Demo penolakan RUU Omnibus Law dan demo hari buruh setiap 1 Mei   memunculkan pertanyaan bagi saya pribadi, yaitu kenapa tidak ada sarjana yang ikut berdemo. Padahal mereka juga buruh. Mereka juga tersiksa oleh sistem upah yang kurang memuaskan.

Hal ini makin menambah rumit masalah yang sudah ada, yaitu para sarjana yang sudah susah mendapatkan pekerjaan yang sesuai pendidikan mereka. Itu sebabnya banyak sarjana yang menganggur. Kalaupun ada lowongan yang menarik, hampir pasti tidak sesuai bidang mereka. 

Berdasarkan hal itu, saya mencoba mencari tahu kenapa tidak ada buruh sarjana yang berdemo.

Dilihat dari sisi kelas sosial, orang yang dapat merasakan pendidikan tinggi adalah kelas menengah. Pekerjaan orang tuanya rata-rata PNS, pegawai BUMN, dan pekerjaan lain yang jabatannya ada di tengah-tengah struktur perusahaan atau instansi tempatnya bekerja.

Mereka ini memiliki jiwa priyayi. Dalam pikiran priyayi, cuma ada satu hal yang dapat dilakukan untuk memperbaiki nasib, yaitu "mengabdi".

Dahulu priyayi mengabdi kepada raja. Sekarang, setelah Indonesia merdeka, mental priyayi ini terwujud dalam sikap mengabdi kepada manager, direktur atau CEO. Sementara itu, para PNS mengabdi kepada kepala dinas, bupati, walikota, gubernur, menteri, dan presiden.

Kultur priyayi tidak mengenal tradisi berpikir kritis. Bagi mereka, yang utama adalah ketaatan mutlak bahkan kadang menjilat terhadap pimpinan. Sikap kritis hanya akan menimbulkan masalah di kemudian hari.

Priyayi lebih mengutamakan "keamanan" dalam bekerja. Mereka kurang berani mengkritik atasan. Bagi mereka, yang penting adalah aman secara finansial dalam jangka waktu yang panjang. Artinya, yang terpenting adalah memiliki gaji yang cukup sekalipun pekerjaan yang dijalani tidak membawa ketentraman jiwa.

Pola pemikiran priyayi ini terbawa pula ketika mendidik anak. Ini terbukti di dunia pendidikan. Si anak yang baru saja lulus SMA akan diarahkan mencari jurusan kuliah yang menjanjikan pekerjaan yang mapan. Contohnya, kuliah di kedokteran, ekonomi, atau kuliah di sekolah kedinasan.

Belum lagi ditambah dengan pengajaran seperti "nanti kalau sudah kerja tidak usah bersikap aneh-aneh", "Tidak masalah kalau sekarang gajinya sedikit. Toh lama-lama pasti naik". Sekilas memang terlihat masuk akal. Siapa sih yang tidak ingin punya pekerjaan yang layak? Pekerjaan yang menjanjikan gaji tinggi sehingga memberikan masa depan yang cerah bagi para pekerjanya.

Celakanya, kenyataannya tidak seperti itu. Dunia kerja berubah pesat. Lulusan sarjana sekarang kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai kualifikasi pendidikannya. Saat kesulitan ini diutarakan ke orang tua dan masyarakat, yang terjadi adalah para sarjana ini disuruh bersyukur saja. Menerima kesempatan kerja apa pun. Anggap saja ini adalah takdir.

Lebih parah lagi karena hanya sedikit organisasi profesi dan organisasi keilmuan yang benar-benar terlihat nyata keberadaannya. Kebanyakan hanya terlihat pada momen-momen tertentu. Itu sebabnya sulit sekali membangun jejaring di antara sesama sarjana dari rumpun ilmu yang sama.

Efeknya ketika ada ketidaksetujuan atas masalah di dunia kerja, mereka hanya dapat menggerutu. Kalau melihat buruh pabrik yang datang ke aksi demo dengan mengendarai sepeda motor mahal seperti Kawasaki Ninja, mereka hanya akan menghabiskan waktu dengan mengomel. Mereka juga akan menuding para demonstran itu kurang bersyukur.

Ini berbeda dengan para buruh yang hanya lulusan SMA. Mereka ini umumnya berasal dari keluarga yang miskin. Meski miskin secara ekonomi, mereka tidak menyerah pada nasib. Mereka ngotot memperjuangkan perbaikan hidup. Tiap tahun selalu menyuarakan kenaikan UMR dan UMK.

Bagi mereka, upah rendah adalah penindasan dan penindasan harus dilawan. Kultur perlawanan pun diwariskan dari generasi ke generasi. 

Demo mereka tidak hanya dengan orasi dan membakar ban, tetapi juga disertai dengan muatan ideologi kiri. Mereka, walau tidak mengenyam pendidikan tinggi, belajar dan mempraktikkan analisis kelas. Makanya wajar jika demo-demo buruh itu selalu lekat dengan kosakata seperti: revolusi, anti-neolib, dan kapitalisme.

Dalam pandangan mereka, penguasa, baik itu pemerintah maupun pimpinan perusahaan, adalah orang yang harus diwaspadai. Kalau kebijakannya dianggap menindas, para buruh ini akan melawan. Tak peduli bila dianggap membahayakan perekonomian nasional.

Hal ini yang sering kali tidak dipahami buruh sarjana. Mereka gengsi menyebut dirinya buruh. Mereka lebih suka disebut karyawan. Padahal, baik itu buruh yang hanya lulusan SMA maupun lulusan perguruan tinggi, sama-sama orang upahan yang rawan menjadi korban kecurangan atasan.

Gengsi ini pula yang menyebabkan para buruh sarjana makin enggan melawan kebijakan yang merugikan dari atasan. Sekadar protes saja enggan, bagaimana mungkin akan membentuk perkumpulan, serikat atau semacamnya dan terlebih lagi berdemo?

kalau ditelaah lebih lanjut, lemahnya kekuatan politik para sarjana ini hal yang kontras. Sebab berkebalikan dengan saat mereka masih menjadi mahasiswa. 

Demo mahasiswa, walau hanya diikuti 10 orang, tetap akan membuat polisi waspada. Kalau diikuti 100 mahasiswa, semua aparat militer mulai khawatir. Malah sekalipun tidak berdemo, mahasiswa tetaplah sebuah kelompok sosial yang punya pengaruh di masyarakat.

Sayangnya, setelah lulus, semua wibawa itu bagai lenyap ditelan bumi.