Mereka sudah mengumpulkan tugas. Ironisnya, kita tidak memberikan umpan balik dan membahasnya bersama. 

Celakanya, ketika ujian tiba, kita menguji mereka dengan topik berbeda sehingga muncul istilah lain yang diajar, lain pula yang diuji. Kita menganggap siswa seperti tidak tahu apa-apa padahal mereka tahu. Mereka hanya segan untuk memberikan saran, menegur atau bahkan mengkritik kita.

Akibatnya, kekayaan akan makna pembelajaran hanya dibangun sebatas mengerjakan tugas latihan berlembar dan berulang di bab selanjutnya dan selanjutnya. 

Dengan terpaksa karena alasan nilai atau takut hukuman, siswa mau tidak mau patuh untuk mengerjakannya. Mereka tidak berbagian di dalam pembelajaran bermakna lewat pembelajaran yang melatih kemampuan berpikir kritis mereka dan membangun dialog.

Selain itu, kadang kita suka marah dengan alasan tak jelas di kelas. Tidak mengherankan kalau siswa merasa bosan dan tidak antusias terhadap pembelajaran kita. Metode pembelajaran sama berpusatkan pada guru terus-menerus terjadi sementara kita menuntut siswa untuk mengerti apa yang kita sampaikan. 

Kita sesungguhnya sama seperti yang disebutkan oleh Albert Einstein, “Insanity is doing the same thing over and over again, but expecting different results (Ketidakwarasan adalah melakukan hal yang sama berulang kali tapi mengharapkan hasil yang berbeda).”

Lalu, kita menjadi suka mengeluh dan berkata, “Kelas ini payah, bandel, tak mau belajar, mereka tidak mau mendengarkan saya.” Kita sama sekali tidak berdialog untuk mengetahui kesenangan dan kendala belajar mereka, mengarahkan mereka untuk refleksi diri dan bahkan kita tidak berani membuka diri untuk dikritik selama pembelajaran. Kita terlalu sibuk menyelesaikan seluruh topik ajar yang menurut kita paling penting di setiap pertemuan.

Paradigma pendidikan saat ini sesungguhnya bukan tentang konten/materi banyak yang terutama tetapi bagaimana mengoptimalkan keterampilan berpikir kritis, berkolaborasi, berkomunikasi dan berkreasi para siswa di dalam konten tersebut. Inilah yang harus ditekuni oleh guru. 

Tiada cara lain, guru wajib mengembangkan aktivitas pembelajaran yang berpusatkan pada siswa. Pembelajaran berbasis proyek adalah salah satunya.

Ketidaksadaran kita akan kebermaknaan pembelajaran telah merongrong perkembangan siswa itu sendiri untuk menjadi dirinya yang sebenarnya, pembelajar mandiri dan sepanjang hayat. 

Dengan standardisasi selembar atau beberapa lembar kertas ujian, kita dengan mudahnya mengukur kompetensi pengetahuan siswa yang dominan berbasiskan lower order thinking skills. Padahal kehidupan nyata itu lebih kompleks dan membutuhkan multi kompetensi, lebih dari ujian di atas kertas.

Dengan adanya kurikulum merdeka sekarang, seharusnya kita berefleksi untuk menjadi guru yang mawas diri dan berdaya. Kita manfaatkan beragam konten inspiratif dan edukatif yang ada di Platform Merdeka Mengajar yang sudah diluncurkan oleh Kemdikbudristek sejak Februari 2022. Kita mulai menjalankan pembelajaran yang berpihak kepada kebutuhan mereka bukan kebutuhan sistem sekolah apalagi tuntutan kurikulum.

Kita tidak lagi meresponi ketidaktuntasan seluruh kompetensi dasar dalam satu semester atau satu tahun dengan perasaan bersalah, tertekan atau takut kepada kepala sekolah dan pengawas. 

Seluruh pemangku kepentingan seharusnya juga terbuka akan perubahan ini sehingga ketidaktuntasan tidak disinyalir sebagai ketidakcakapan seorang guru dalam mengajar dan mengelola pembelajaran. Kita justru harus lebih merasa berdosa ketika kita masih mempraktikkan pembelajaran "mengisi ember" semata ke siswa kita di era disrupsi teknologi 4.0.

Saatnya kita ikut membenahi keterampilan literasi dan numerasi para siswa. Hal ini juga sejalan dengan pelaksanaan Asesmen Nasional yang sudah berlangsung kedua kali tahun ini. Hasil itu sudah tertuang dalam Rapor Pendidikan setiap sekolah. 

Kita bisa tahu berapa persen siswa yang berada di capaian mahir, cakap, dasar dan perlu intervensi khusus. Rapor ini sekaligus memaparkan rekomendasi lainnya yang perlu disikapi dengan perubahan nyata.

Literasi adalah kecakapan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Adalah benar hampir seluruh masyarakat Indonesia tidak memiliki masalah buta aksara pada saat ini. 

Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 menunjukkan persentase buta aksara sebesar 1,71 persen, atau 2.961.060 orang dari seluruh penduduk Indonesia berusia 15-59 tahun.

Akan tetapi, literasi bukan hanya sekedar kemampuan membaca tetapi juga kemampuan memahami, mencerna informasi bacaan secara kritis bahkan memanfaatkannya untuk kebermaknaan hidup. Bahkan, menurut UNESCO, minat membaca orang Indonesia masih tergolong rendah. Cuma 1 dari 1.000 orang Indonesia yang suka membaca. Budaya literasi wajib ditumbuhkan sejak di sekolah.

Tidak hanya itu, numerasi adalah keterampilan penting dalam memecahkan persoalan sehari-hari dengan matematika praktis untuk keberlangsungan hidup seseorang. 

Dalam hal ini, penulis pernah memberikan soal numerasi sederhana tentang potongan harga (diskon). Hasilnya sungguh di luar dugaan, ada sekitar 10 siswa dalam satu kelas yang menganggap potongan harga 20% itu adalah 100 per 20 padahal seharusnya 20 per 100. 

Sudah seharusnya kita sebagai guru harus melek dengan semua perubahan tersebut. Kita perlu membekali diri dengan lebih banyak membaca untuk bisa menyampaikan topik pembelajaran literasi dan numerasi yang relevan dan menarik. Kegiatan literasi juga bisa dijadikan kegiatan produktif yang menghasilkan karya nyata bagi orang lain.

Platform Merdeka Mengajar (PMM) juga menyediakan soal asesmen literasi dan numerasi sesuai fase dan kelas siswa. Selain itu, berbagai praktik baik guru dari berbagai penjuru Indonesia yang ada di PMM bisa memberikan inspirasi dan pemahaman baru akan paradigma baru pendidikan sekarang. 

Kita sudah seharusnya memanfaatkannya dengan optimal untuk memberdayakan diri sekaligus siswa kita. Inilah momentum kita untuk pulih lebih cepat dan bangkit lebih kuat mempersiapkan generasi emas 2045.