Belakangan ini orang-orang masuk ke dalam sinisme ketika dihadapkan pada situasi politik bangsa kita yang kacau. Anak-anak muda enggan berpolitik karena merasa politik bangsa diisi oleh orang-orang yang tidak ramah pada idealisme dan progresivitas. Senada dengan apa yang pernah ditulis Soe Hok Gie dalam catatan hariannya, kini pilihannya hanya dua; menjadi apatis atau ikut arus.

Kita tau bahwa situasi politik bangsa dapatlah dikatakan gagal dalam menginvestasikan etika dan moral publik; saat korupsi menjalar di segala lini dan nyaris dianggap wajar, anak-anak muda sinis terhadap politik, bahkan apatis. Situasi ini didorong dari keramahan terhadap politik uang, kompromi berlebih dan keengganan untuk melakukan terobosan-terobosan baru demi perubahan ke arah yang lebih baik.

Tapi sebagai anak muda, pesimisme tak ubah bencana besar. Kita butuh semacam keyakinan kuat bahwa bangsa kita masih bisa berubah. Kita harus terus-menerus menenun "harap" bahwa situasi politik akan segera membaik.

Pada tanggal 19 Desember 2017, penulis diminta oleh seorang Sosiolog untuk ikut dalam pertemuan aktivis Bandung. Pertemuan itu dihadiri oleh Giring Ganesha. Penulis sendiri sempat mendengar, bahwa musisi yang satu ini akan terjun ke dunia politik dan dicanangkan sebagai calon legislatif. Rasa penasaran tentang ide-ide besarnya soal pendidikan mendorong penulis untuk menghadiri forum itu.

Tulisan ini adalah upaya mengurai dialog intens yang terjadi antara Giring dan aktivis Bandung di dalam forum itu. Sepanjang yang penulis amati, Giring tidak mendominasi  pembicaraan, bahkan kerap memposisikan diri sebagai pendengar--kendati ia juga memberikan jawaban-jawaban konstruktif mengenai problem-problem yang dikemukakan forum.

***

Gagasan besar Giring ada pada soal pendidikan. Penulis jadi ingat Khutbah Madam Karlina yang pernah disampaikan di dalam salah satu forum di Bandung; bahwa kegagalan pendidikan kita ada pada kegagapan menguraikan implementasi logis dari sebuah pengetahuan. Kita mungkin bisa mengatakan bahwa pengajaran yang didapat di dalam kelas mampu meningkatkan kemampuan akademik dari peserta didik, tapi yang juga tidak bisa diabaikan adalah kenyataan bahwa tidak "semua" peserta didik punya interesting point pada wilayah akademik. Tepat pada jantung persoalan ini lah Giring ingin memberi solusi sebagai jawaban langsung problema serius pendidikan kita.

Saya sempat menonton video Giring ketika dalam tahap uji di salah satu partai; ia mengemukakan bahwa sudah saatnya kita menghapus standarisasi-standarisasi yang amat simplistis melihat kemampuan siswa. Standarisasi itu kemudian menciptakan cuaca kultural pendidikan kita yang tidak ramah pada bakat non-akademik dari peserta didik. Sebagai contoh, Ujian Nasional yang rentan kecurangan.

Apa yang dimaksud "curang" adalah saat fasilitas pendidikan tidak mudah didapatkan terkhusus di daerah-daerah di luar pulau jawa, sementara tuntutan kelulusan siswa hadir sebagai tekanan kepada institusi pendidikan terkait. Belum lagi kadar pengajaran yang diterima siswa di pulau jawa dan di luar jawa tentu punya jarak, lepas dari seberapa jauh jarak itu.

Giring mengemukakan solusi untuk mengganti Ujian Nasional itu dengan Ujian Bakat Nasional, agar standarisasi itu tidak papak hanya pada selembar kertas, tapi secara nyata dapat dilihat sebagai kompetensi yang melekat pada siswa. Ujian semacam ini menurutnya dapat mendorong cuaca kultural yang berbeda pada aras pendidikan kita; dimana para orangtua tidak lagi berpikir bahwa nilai di atas kertas adalah segalanya, melainkan ikut melek pada kompetensi anak-anaknya serta ikut mendorong anak-anaknya untuk berkembang sesuai bakatnya masing-masing.

Di dalam dialog Giring mengatakan, bahwa kita harus mengurangi beban hafalan siswa, karena informasi kini relatif mudah didapat. Perkembangan teknologi harusnya mendorong kita merubah iklim pendidikan, karena informasi-informasi bergantung di awan dan terhimpun di dalam gadget-gadget anak-anak kita. Pada tahap ini tekhnologi sebenarnya mampu mengurangi beban kognisi siswa; budaya hafalan dirubah pada budaya critical thinking yang kini dibutuhkan siswa-siswa kita.

Hal lain adalah soal kebijakan publik yang kerap hadir di atas pengamatan-pengamatan artifisial saja. Kebijakan publik yang dihasilkan tidak menyentuh persoalan-persoalan substansial yang benar-benar menjadi kebutuhan masyarakat. Contoh yang dikemukakan oleh salah seorang aktivis di forum itu adalah soal Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) yang penggunaannya ditentukan oleh aturan-aturan rigid. Jadi sekolah dipaksa menggunakan BOP dengan kesadaran bahwa di antara kebutuhan sekolah dan ketentuan pemerintah terdapat jurang yang lebar.

***

Bagi penulis yang terpenting adalah perubahan mendasar pada cara berpolitik kita hari-hari ini. Dan dialog intensif adalah upaya menggali persoalan dan mencarikan solusi atasnya. Karenanya dialog juga investasi kecerdasan.

Seseorang yang berdiri sebagai wakil rakyat, adalah mereka yang fasih bersuara "dengan" suara rakyat, bukan semata-mata bersuara "atas nama" rakyat. Kemampuan mendengar dan mengemukakan persoalan berikut pencarian solusi-solusi dari Giring yang menjejak dalam alam pikiran penulis adalah kita patut meletakkan harapan besar; bahwa kita masih mungkin untuk berubah.