Beruntunglah, para founder father bangsa kita berhasil merumuskan sebuah semboyan yang bisa mempersatukan segala perbedaan ini. Bhinneka Tunggal Ika. Meskipun kita memiliki latar belakang yang berbeda-beda, kita adalah satu, yakni Indonesia.

Kasus intoleransi yang terjadi pada siswi SMKN 2 Padang mencuat ke publik akhir-akhir ini. Karena memancing perhatian publik dan terjadi kontroversi, akhirnya tiga menteri (Mendikbud, Mendagri, dan Menag) mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) pada 3 Februari lalu.

Tentu sangat disayangkan masalah intoleransi seperti ini. Apalagi ini dalam dunia pendidikan. Sekolah negeri lagi. Sekolah yang menjadi impian banyak orang.

Semoga saja SKB tiga menteri ini bisa mencegah masalah intoleransi. Apalagi dalam dunia pendidikan yang menjadi cermin, dan patokan masyarakat akan ilmu, perilaku, dan moral yang baik.

Jika bukan dengan pendidikan, dengan apalagi anak bangsa ini bisa belajar. Belajar memanusiakan diri sendiri, dan menyebar kebaikan di lingkungan.

***

Baiklah, saya tidak ingin membahas lebih banyak terkait kasus siswi SMKN 2 Padang yang katanya dipaksa menggunakan jilbab. Terlepas itu aturan atau kewajiban, atau memang kemauan siswi tersebut untuk tetap bersekolah di situ meskipun sudah ada aturan mengenai seragam.

Saya hanya ingin sedikit bernostalgia. Sedikit ingin berbagi pengalaman, atau hanya sekadar menyimpan sebuah cerita perjalan dalam menempuh pendidikan ke platform ini.

Sebuah kesyukuran, saya terlahir di pelosok kampung di Pangkep. Hanya ada puluhan kepala keluarga. Semua saling kenal, dan masih memiliki hubungan keluarga satu sama lainnya dalam satu kampung. Dengan begitu, hampir tidak ada perbedaan. Sehingga masalah intoleransi tidak pernah terdengar di kampung saya.

Kemudian saya dan keluarga migrasi ke Maros. Di kabupaten berjuluk Butta Salewangang itu saya memulai pendidikan. Di sebuah madrasah ibtidaiyah swasta yang tetap eksis hingga sekarang. Alhamdulillah, semua siswi menggunakan jilbab.

Pada tahun 2005, saya dan keluarga merantau ke Palu, Sulawesi Tengah. Lebih tepatnya di Kecamatan Lindu. Sebuah daerah yang masih sangat terisolir dan dikelilingi gunung. Tidak terjangkau signal, listrik, maupun kendaraan roda empat. Jauh dari perkotaan.

Bersamaan dengan itu pula, saya pindah sekolah. Masih kelas tiga SD. Di sana saya mulai berbaur dengan berbagai macam perbedaan. Mulai, suku, agama, ras, budaya, bahasa, dan kebiasaan yang berbeda.

Di kampung itu, ada dua sekolah, satu negeri dan satu madrasah swasta. Sempat ingin mendaftar di sekolah negeri yang memiliki siswa banyak, tetapi malah disarankan oleh guru di situ untuk ke madrasah yang swasta saja. Mengingat, sekolah saya sebelumnya juga madrasah.

Masih hampir mirip dengan sekolah sebelumnya, sebelum memulai pembelajarn, terlebih dulu membaca surah pendek dan berdoa bersama. Begitupun dengan mata pelajaran. Masih ada Fiqih, Akidah Akhlak, Qur'an Hadis, Sejarah Kebudayaan Islam, dan mata pelajaran umum lainnya.

Barulah setelah lulus, saya lanjut ke SMP satu atap yang baru saja dibuka. Siswa yang beragama islam dan kristen hampir sama banyak. Di SMP, saya tidak lagi belajar pelajaran yang berkaitan tentang keislaman. Tersisa mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang dipelajari sekali seminggu.

Namun, kami semua bisa belajar dengan baik. Kerja bakti bersama di sekolah, berolahraga, bermain, hingga makan bersama. Hampir tidak ada sekat, apalagi istilah intoleransi.

Kemudian saya melanjutkan pendidikan lagi di Kota Palu. Sebuah SMK swasta yang berlabel khusus agama kristen, tetapi menerima siswa dengan berbagai latar belakang.

Di sekolah itu, hampir semua aturan hanya fokus pada ajaran-ajaran nasrani. Yah, namanya saja sekolah kristen.

Tapi niat saya waktu itu semata untuk belajar. Meskipun sempat merasa kurang nyaman di awal-awal sekolah.

Saya sempat ditawari untuk belajar agama bersama mereka. Pasalnya, di sekolah tersebut tidak ada guru agama selain kristen. Tetapi saya menolak untuk ikut belajar agama, dan itu dimaklumi. Akhirnya saya belajar agama di luar sekolah.

Di sekolah itu, perbedaan semakin banyak saya temukan. Saya memiliki banyak teman orang bali yang beragama hindu serta yang beragama kristen katolik dan protestan.

Lagi-lagi, saya tidak merasa ada intoleransi selama belajar ataupun berbaur dengan mereka. Kami bahkan saling berbagi cerita tentang bagaimana cara agama masing-masing beribadah yang memperkaya khasanah pengetahuan.

Bukan hanya saya, sebaliknya, saya juga punya teman beragama kristen. Ia lanjut di kampus yang berlabel islam. Di awal semester, mahasiswa baru terlebih dulu melakukan ta'aruf dimana semua mahasiswi juga menggunakan jilbab. Tapi itu hanya sementara. Setelah masa ta'aruf selesai, ia kembali melebas jilbab dan mengikuti perkuliahan sesuai dengan keyakinan agama masing-masing.

***

Saya rasa Indonesia adalah negara hukum yang memiliki sangat banyak aturan. Saking banyaknya, kadang ada aturan yang bertentangan, dan selalu muncul revisi atau aturan baru. Mulai dari pusat hingga daerah.

Padahal, menurut saya, kesalahan dan kasus intoleransi terjadi hanya karena tidak terjalin komunikasi yang baik. Berdasarkan pengalaman yang saya ceritakan di atas, saya tidak tahu apakah ada intoleransi yang terjadi atau tidak, tapi bagi saya tidak pernah merasakannya.

Ketika ada sesuatu yang dianggap bertentangan antara aturan dengan keyakinan, coba dikomunikasikan dengan baik-baik. Bukan dengan cara mendiamkan dan menyimpan dalam hati yang suatu saat diviralkan di berbagai media sosial atau massa.

Saya tidak tahu jelas pokok permasalahan yang terjadi terhadap siswi di Padang, tapi semoga itu menjadi kasus intoleransi terakhir dalam dunia pendidikan kita. Tetaplah berpegang pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Dan saya yakin, semboyan ini tidak bertentangan dengan semua agama yang diakui di Indonesia.

Sebuah kesyukuran karena pernah belajar dan memiliki banyak teman dengan berbagai latar belakang. Perbedaan ini membuat warna dan pengetahuan dalam setiap langkah perjalanan hidup.

Dan terpenting adalah, menyadari bahwa semua yang ada ini, tidak lepas dari desain ketetapan sang pencipta. Lalu apa yang mesti kita permasalahkan dalam hidup ini, bukankah Dia telah mengatur keberadaan setiap perbedaan ini