Penulis
3 tahun lalu · 517 view · 3 min baca · Politik sopir-angkutan-umum-demo-jalanan-di-depan-balai-kota-ditutup-total.jpg
Foto: merdeka.com

Ironi Angkutan Umum

Jika yang ditanam adalah buah, maka keuntunganlah yang didapat. Jika yang ditanam adalah kebaikan, maka berkahlah yang akan diraih. Tetapi, jika yang ditanam adalah sakit hati?

Paling tidak, itulah yang dapat menggambarkan meledaknya emosi para sopir angkutan umum non-online yang turun ke jalan dan berdemo menuntut pembubaran angkutan umum berbasis online. Mereka merelakan tak mendapat hasil dari sewa karena menepikan kendaraan mereka untuk menuntut pemerintah dan negara menghapus angkutan umum berbasis online.

Perjuangan memang membutuhkan pengorbanan. Tetapi, alangkah mirisnya ternyata yang berjuang itu adalah rakyat kecil yang sedikit penghasilannya, dan penghasilannya yang sedikit itu harus dikorbankan.

Era Reformasi adalah eranya kaum intelektual sebagai penyokong pembangunan. Mereka mengawal pemerintah dengan kepintaran dan kecerdasan mereka agar pembangunan pemerintah tidak merugikan rakyat. Tetapi, di mana para kaum akademisi yang intelektual itu di tengah rasa sakit hati para sopir angkutan umum non-online? Dan bukankah wakil rakyat serta pemerintah juga diisi oleh orang-orang akademisi?

Kasus angkutan umum adalah salah satu cerminan dari gagalnya pendidikan modern. Budaya mewah dan modern yang dijalani para mahasiswa dan mahasiswi tidak cocok untuk membangun kemaslahatan. Alasannya? Tentu saja karena di universitas tidak diajarkan cara bergaul dengan rakyat kecil. Yang diajarkan mungkin hanya cara mengambil hati rakyat kecil.

Setiap hari mahasiswa dan mahasiswi bergaul dengan data. Berusaha menampilkan diri mereka sebagai masyarakat dunia, bukan sebagai masyarakat Indonesia. Kesibukan mereka akan data dan kajian membuat mereka larut dalam pemikiran akademis. Sehingga mereka lupa bahwa data mereka sesungguhnya berasal dari kanan-kiri mereka sendiri.

Tak dapat dipungkiri, bahwa kaum akademisi juga ikut menyumbang rasa sakit hati para sopir angkutan umum non-online. Karena alasan biaya dan keamanan, mereka memilih meninggalkan transportasi yang sudah lebih dulu ada di negerinya sendiri.

Alasan biaya tentu dapat diterima karena mayoritas mahasiswa dan mahasiswi masih hidup lewat uluran tangan orangtua. Tetapi jika masalah keamanan rasanya sukar diterima.

Perilaku buruk atau jahat adalah masalah akhlak. Akhlak kembali kepada masing-masing individu. Saya sangat tidak yakin bahwa yang mengurusi angkutan umum non-online memberikan arahan kepada para sopirnya untuk melakukan kejahatan pada konsumennya.

Hal-hal macam itu adalah perilaku yang berada di luar kontrol mereka. Dan akhlak atau perilaku buruk dimiliki oleh siapa saja dan bisa terjadi kapan saja. Jangan kaget bila esok hari ada sopir angkutan umum online yang merampok dan memerkosa konsumennya.

Angkutan umum berbasis online memang mengatasi pengangguran. Tetapi juga membuat penghasilan para pengemudi non-online menjadi berkurang. Sebelum ada angkutan umum berbasis online saja para supir non-online itu sudah kalah saing dengan transportasi macam kereta dan kendaraan pribadi, apalagi jika ditambah angkutan umum berbasis online?

Pemerintah dan negara harus bijak. Kalau mengutip hadis Kanjeng Nabi Muhammad bahwa “sebaik-baiknya urusan adalah yang berada di tengah-tengah,” pemerintah dan negara sebagai “pembantu” rakyat mengurusi persoalan mereka harus berada di tengah-tengah. Memilah mana yang baik dan buruk.

Mana yang melahirkan kemaslahatan dan mana yang melahirkan kemudharatan. Dan juga, mempertimbangkan banyak faktor jika suatu keputusan dibuat. Misalnya akan terjadi gejolak atau terjadi perbaikan.

Namun sayangnya, sudah menjadi rahasia umum bahwa pemerintah seringkali tidak bijak. Mungkin mereka semua itu pintar, tapi mereka tidak dapat bertindak untuk menyenangkan hati orang yang sedang sakit hatinya. Malah mereka menambah luka para pengemudi angkutan umum non-online yang sudah sakit hatinya.

Jika mereka benar-benar wakil rakyat, jika mereka benar-benar tonggak perjuangan, alangkah baiknya mereka bersikap bijak. Misalnya, tidak menggunakan transportasi online maupun non-online demi meredam permusuhan dan tidak menambah rasa sakit hati serta membesarkan api amarah yang sudah terlanjur berkobar.

Nasi sudah menjadi bubur. Massa sudah terlanjur turun ke jalan. Pemerintah dan DPR telah gagal mengatasi persoalan tuannya sendiri. Para kaum intelektual telah gagal menggenggam keresahan rakyat kecil.

Saran saya pada pemerintah, DPR, serta para mahasiswa sebagai agen pembangunan, banyak-banyaklah bergaul dengan rakyat kecil. Yang dimaksud suara rakyat, suara Tuhan adalah berasal dari realitas yang kalian temukan sendiri. Bukan berdasarkan data-data dan pengetahuan yang kalian baca.

Artikel Terkait