Masalah utama bangsa ini adalah radikalisme. Paham ini memiliki tujuan untuk melakukan perubahan dalam waktu yang singkat dengan menggunakan cara yang ekstrem. Hal yang sering dikaitkan dengan paham ini adalah terorisme. 

Tindakan meneror kelompok yang tidak sesuai dengan paham yang mereka anut ini tak jarang menelan korban yang tak bersalah. Menurut sejarahnya, radikalisme bukanlah ajaran agama tertentu; ia hanyalah suatu bagian dari fenomena politik.

Radikalisme pertama kali dipaparkan oleh Charles James Fox pada akhir abad ke-18. Negarawan terkenal dari Inggris ini menyerukan “Reformasi Radikal” dalam sistem pemerintahan. Seruan perubahan terhadap suatu sistem yang telah ada ini dipakai untuk mendukung pergerakan revolusi parlemen di Britania Raya.

Dewasa ini, radikalisme sering dikaitkan dengan ajaran suatu agama, khususnya Islam. ISIS merupakan satu contoh kelompok yang dianggap sebagai gambaran dari paham keyakinan yang dibawa oleh rasul tersebut. Pasukan ini melakukan teror terhadap beberapa negara di dunia dengan membawa simbol-simbol keislaman dalam setiap aksi mereka.

Lalu, apakah benar tindakan teror merupakan gambaran dari ajaran yang dibawa rasul? Hal tersebut tidaklah benar. 

Sebagian besar umat muslim mengutuk tindakan keji yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Di dalam tubuh ISIS tidak terdapat urusan Islam. Menurut seorang jurnalis muslim asal Prancis yang berhasil menyusup di antara simpatisan ISIS, ia hanya menemukan sekelompok pemuda yang tersesat, frustrasi, dan dengan mudah ditanamkan istilah jihad di dalam pikirannya.

Mirisnya, tak sedikit bangsa Indonesia yang berangkat ke Suriah demi menjadi “muslim yang berjihad di jalan Allah”. Pada umumnya, orang yang bertujuan memperjuangkan Islam tersebut terpengaruh oleh saudara yang telah dahulu bergabung. Mereka rela menghabiskan harta yang dimiliki hanya untuk bergabung dengan golongan itu.

Kelompok radikal menyebar dengan luas akibat kekecewaan terhadap pemerintah. Etika segelintir elite politik yang kurang terpuji menyebabkan mereka menjadi masa bodoh terhadap demokrasi, lalu berpikir bahwa menjadi radikal merupakan jalan terbaik.

Sebagian masyarakat berjuang untuk menegakkan keadilan. Mereka berpikir bahwa seorang pemimpin negara hanya berpihak pada satu golongan tertentu. Lalu, kelompok ini melakukan protes yang keras demi memperoleh persamaan hak yang diinginkan.

Faktor finansial adalah salah satu alasan mengapa masyarakat menjadi memberontak dan menuntut perubahan. Sebagian orang dengan kelas ekonomi lemah menjadi berfikiran sempit. Mereka mudah percaya pada tokoh-tokoh radikal yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik.

Pendidikan dapat memengaruhi bangsa untuk menjadi radikal. Cara mendidik dan pengajaran yang salah dapat mananamkan radikalisme di dalam diri masyarakat. Seseorang yang berguru kepada penganut radikalisme akan terpengaruh dan ikut-ikutan menjadi memaksakan perubahan sesuai dengan yang diinginkan.

Radikalisme juga dipengaruhi oleh wawasan yang kurang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagian masyarakat merasa tertindas dan kalah dalam persaingan di bidang politik dan ekonomi. Hal itulah yang mendasari mereka untuk menyelesaikan dengan cara kekerasan dan pengingkaran terhadap perbedaan-perbedaan.

Fenomena radikalisme yang sering terjadi di Nusantara adalah terorisme. Golongan yang tidak setuju dengan kondisi Indonesia saat ini memilih untuk melakukan pemberontakan dengan cara yang ekstrem. Banyak hal yang mereka lakukan, seperti meledakkan bom bunuh diri, melakukan teror di keramaian, dan menyebarkan berita yang merisaukan masyarakat.

Awal dari sikap radikal adalah bangsa yang tidak terbiasa menerima perbedaan. Banyak dari masyarakat yang memilih untuk memusuhi dan enggan untuk bergaul dengan orang yang berbeda dalam segi agama dan suku. Banyak dari mereka tidak paham manfaat dari perbedaan dan keberagaman. Anggapan bahwa suku dan agama merekayang yang paling baik mendasari sikap ini.

Hal lain yang juga kerap terjadi adalah penindasan golongan tertentu yang hidup sebagai minoritas di suatu daerah. Sebagian bangsa Indonesia tidak bisa menerima perbedaan. Mereka memilih untuk memusuhi, sinis, bahkan melakukan kekerasan terhadap golongan yang menganut paham yang berbeda.

Sejatinya, setiap orang memimpikan untuk hidup aman dan damai di tanah kelahiran mereka. Keinginan tersebut sering rusak akibat ketidakmampuan masyarakat untuk menerima perbedaan. Akibat adanya suatu perbedaan, tak jarang bangsa menjadi bermusuhan bahkan saling menyakiti.

Setiap masalah pasti memiliki jalan keluar. Begitu juga dengan hal yang terjadi di negara ini. 

Apabila tidak setuju dengan keadaan dan keputusan yang dibuat, selesaikan dengan cara yang damai dan tanpa kekerasan. Jangan sampai mempertaruhkan jati diri bangsa yang merupakan sebuah negara demokrasi dengan menempuh cara ekstrem demi perubahan yang diinginkan.

Perbedaan merupakan suatu hal biasa. Dengan adanya perbedaan, bangsa dapat menjadi saling mengenal satu sama lain. Tak perlu menempuh jalan yang tak seharusnya hanya demi menghapuskan hal yang tidak sesuai dengan paham yang dimiliki. Perbedaan akan menjadi sangat indah apabila orang yang berbeda tersebut saling menghargai.