28233_47116.jpg
http://cipitmeni.blogspot.com/2015/11/wahai-para-pengejar-ipk.html?m=1
Pendidikan · 4 menit baca

IPK Tidak Menjamin Kualitas
Pendidikan

Kebanyakan mahasiswa sekarang mengejar IPK tinggi dan segera ingin mendapatkan gelar,  sedangkan kualitasnya masih perlu dipertanyakan. 

Tak jarang kita dapati mahasiswa yang memiliki IPK tinggi, namun kredibilitas keilmuannya bertolak belakang dengan apa yang tertera di atas kertas.

Fenomena di atas sering kita jumpai di dunia pendidikan, yang dalam hal ini dunia kampus. Pola pikir nilai tinggi dan segera lulus telah mewabah dalam dunia pendidikan kita. 

Para pelajar tidak memedulikan lagi seberapa banyak ilmu yang diserap. Masuk kelas, dengerin dosen menerangkan, serta mengerjakan tugas yang diberikan dosen (seperti resume, membuat makalah, dsb)

Merupakan hal lumrah yang dilakukan oleh seorang pelajar selanjutnya disebut mahasiswa pada umumnya.

Masuk kelas dengan diskon tiga kali tidak masuk selama satu semester, yang jika lebih dari itu tidak akan dibolehkan ikut UAS, menjadi aturan baku di perguruan tinggi secara umum. 

Mahasiswa dituntut mengikuti perkuliahan dengan persentase kehadiran minimal 85%. Jika kurang dari itu, ancamannya tidak akan lulus mata kuliah dan harus mengulang tahun depan.

Mahasiswa diharuskan aktif di kelas, sebagai bentuk antusias mereka dalam memperhatikan materi yang disampaikan dosen. 

Dengan diiming-imingi akan diberikan nilai lebih jika sering bertanya dan memberi tanggapan ketika perkuliahan berlangsung. 

Sebaliknya, jika hanya sekadar mengikuti saja, tapi tidak bersuara di dalam kelas, maka nilainya pas-pas-an berdasarkan nilai formatif, UTS, dan UAS.

Berdasarkan itu, kemudian mahasiswa berusaha aktif dan bersuara ketika perkuliahan berlangsung. Meskipun tak jarang kita temukan mahasiswa yang hanya sekadar bicara ngalur-ngidur hanya demi mendapatkan nilai plus di depan dosen. 

Atau setidaknya dikenal oleh dosen, yang biasanya mahasiswa yang dikenal dosen akan diberi nilai lebih dari pada yang tidak dikenal. Maka dari itulah ada mahasiswa yang dikenal dengan sebutan ‘penjilat dosen’.

Sering kita mendapati dosen yang mendoakan agar mahasiswanya lulus tepat waktu. Biasanya, doa harapan seperti itu dilontarkan di tengah perkuliahan. Bahkan, ada dosen yang bilang, “Jika ingin lulus tepat waktu, ikuti saja aturan permainan dosen. 

Sudahlah, singkirkan saja dulu idealismenya! Ikuti apa kata dosen, dijamin akan lulus tepat waktu.”

Buaian seperti itu secara tidak langsung mengkristal di dalam otak sebagian mahasiswa. 

Mengikuti dan mengiyakan apa saja perkataan dosen demi mencapai tujuannya lulus tepat waktu. Soal ilmu urusan belakangan, yang penting cepat lulus. 

Hal di atas merupakan fenomena yang sudah menjangkiti di otak manusia yang berstatus mahasiswa. 

Logika berpikir mendapat nilai tinggi dan lulus tepat waktu telah merasuki otak mahasiswa secara umum. Dua kategori ini seakan-akan menjadi tujuan utama oleh mahasiswa. 

Lebih dari itu, tujuan awal dari seorang mahasiswa, yaitu sebagai pencari ilmu, telah terkontaminasi.

Padahal, semestinya seorang mahasiswa, yang sudah layak dibilang orang dewasa, mendengar semacam buaian dan imingan dosen soal nilai dan cepat lulus menjadi tantangan baginya. 

Kerena sejatinya hal tersebut merupakan kontestasi antara tujuan awal dengan harapan yang sering diiming-imingi dosen.

Ketika mengiyakan perkataan dosen tentang akan mendapatkan nilai tinggi dan lulus tepat waktu, dan tanpa melihat hal lain yang berada di luar itu, di saat itulah logika biner semacam di atas merasuki otak mahasiswa. 

Ia akan selalu menerima apa saja yang dikatakan dosen. Mengikuti alur skenario yang diciptakan dosen. Sehingga pada akhirnya ia mendapatkan hasil yang pada sejatinya itu bukan tujuan utama dari seorang mahasiswa (baca: pencari ilmu) nilai tinggi dan lulus dengan cepat.

Mengikuti dan mengiyakan perkataan dosen memang bukan suatu kesalahan, bahkan suatu keharusan –selama tidak mengarah pada hal-hal negatif. 

Namun, bagi seorang mahasiswa, yang acap dikenal dengan agent of change tidak serta-merta menerima perkataan dosen sekaligus. 

Pada sejatinya, nilai tinggi yang diimin-imingi dosen bagi mahasiswa yang aktif di kelas merupakan salah satu cara menkonstruk pemikiran mahasiswa. Dosen mengandaikan agar mahasiswa tidak keluar dari rel pemikirannya.

Dengan adanya silabus yang di dalamnya tertera materi-materi dan beberapa refrensi, yang mahasiswa diharuskan membeli buku-buku yang ada di dalamnya. Meskipun, tidak semua mahasiswa (mungkin ini bahasa yang lebih sopan) membeli semua buku yang tertera di dalam silabus. 

Hal tersebut secara tidak langsung membatasi pengetahuan mahasiswa. Artinya, mahasiswa yang semestinya memiliki banyak wawasan dengan melahap berbagai jenis buku bacaan tidak lagi bisa melakukan hal itu. Karena wawasannya dibatasi oleh buku-buku yang ada di silabus.

Parahnya lagi, keterkikisan budaya membaca di kalangan mahasiswa kian hari makin memprihatinkan. Mahasiswa yang dicap sebagai kritikus anak muda bangsa dan memiliki idealisme tinggi, akan merosot seiring perjalanan waktu. Penyebabnya hanya satu: kurangnya membaca. 

Bagaimana bisa berfikir kritis jika bacaannya dibatasi oleh buku-buku yang telah diatur oleh akademik melalui silabus. Bagaimana mungkin dapat memiliki idealisme tinggi jika wawasannya terkungkung oleh garis yang sudah dipatenkan oleh suatu pihak yang memiliki otoritas lebih tinggi.

Jika kita lihat sekilas, memang masih banyak mahasiswa yang membawa buku kemana-mana, ngobrol seputar pengetahuan yang berkaitan dengan kuliah. 

Namun, jika kita mau menelisik lebih jauh, coba perhatikan buku yang dibawa, cermati setiap obrolan yang diperbincangkan. Dapat kita simpulkan kebanyakan buku dan bahan obrolannya seputar materi perkuliahan. 

Membahas mengenai tugas ini-itu. Ringkasnya, lagi-lagi gaya hidup mereka merupakan representasi dari konsep yang dicanangkan oleh dosen, dengan tujuan untuk mendapatkan nilai bagus dan lulus tepat waktu.

Artinya, orientasi mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan bukan soal sebanyak apa ilmu yang dapat dicerna, bukan soal bisa tidaknya memformulasikan ilmu yang didapat, bukan soal mampu tidaknya mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu. Bahkan jauh dari itu semua: mahasiswa mengikuti perkuliahan hanya takut pada absen, khawatir mendapat nilai buruk, takut kuliahnya molor. Sungguh miris bukan jika orientasinya sudah demikian?