Mas Rangsang muda (Marthino Lio) membuktikan ketangguhan ilmu silat saat bertarung melawan saudara seperguruan di depan guru mereka, Ki Jejer (Alm. Deddy Sutomo). Saat sudah menang, tiba-tiba ia diserang sosok bertopeng kemudian kalah. Pada adegan berikutnya, baru diketahui sosok bertopeng tersebut adalah perempuan bernama Lembayung (Putri Marino), perempuan yang memikat hati Mas Rangsang.

Mas Rangsang lalu harus terjerembab dalam kegalauan antara hasratnya untuk hidup sederhana dan penuh kearifan seperti brahmana dengan takdir memegang amanah kekuasaan menjadi ksatria. Ia yang tidak tertarik pada kekuasaan dipanggil pulang ke istana setelah ayahnya, Panembahan Hanyakrawati, wafat.

Di sana, Mas Rangsang yang merasa tidak berhak atas tahta Mataram, terseret dalam intrik perebutan tahta istana. Pangeran muda yang gelisah itu dibimbing oleh dua orang bijak. Pertama, Ki Juru Martani (Landung Simatupang), penasihat senior Mataram. Kedua, Ki Jejer. Ki Jejer menceritakan ramalan Sunan Kalijaga. Ramalan yang mengubah garis hidup Mas Rangsang selamanya.

Mas Rangsang dewasa yang kemudian bergelar Susuhunan Agung (Ario Bayu) kini dihadapkan pada kedatangan VOC Belanda. Korporasi multinasional bersenjata itu menawarkan kerja sama dengan Mataram. Namun, kerja sama tersebut diwaspadai Susuhunan Agung. Susuhunan Agung 

Kecurigaan Susuhunan Agung ternyata terbukti. VOC Beland bertindak sewenang-wenang terhadap pedagang Mataram di Batavia. Susuhunan segera mempersiapkan serangan ke Batavia. Selain ramalan Sunan Kalijaga, Susuhunan juga terinspirasi untuk menyelesaikan Sumpah Palapa Gajah Mada. Sumpah yang berisi hasrat menyatukan nusantara.

Di tengah persiapannya menyerbu Batavia, Susuhunan dihadapkan pada pengkhianatan lingkaran dalam istana sendiri. Lembayung dewasa (Ardinia Wirasti) pun muncul kembali. Kali ini, ia menjadi voice of reason Susuhunan.

Penyerbuan ke Batavia menjadi ujian keteguhan dan kecerdikan Susuhunan. Serial serangan itu pula yang akan membuka tabir kearifan ala brahmana sang Susuhunan. Ekspedisi besar-besaran ke Batavia juga membuka drama kehidupan personal Lembayung dewasa (Adinia Wirasti) dan kerumitan perasaan Kelana (Teuku Rifku Wikana). Kelana dihadapkan pada dilema teman seperguruannya, Susuhunan Agung dan pamannya, Tumenggung Notoprojo (Lukman Sardi).

Secara umum, jalinan cerita film ini cukup menarik. Pada bagian awal, terasa sekali pergolakan batin Mas Rangsang muda. Kegelisahan pangeran muda yang ingin hidup sebagai rakyat jelata tapi harus menjalani takdir kekuasaan, terasa alamiah. Demikian pula, kegalauan saat harus meninggalkan cinta pertamanya.

Pada bagian kedua, film ini benar-benar menggetarkan penonton. Dari buku sejarah konvensional, kita tahu bahwa ekspedisi Mataram tahun 1628 dan 1629 gagal. Kalau tidak berhati-hati, genre film sejarah semacam ini bisa jadi membosankan. Oleh karena garis besar alur film sudah tertebak.

Namun, film ini sukses melewati jebakan itu. Dramatisasi di seputar proses pengambilan keputusan penyerangan, pembelotan, tragedi keluarga tersaji apik. Nasib akhir ekspedisi Mataram yang mudah diketahui penonton lewat referensi sejarah umum, tidak mengurangi kenikmatan film ini. Adegan hanya terasa lambat di segmen-segmen menjelang akhir film.

Karakter Lembayung sebagai perempuan tangguh lalu menonjol menjadi suara kebijaksanaan bagi Susuhunan Agung cukup memberi warna bagi aroma "masukulin" film ini. Lembayung yang sempat diremehkan para laki-laki ternyata didengar nasihatnya oleh Susuhunan Agung. Aroma 'maskulin" tentu terasa pada ambisi, pengkhianatan, dan perang. Sindiran Ratu Tulung Ayu terhadap kekuasaan yang mengorbankan perempuan menegaskan sindiran pada budaya patriarki. 

Rivalitas Sultan Agung dengan beberapa karakter antagonis tidak digambarkan secara hitam-putih. Tindakan-tindakan beberapa musuh dalam selimut sang sultan didasari alasan yang cukup masuk akal dan manusiawi. Motivasi mereka membajak rencana sultan pun belakangan menjadi dasar metamorfosis Sultan Agung di bagian akhir film.

Adegan perkelahian dan peperangannya pun cukup memikat. Tidak ada rangkaian adegan pertarungan dan perang yang melelahkan. Relasi Susuhunan Agung dengan Lembayung tidak klise. Secara umum, film ini mampu meramu unsur aksi, perang kolosal, drama keluarga dan percintaan, serta intrik istana dengan serasi. 

Hanya saja, perpindahan adegan Mas Rangsang muda menuju Sultan Agung Hanyokrokusumo terasa kurang halus dan lancar. Mas Rangsang yang rendah hati dan enggan menerima kekuasaan tiba-tiba berubah menjadi sultan yang tegas, berani, dan ambisius. Ramalan yang tampaknya dijadikan pengait tidak terlalu jelas menggambarkan transformasi personal sang sultan.

Beberapa tokoh yang hilang tanpa kejelasan nasib juga tampak mubazir. Kelana (Teuku Rifnu Wikana) melenggang bebas setelah mengkhianati Sultan Agung. Teman seperguruan Mas Rangsang muda tersebut sama sekali tidak merasakan karma atas perbuatannya.

Pada bagian awal, akhir kisah Ratu Tulung Ayu juga kabur. Padahal, ia diceritakan terlibat dalam plot intrik perebutan tahta keraton yang serius. Seolah ia hanya dijadikan bagian adegan pelengkap yang tidak terselesaikan dengan mulus.

Untari (Asmara Abigail) yang berperan penting untuk menghabisi musuh utama Sultan Agung hilang begitu saja. Setelah mengambil tindakan berani, tidak dijelaskan risiko apa yang harus ditanggungnya. Padahal ia memainkan porsi peran yang cukup terlihat.

Sebagai film kolosal yang berisi adegan penyerbuan besar-besaran, kecerdikan taktik perang tidak digali lebih dalam oleh film ini. Tidak ada penjelasan taktikal soal keberhasilan pasukan Mataram masuk ke banteng. Walaupun kemudian dipukul mundur.

Ketegangan dan kecerdikan perancangan taktik sebenarnya bisa ditampilkan dalam potensi cerita seperti itu. Sebagaimana yang disajikan dengan cemerlang oleh John Woo dalam Red Cliff (2008-2009). Sayangnya, Sultan Agung tidak menyajikan drama tersebut.

Ario Bayu memerankan Susuhunan Agung dengan sangat meyakinkan. Sorot mata tajam, vokal yang lantang, disertai tubuh tinggi tegap dan kulit sawo matang benar-benar menegaskan karakter Susuhunan yang digambarkan teguh pendirian.

Peran Ario Bayu sebagai sosok Susuhunan Agung yang tegas mengingatkan pada perannya sebagai Soekarno dalam Soekarno: Indonesia Merdeka (2015). Karakter tegas berwibawa disajikan dengan alami. Tidak ada kesan sebagai tokoh yang marah-marah sekalipun ia bicara dengan lantang.

Mathino Lio pun cukup baik memerankan Mas Rangsang muda. Sosok pangeran muda yang rendah hati, cerdas, dan tangkas bela diri ditampilkan Marthino Lio dengan meyakinkan. Keresahan Mas Rangsang saat harus menghadapi dilema keinginan pribadi dan kewajibannya sebagai pangeran pun terasa tidak dibuat-buat.  

Kemampuan berperan Putri Marino terlihat semakin matang. Peran Lala dalam Posesif (2017) memang memenangkan Piala Citra untuk aktris terbaik. Namun karakter Lembayung muda yang disajikannya dalam film ini jauh lebih memikat. Aktris film Jelita Sejuba: Mencintai Ksatria Negara (2018) itu berhasil memadukan ketangguhan fisik, kerapuhan, dan ketegaran emosinya dalam berinteraksi dengan Mas Rangsang muda.

Aktor dan aktris lain bermain sesuai standar kualitas mereka selama ini. Ardinia Wirasti, Landung Simatupang, Teuku Rfku Wikana, Lukman Sardi, Meriem Bellina, dan Christine Hakim menunjukkan pesona mereka sebagai pemeran film papan atas. Khusus (Alm.) Deddy Sutomo, dedikasi sampai akhir hayat pada dunia peran bisa kita saksikan pada film ini. Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, dan Cinta adalah film terakhir beliau.

Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, dan Cinta memang film yang layak ditonton. Semua unsur film teramu dengan pas. Sekalipun masih ada beberapa kekurangan. Film ini akan membayar lunas tiket bioskop kita. Durasi 2,5 jam tidak terasa membosankan. Sayangnya promosi film ini, sepertinya, kurang gencar. Sehingga tampaknya film berbobot ini takkan mampu meraih rekor penonton. 

Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, dan Cinta Official Trailer