Sejak dahulu, setiap orang yang bersekolah mempunyai keinginan untuk mendapatkan nilai setinggi-tingginya. Seolah-olah dengan nilai tinggi itu menjamin semuanya. Nilai seakan menjadi puncak dari tujuan sekolah. Kerangka berpikir yang demikian menjamur sejak sekolah dasar hingga menengah atas.

Begitu pula dengan mahasiswa, merupakan impian yang harus dicapai memiliki IPK tinggi. Dengan nilai yang tinggi itu, kita bangga bahkan terobsesi dengan mengenyampingkan bagaimana mendapat nilai itu, dengan rajin belajar atau hanya menyontek pada saat ujian.

Malapraktik menyontek ini seakan-akan menjadi kebiasaan bahkan kebutuhan. Hal ini diakibatkan oleh sistem penilaian kita yang hanya menekankan pada kecerdasan intelektual atau angka-angka kuantitatif belaka.

Akibatnya, bangsa ini menjadi bangsa yang kita saksikan dan kita rasakan saat ini, penuh kemunafikan, ketidakjujuran, intoleransi, dan sejumlah karakter buruk lainnya.

Kebiasaan menyontek ini merupakan benih korupsi yang ditanam sejak sekolah bahkan dipupuk hingga perguruan tinggi. Mengapa dikatakan benih korupsi? Bagaimana tidak? Kejujuran terhadap diri sendiri sudah dikesampingkan apalagi kejujuran terhadap rakyat nantinya.

Kita tahu, bahwa korupsi adalah penyakit bangsa yang mematikan. Tentulah benih-benih penyakit ini haruslah di musnahkan. Jika kemudian dibiarkan, bangsa ini tidak akan menjadi negara maju. Karena penghambat utama negara berkembang untuk menjadi negara maju adalah maraknya korupsi di negara tersebut.

Mahasiswa sekarang ini tidak sepatutnya sekadar kuliah dan mengejar IPK tinggi, tetapi memikirkan bagaimana perannya yang begitu penting dalam membangun bangsa ini. Mengingat mahasiswa dewasa ini kurang memahami gejala-gejala sosial yang ada di masyarakat. Mereka disibukkan dengan huru-hara kampus. Misalnya, pemilhan Presiden Mahasiswa, Gubernur, dan politik kampus lainnya.

Kesibukan mahasiswa terhadap serba-serbi kampus diutamakan, padahal peran utama mahasiswa adalah agent of change. Artinya mahasiswa harus mempunyai andil dalam membawa perubahan pada bangsa ini. Sehingga tercipta keadilan yang merata bagi segenap bangsa.

Sejarah telah mencatat, mahasiswa dengan segala idealismenya, mampu mendorong terbentuknya gerakan-gerakan serta organisasi kemahasiswaan untuk melakukan tindakan transformatif. Tindakan ini dilakukan sebagai bentuk upaya menyelesaikan krisis yang terjadi di masyarakat. Kemampuan menganalisis situasi sosial-politik, menjadi bekal mahasiswa melakukan gerakan perubahan.

Seperti peristiwa reformasi tahun 1998 dimana ribuan mahasiswa turun kejalandan menduduki gedung MPR serta mendesak Presiden Suharto lengser dari jabatannya. Aksi ini menjadi catatan sejarah yang kemudian selalu dikenang dan dipelajari oleh mahasiswa karena dianggap sebagai bentuk keberhasilan mahasiswa dalam membela kepentingan rakyat (tanggungjawab moral).

Saat ini, nampaknya terjadi degradasi semangat serta moral yang dimiliki mahasiswa. Kejayaan masa lalu kehilangan substansinya dan hanya sekedar menjadi nostalgia semata. Pemahaman mahasiswa terhadap peran serta tanggungjawab moralnya terhadap masyarakat mengalami pergeseran.

Euforia pasca reformasi membuat mahasiswa hanyut dalam kenyamanan. Pasalnya, reformasi bukan sekedar pergantian pemerintahan lama ke dalam pemerintahan baru, namun juga perlu adanya pengawasan serta kebiasaan-kebiasaan baru yang bersifat laten agar reformasi mampu menyelesaikan masalah hingga keakarnya. 

Sayangnya, hal tersebut tampaknya belum sempat dilakukan oleh mahasiswa serta para reformis lainnya.

Dekadensi moral mahasiswa menjadi semacam penyakit mematikan yang menggrogoti peran mahasiswa didalam masyarakat.  Kesibukan mahasiswa bergeser dari pemahaman terhadap realita serta masalah sosial yang ada menjadi kesibukan mengejar prestasi akademik tertinggi serta penghargaan orang lain. 

Memiliki IPK tinggi menjadi cita-cita, memenangkan hadiah atau menjadi juara menjadi kebanggaan, dan menjadi lulusan terbaik serta mendapat kerja menjadi tujuan utama. Begitu  mahasiswa kehilangan jati dirinya.

Sekilas memang nampak mahasiswa masih melakukan kegiatan sosial ‘yang katanya’ ditujukan membantu masyarakat, namun tindakan tersebut sering kali tidak diiringi adanya pemahaman terhadap substansi peran serta tanggungjawab moral kepada masyarakat itu sendiri. 

Akibatnya kegiatan sosial hanya menjadi ‘prasyarat’ menjadi mahasiswa yang baik. Tidak ada komitmen dan konsistensi dalam membaktikan diri kepada masyarakat. Kegiatan sosial mahasiswa cenderung diiringi penghargaan yang memberikan kesempatan mahasiswa mendapatkan tujuan semu, yaitu penghargaan dan status.

Hilangnya peran serta degradasi moral mahasiswa kini menjadi luka mendalam yang sulit disembuhkan. Sementara itu, pengharapan status mahasiswa dalam masyarakat masih sama. Kesenjangan yang terjadi antara pergeseran peran mahasiswa dengan pengharapan masyarakat menimbulkan masalah bagi mahasiswa itu sendiri. Jika mahasiswa belum peka terhadap masalah yang ada, mahasiswa akan semakin kehilangan jati diri dan kehilangan peran dalam masyarakat.

Perlu adanya pola gerakan baru bagi mahasiswa masa kini untuk membuat resolusi terhadap masalah yang dihadapi. Sejarah di masa lalu memang tidak dapat diulang, namun semangat serta idealisme yang dimiliki wajib dipertahankan dan terus ditularkan pada setiap generasi. Perlu keberanian melepaskan diri dari ketergantungan kenikmatan duniawi. 

Semangat belajar, dialog, organisasi serta kemampuan membuat jaringan diperlukan sehingga mampu membentuk integrasi. Ketika integrasi terbentuk, bukan tidak mungkin akan terjadi reformasi baru dalam hal peran mahasiswa bagi masyarakat serta peningkatan kesejahteraan bangsa melalui sumberdaya manusia yang berkualitas dan memiliki moralitas tinggi.

Jika kemudian mahasiswa sudah memegang teguh prinsip moral ini, maka kejahatan-kejahatan politik seperti halnya korupsi akan teratasi. Mengingat masalah negara kita adalah pembangunan ekonomi yang penghambat utamanya adalah korupsi.