Sedang ramai diperbincangkan aksi terorisme yang belum lama ini terjadi di Makassar oleh sepasang suami-istri yang meledakkan diri mereka di Gereja Katedral Makassar. Kejadian  terakhir terjadi  juga di Mabes POLRI, seorang perempuan muda berusia 25 tahun yang memuntahkan isi senjata apinya membabi buta. Banyak sekali pihak berkomentar tentang dua kejadian terorisme ini.

Ada pihak yang mengatakan bahwa kejadian terorisme ini tidak ada kaitannya dengan agama dan ada pula pihak yang mengaitkan aksi terorisme tersebut berkaitan dengan agama tertentu. Pembicaraan menjadi mbulet di situ-situ saja dan menurut saya sama sekali tidak penting untuk dibicarakan.

Berhubungan atau tidak berhubungan dengan agama, keduanya bisa menjadi benar. Bagi yang mengatakan bahwa tindakan terorisme itu tidak berhubungan dengan agama, tentu maksudnya tindakan tersebut tidak diajarkan di agama apa pun juga, karena semua agama mengajarkan cinta kasih bagi sesama. Itu murni adalah tindakan mengacaukan keamanan saja.

Bagi pihak yang mengatakan bahwa tindakan tersebut berhubungan dengan agama, tentu maksudnya adalah pelaku teror tersebut memahami dengan salah agama yang dianutnya sehingga melakukan tindakan tersebut. Bagi pelaku, apa yang dilakukannya adalah bentuk perjuangan dalam agamanya, dan ini bisa dilihat dari kedua surat yang ditemukan di kediaman para pelaku tindakan terorisme yang baru saja terjadi itu.

Saya berpendapat tindakan terorisme yang banyak terjadi di Indonesia ini memang berhubungan erat dengan pemahaman yang keliru tentang agama yang dianutnya. Saya bisa mengatakan bahwa pelaku teror itu adalah juga korban dari pemahaman yang keliru tadi. Para tokoh agama sangat berperan dalam menjadikan seseorang memahami agama dengan keliru. Apa pun alasannya, tindakan terorisme seperti itu perlu dikutuk keras.

Tindakan membunuh orang yang beragama berbeda itu tidak bisa dibenarkan dalam ajaran agama apa pun, termasuk Islam. Menghancurkan atau membakar rumah ibadah juga tidak dibenarkan. Bahkan dalam kondisi perang sekali pun Nabi Muhammad saw melarang umat Islam membunuh tokoh agama lain, melukainya pun tidak dibenarkan.

Saya hanya bisa bertanya, mengapa mereka melakukan tindakan-tindakan menghancurkan seperti itu? Tidak adakah rasa cinta di hati mereka? Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, aliran kepercayaan, atau apa pun agamanya, bahkan yang agnostik dan ateis sekali pun, mereka adalah makhluk Tuhan. Kalau saya boleh mengutip kalimat dari seorang habib muda milenial, “Tak mengapa kita berbeda dalam kebenaran/iman, tapi kita selalu bersama dalam kebaikan”.

Mengapa sulit sekali menerima perbedaan wahai saudaraku? Perbedaan itu adalah keniscayaan dan itu akan tetap ada sampai dunia ini tiada. Tidak mungkin perbedaan bisa dihapuskan, ia akan tetap ada. Perbedaan itu indah teman, saya suka sekali dengan filosofi sepatu, ia berbeda tapi bersedia berjalan bersama mencapai tujuan. Kita harus belajar dari sepatu temanku, tidak ada sepatu yang sama antara sepatu kiri dan kanan, mereka berbeda, tapi mereka selalu berjalan bersama-sama.

Saya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk terus menyuarakan persatuan dalam perbedaan, selalu berusaha menebarkan benih cinta kepada perbedaan dan hal-hal semacam itu, karena mungkin hanya itu yang bisa saya lakukan dalam turut andil dalam melawan terorisme. Cinta kasih terhadap sesama adalah vaksin untuk menangkal terorisme. Banyak tulisan-tulisan yang saya buat dengan tema ini sebagai bentuk keprihatinan dan sekaligus mengampanyekan toleransi.

Ingat kalimat ini, siapa yang bukan saudara seimanmu, dia adalah saudaramu dalam kemanusiaan. Kalau pun engkau tidak menganggapnya saudara dalam kemanusiaan, mereka adalah saudaramu sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Teman-teman semua, jadilah duta toleransi atau pun duta keberagaman minimal di lingkungan kita sendiri. Perbanyak membuat unggahan yang berbau toleransi dan keberagaman di media sosial kita, tunjukkan bahwa kita tidak antiperbedaan. Semakin banyak yang melakukan hal ini akan semakin baik. Mungkin dengan hal tersebut kita sudah mendukung pemerintah dalam menekan tingkat intoleransi di negara ini. Sikap-sikap intoleran adalah benih tindakan terorisme.

Media sosial kita adalah salah satu sarana terbaik untuk bisa menyukseskan gerakan toleransi ini. Pamerkan segala sesuatu yang berbau toleransi, apa pun itu. Anda tahu bahwa Paus Fransiskus pernah mengunjungi Grand Syekh Al Azhar di Kairo Mesir pada 2017? Mereka melakukan itu untuk juga berkampanye bahwa toleransi itu indah. Mereka berfoto Bersama, menandatangani dokumen Bersama dan mereka ingin menunjukkan bahwa tidak ada masalah antara Katolik dan Islam.

Lakukan hal yang sama seperti itu di lingkungan kita sendiri, mungkin berfoto dengan teman atau sahabat yang berbeda agama, mungkin memberi ucapan di hari-hari besar mereka, atau Anda bisa melakukan apa pun juga untuk turut serta mengampanyekan toleransi ini. Apa pun bidang yang Anda geluti, lakukan hal tersebut. Bisa lewat tulisan, bisa lewat komedi, bisa lewat kuliner dan media-media lain.

Kalau kita tidak melakukan apa-apa, percayalah suatu saat kita akan menjadi korban dari tindakan intoleransi itu sendiri. Hal tersebut sudah mulai terlihat, musik haram, bioskop haram, komedi haram dan segala sesuatu menjadi haram. Siapa saja bisa menjadi korban. Ayo kita jadikan toleransi sebagai gerakan nyata dan turut serta di dalamnya.