Remaja ini, resolusi adalah istilah yang sering digaungkan oleh muda-mudi setiap menjelang pergantian tahun. Tak sedikit dari para pegiat media sosial, utamanya dari kalangan remaja, berlomba-lomba melayangkan doa dan harapan mereka melalui narasi panjang yang berserakan di beranda.

Agar terkesan lebih elegan, tak jarang mereka juga melampirkan foto-foto yang merefresentasikan kemeriahan pergantain tahun: baik itu foto selfie, selfie bersama si doi, foto bersama keluarga, atau foto selfie bersama si doi beserta keluarga dengan tema liburan dan sebagainya. Entahlah.

Sekali lagi, hal semacam ini lumrah dijumpai menjelang dan selepas pergantian tahun. 

Terlepas dari motif mereka melakukan hal demikian atas dasar keikutsertaan, sebagai bentuk kesiapan, ajang untuk melatih kemahiran beropini secara tertulis, atau hanya sekadar gaya-gayaan agar terlihat kekinian, bagi saya adalah sesuatu yang bisa bernilai dan berdampak positif bagi pelaku itu sendiri.

Karena mereka secara tertulis menyuarakan isi hati mereka perihal hal apa saja yang seharusnya dan tidak seharusnya terjadi di masa yang sudah dan yang akan datang yang impasnya berupa doa dan dukungan dari ribuan pegiat media sosial lainnya.

Sebagai seseorang yang juga aktif bermedia sosial, saya pun acapkali melakukan hal yang sama - lihai memainkan jempol dan mempublikasikan isi hati, lalu menunggu apresiasi berupa emoji acungan jempol dan berkahir pada berbalas-balasan komentar. 

Barangkali, selain berimpas sanjungan dan doa, disanalah titik klimaksnya, bukan?

Lalu, terkait makna resolusi itu sendiri, saya tentu sepaham dengan KBBI dan para ahli bahasa lainnya. Singkatnya, secara bahasa, resolusi merupakan suatu permintaan atau permohonan atas apa yang menjadi keinginan kita di masa mendatang. 

Membangun resolusi berarti merakit mimpi di masa kini untuk dipergunakan di masa depan.

Namun, yang ingin saya tekankan di sini bukanlah seperti apa bentuk resolusi yang ingin kita bangun, tapi hal apa saja yang sebaiknya kita persiapkan sebelum membangun resolusi itu sendiri. 

Sejatinya, introspeksi sebelum resolusi merupakan interpretasi singkat dari kalimat bijak yang berbunyi “jika ingin lebih baik di masa depan, belajarlah dari masa lalu.”

Adalah sebuah hal yang bijak jika kita bersedia meluangkan diri untuk terlebih dulu berbenah sebelum berubah. Adalah hal yang sulit untuk merekonstruksi mimpi jika kesalahan-kesalahan di masa lalu saja belum bisa diperbaiki. Ringkasnya, penting untuk mengulas masa lalu sebelum memulai babak baru.

Hal-hal buruk yang pernah kita alami bisa jadi kita temui lagi di masa nanti. Padahal, hal tersebut tak pernah kita amini untuk terjadi. 

Maka dari itu, sekali lagi, memilah peristiwa-peristiwa lama – entah baik atau buruk dan berkesan atau mengerikan – untuk dijadikan bahan introspeksi diri merupakan modal awal untuk membangun resolusi.

Tapi, terlepas dari itu semua, masing-masing orang tentu memiliki prinsip tersendiri dalam menyikapi kebijakan. Apa yang saya utarakan tentu tak akan selalu searah dengan opini orang. 

365 hari tentu menjadi ladang yang luas untuk merakit mimpi, entah itu dimulai dari introspeksi lalu kemudian resolusi atau resolusi baru instrospeksi.

Lalu, Sehubungan dengan bermedia sosial itu sendiri, tentu tidak ada kebijakan khusus dari penyedia kepada penggunanya, bukan? Apa yang ingin kita tulis dan suarakan sifatnya hanya sebagai suatu bacaan publik atau untuk dikonsumsi sendiri. 

Adapun yang merasa tidak sependapat adalah mereka yang kemungkinan berangkat dari generasi X.

Dan bagi saya pribadi, di saat orang ramai membangun resolusi untuk tahun ini, saya malah berniat untuk hibernasi – semacam tidur panjang untuk pemulihan batin dan terapi energi.

Selain karena berada di belahan bumi yang setiap akhir tahun mengharuskan saya untuk bersemedi di kamar saja, banyak keuntungan lain yang bisa saya dapat: menghemat uang jajan, rutinitas mandi jadi sebulan sekali, kegiatan BAB dan BAK ditiadakan untuk beberapa bulan kedepan. 

serta yang terpenting adalah dapat menanggulangi tingkat baper yang semakin massif oleh tingkah para sejoli yang foto tahun-baruannya berserakan di media sosial.

Tapi saya mafhum, saya bukanlah beruang kutub yang bisa tidur berbulan-bulan di bawah suhu minus sekian derajat celcius. Banyak risiko yang harus saya tanggung: seperti rawan diabetes, obesitas, tulang keropos, hingga serangan jantung. Alih-alih hibernasi, saya malah mati suri.

Terlepas dari itu semua, di awal tahun ini, saya lebih ingin mengulas tentang introspeksi diri sebelum membangun resolusi. Saya berharap - sebagai seseorang yang selalu ingin belajar dari masa lalu - semoga segala kenangan, capaian dan pealajaran hidup di tahun 2020 tak akan habis digerogoti lupa.

Selamat menyongsong tahun baru untuk para pengidap jomblo akut dan kaum patah hati radikal. Semoga di tahun ini, tidak ada tanggal merah bagi rindu kita. Saya tutup doa awal tahun ini dengan amin yang begitu takzim.