Tulisan ini bersifat reflektif terutama terhadap maraknya intoleransi akhir-akhir ini. Apalagi di tahun ini kita menghadapi tahun politik, hampir bisa dipasikan tensi intoleransi antar partai politik (parpol) juga turut bermain. Jadi sebenarnya intoleransi kini tidak hanya bernada soal hubungan antar agama, lebih luas juga pada persoalan politik.

Lalu, darimana asal mula intoleransi itu? bagi saya intoleransi bermula dari pemikiran seseorang. Intoleransi bukan tindakan spontan tiba-tiba memukul dan mencaci orang. Intoleransi bukan pula serangan bom mendadak. Namun ia lahir dari segumpal pemikiran yang tersusun dari dalil-dalil yang panjang.

Intoleransi merupakan penafsiran dari pemikiran terhadap sesuatu hal. sesuatu itu banyak, dalil agama, politik identitas, dan berpikir tentang orang lain. Saya berpikir sebelumnya intoleransi itu tujuan yang tidak tuntas, ternyata salah intoleransi itu tujuan final bagi mereka kaum intoleran. Mereka sejak lama telah menarasikan dalil-dalil untuk menguatkan tujuan.

Apa saja yang paling sering menjadi dasar intoleransi? Jika berdasarkan agama, berarti dalil atau ayat-ayat suci. Kemudian ditambah dengan narasi pahala dan bidadari-bidadari yang mereka ciptakan. Lalu, narasi intoleransi ditanam kuat dalam pemikiran dan ideologi sebuah kelompok. Bagi mereka (intoleran), intoleransi itu perbuatan baik, perjuangan agama, tidak peduli merugikan atau tidak.

Jadi, intoleransi itu merupaan tindakan yang dibentuk. Orang menjadi tidak toleran karena pengaruh sebuah narasi-narasi yang keliru. Dalil-dalil yang intoleransi terus menerus ditanamkan dalam pikiran sehingga menjadi sebuah narasi berbentuk tindakan.

Maka, kita lihat beberapa kejadian tentang radikalisme atas nama agama. Semua pelaku intoleransi selalu berteriak tentang kebenaran. Mereka seakan paling benar, dan orang lain yang berada di jalan lain itu kesesatan. Inilah masalah mendasar saat ini, belum tuntas definisi siapa yang benar dan mana yang sesat. Bagi kaum intoleran berbeda agama adalah kesesatan, berarti kedholiman yang harus diakhiri karena akan merusak.

Definisi di atas itu telah mejadi virus bagi pemikiran bangsa kita. Indonesia yang beragam kehidupan kalah dengan kekeliruan orang memahami apa itu sesat dan kebenaran. Apa yang tidak lebih penting selain dari kemanusiaan di dunia ini, yakni saling menghargai, saling peduli, dan salin membantu. Itulah nilai kebenaran, sedangan kesesatan adalah segala tindakan yang bertolak belakan dengan prinsip dan nilai kemanusiaan.

Krisis pemikiran ini harus disadari sejak dini, jangan biarkan anak-anak bangsa menyimpan bibit-bibit intoleransi dalam pemikirannya. Intoleransi membahayakan keberagaman dan kehidupan bangsa. Demi komitmen pemikiran yang keliru, kaum intoleran seringkali bertindak persekutif terhadap orang-orang yang mereka anggap sesat.

Ingat, intoleransi berdampak besar bagi kehidupan berbangsa. Tidak sedikit narasi intoleransi kemudian dipolitisasi untuk kepentingan tertentu. Maka segala hal yang mengarah pada intoleransi harus diwasapadai. Apalagi menyangkut SARA, wacana yang juga cukup sensitive dipersalah gunakan. 

SARA bagi saya final, bangsa kita memiliki kehidupan yang beragam. Namun sayangnya SARA juga sering kali dipolitisasi untuk mendapatkan kekuasaan atau menjatuhkan lawan politik.

Politisasi SARA juga merupakan tindakan intoleransi. Siapapun politisi yang menarasikan SARA sebagai sarana berpolitiknya, ia sebenarnya bertindakn intoleran. Hal demikian membahayakan kehidupan berbangsa, karena menjadikan perbedaan sebagai narasi politik. Tidak penah ada larangan berpolitik dalam demokrasi, tapi jangan pernah gunakan cara-cara intoleran.

Secara sederhana dapat saya simpulkan, bahwa intoleransi merupakan tindakan yang tersusun dan terstruktur. Ia hasil dari pemikiran dan penafsiran. Intoleransi ditanamkan dalam pikiran dan berbuah sebuah tindakan. Ekstremisme menjadi dampak terakhir dari intoleransi yang tidak terbendung.

Sekecil apapun bentuk intoleransi, tetaplan intoleransi. Meskipun itu berupa cacian dan hujatan kepada orang lain. Politik yang tidak sehat juga demikian, seringkali melahirkan intoleransi di mana-mana. Politik yang tidak memberi harapan hanya menyisakan sampah, sampah-sampah intoleransi, persekusi, dan perpecahan antar segmentasi kehidupan berbangsa.

Intoleransi harus dibendung sejak dalam pemikiran. Otak setiap hari mesti diisi dengan asupan energi positif. Melalui pemikiran-pemikiran positif akan lahir kehidupan yang sejahtera. Untuk menumbuhkan cara-cara berpikir toleran, baik dalam beragama maupun politik salah satunya adalah revolusi pemikiran dan mental. 

Revolusi yang saya maksud merupakan resolusi terhadap intoleransi yang terus menerus kita jumpai dalam pikiran dan tindakan anak-anak bangsa.

Revolusi Pemikiran

Saya mulai dari pemahaman tentang kebenaran. kebenaran diklaim oleh semua orang dengan berbagai kepentingannya. Kebenaran mejadi relatif. Kaum intoleran memandang tindakanya adalah kebenaran. Terorisme dianggap menjadi sebuah kebenaran hanya karena didukung oleh dalil-dalil agama yang telah dipaksakan. 

Saya ingin luruskan, kebenaran bukan semua itu, kebenaran sifatnya apolitis. Kebenaran  itu ada ketika apa yang dinarasikan tidak melukai dan menyakiti orang lain. Jika yang dianggap kebenaran itu masih menyakiti orang lain, itu bukan kebenaran.

Intoleransi telah senyatanya merusak kebenaran. Intoleransi sudah salah sejak dalam pikiran. Makanya, sebelum sampai kepada persekusi, radikalisme, terorisme, dan perang antar saudara, intoleransi harus sudah dimatikan sejak ia tumbuh dalam pemikiran-pemikiran orang. Karena sangat percuma, melakukan tindakan di lapangan, penangkapan, eksekusi, dan sebagainya, namun eksekusi terhadap bibit intoleransi dalam pemikiran tidak dilakukan.

Revolusi pemikiran yang saya maksudkan adalah dengan penanaman bibit pemikiran yang berbasis persatuan dan kesatuan (kebangsaan). Revolusi pemikiran mesti dilakukan sedini mungkin, melalui pendidikan, perguruan tinggi, dan pendidikan non-formal. Memang harus ada kerja kolekif untuk menjaga keutuhan bangsa dan negara, karena Indonesia berdiri terdiri dari berbagai pondasi yang berbeda-beda, dan itulah kekuatan bangsa kita.

Bibit pemikiran positif, seperti saling hormat menghormati, saling menghargai, dan saling gotong royong harus ditanamkan dan diwujudkan dalam tindakan. Basis pemikiran kebangsaan tidak boleh kalah bersaing dengan bibit intoleransi. Maka, saat ini kita perlu kampanye tentang pentingnya narasi kebangsaan di semua elemen publik masyarakat.

Apalagi kini juga banyak intoleransi digital, intoleransi yang marak kita temui di dunia internet. Sosial media kini jadi medan tempur bagi kelompok-kelompok basis kepentingan. Apa yang ramai di sosial media itu memberikan pengaruh bagi pemikiran seseorang. Apabila ada seseorang yang hampir setiap hari membaca konten negatif berbau intoleransi, apa yang akan terjadi, pemikirannya pasti terpapar oleh intoleransi. Jika itu terjadi kepada banyak orang, lebih berbahaya lagi.

Ajakan saya sederhana dalam membendung intoleransi sejak dalam pikiran. Pertama, mari bepikir kembali bahwa Indonesia ini beragam. Dengan pemikiran ini orang akan jauh bertindak dalam lingkaran keberagaman untu saling menghargai dan menghormati. 

Kedua, mari berpikir bahwa kita tidak bisa hidup sendiri. Apalagi Indonesia ini bangsa besar, sudah sejak bediri negara ini dihuni oleh keberagaman, salah satu cara untuk menjaga dan merawat bangsa ini adalah dengan kerja-kerja kolektif bukan individual. 

Ketiga, mari berpikir kembali untuk apa kita diciptakan. Sebagai manusia kita semua diciptakan untuk hidup bahagia dengan berbagai kebaikan. Apa tujuan paripurna dari kehidupan ini selain sebuah kebahagiaan. Dan, kebahagiaan tidak akan terwujud dengan cara-cara tidak baik, bersikap intoleran, persekusi, mencaci, dan menghujat orang lain.

 Mari berbuat meskipun itu sederhana, namun bermanfaat untuk banyak orang, terlebih untuk bangsa dan negara. Terima kasih.