Budaya dan pariwisata selalu terkait erat. Tempat wisata budaya, atraksi, dan acara memberikan motivasi penting untuk perjalanan, dan perjalanan sendiri menghasilkan budaya. Tetapi hanya dalam beberapa dekade terakhir bahwa hubungan antara budaya dan pariwisata telah secara lebih eksplisit sebagai bentuk konsumsi tertentu: Wisata budaya.

Wisata budaya adalah jenis kegiatan pariwisata di mana motivasi penting pengunjung adalah untuk belajar, menemukan pengalaman dan mengonsumsi atraksi atau produk budaya yang nyata dan tidak berwujud di tempat tujuan wisata.

Atraksi atau produk ini berhubungan dengan satu set bahan yang khas, fitur intelektual, spiritual, dan emosional dari suatu masyarakat yang meliputi seni dan arsitektur, sejarah dan warisan budaya, warisan kuliner, sastra, musik, industri kreatif dan budaya hidup dengan gaya hidup mereka, sistem nilai, keyakinan dan tradisi.

Definisi baru ini menegaskan sifat yang jauh lebih luas dari pariwisata budaya kontemporer, yang berhubungan tidak hanya untuk situs dan monumen, tetapi dengan cara hidup, kreativitas dan budaya sehari-hari.

Wisata budaya merupakan wisata minat khusus, seperti halnya dengan wisata panjat tebing, wisata olahraga, dan lain-lain. Ada beberapa unsur wisata budaya menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke suatu destinasi wisata, antara lain bahasa, adat istiadat, dan lain-lain.

Baru-baru ini Yogyakarta menjadi tuan rumah untuk acara bergengsi, yaitu International Folklore Festival. Acara ini merupakan ajang berkumpulnya warga negara asing yang tinggal di Yogyakarta, baik pekerja maupun seniman. Dan juga sebagai acara mempromosikan budaya tradisional kepada generasi muda.

International Folklore Festival adalah workshop berbagai permainan tradisional dan pertunjukan seni yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Yogyakarta. Acara ini juga memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat sekitar dan foreigner.

Acara ini diselenggarakan pada hari Jumat. 13 September 2019, bertepatan di Tebing Breksi Sleman, Yogyakarta. Acara ini dimulai pada pukul setengah dua siang. Untuk tiket masuk hanya membayar tiket parkir sebesar Rp2.000. Acara ini tidak dipungut biaya sepersen pun.

Mengapa acara ini berlokasi di Tebing Breksi? Tebing Breksi merupakan lokasi wisata yang terbilang masih baru dan diharapkan, dengan adanya acara ini di Tebing Breksi, sekaligus dapat mempromosikan Tebing Brekasi kepada khalayak ramai, terutama wisatawan mancanegara.

Hal ini diungkapkan oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Pemda DIY Tri Saktiyan saat acara International Folklore Festival diadakan.

Era modern saat ini memaksa masyarakat mengubah gaya hidup mereka. Kebanyakan pengunjung yang datang ke suatu destinasi tidak hanya untuk menikmati, tetapi juga mempostingnya di media sosial mereka. Sehingga, pemerintah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Tebing Breksi menjadi destinasi tujuan saat ke Yogyakarta.

Sesuai dengan nama acara ini, acara ini tidak hanya didatangi oleh masyarakat sekitar tetapi juga dari wisatawan mancanegara. Ada beberapa negara yang juga turut berpartisipasi dalam mengisi acara ini. Beberapa negara tersebut, antara lain: Nigeria, Thailand, Nepal, Bangladesh, Belanda, Vietnam, Filipina, Malaysia, Korea Selatan, Kamboja, Kanada, Slovakia, Romania, Australia, Jepang, India, Turki, Taiwan, Polandia, Turkistan, Hungaria, dan Tunisia.

Folklore merupakan cara yang paling dipahami oleh segenap usia di masyarakat dari anak muda maupun orang tua untuk mengenalkan budaya tradisional di era modern ini. Acara ini memuat tarian tradisional, dolanan tradisional, pertunjukan gamelan. Acara ini membuat kita mengingat nostalgia akan kenangan semasa kecil.

Penutupan acara ditutup oleh pertunjukan gamelan, yang memainkan dua sampai tiga lagu tradisional seperti cublak-cublak suweng, gamelan, suwe ora jamu. Lalu ada pertunjukan tarian jepang yang dibawakan langsung oleh orang-orang jepang yang sedang menetap di Indonesia.

Mereka menarikan tarian tradisional Jepang. Tarian ini sangat sederhana, ditarikan oleh 4 orang penari dengan menggunakan pakaian tradisional Jepang yaitu Yukata. Mereka melingkar dalam lingkaran kecil dan mulai menarikan tarian tersebut.

Setelah beberapa lama salah satu dari penari tersebut keluar dari lingkaran, dan mulai menjelaskan arti dari tarian tersebut, tarian ini menggambarkan kuli pekerja tambang. Setelah selesai menjelaskan, dia mempersilakan agar para penonton juga mengikuti para penari yang lain, menarikan tarian tersebut. Tarian tersebut berlangsung selama 10 menit.

Setelah pertunjukan tarian dari Jepang, yang terakhir adalah pertunjukan flashmob yang ditarikan oleh para anak muda dan anak kecil dengan mengenakan pakaian batik dan jarik. Mereka menarikan tarian ini dengan para penonton.

International Folklore Festival memiliki keseruan tersendiri, tidak hanya menampilkan pertunjukan-pertunjukan yang unik dari beberapa negara. Namun, juga mengajak para penonton juga turut ikut serta dalam memeriahkan festival ini.

Penonton yang datang lebih merasakan keseruan acara ini saat mereka juga ikut merasakan eruphoria dan membuat mereka lebih berkesan. Hal ini bagus, karena kemungkinan besar penonton untuk datang ke acara ini tahun depan akan sangat tinggi, karena tingginya antusias para penonton.

Tidak hanya menonton pertunjukan yang ditampilkan, penonton juga dapat berbincang dan berkenalan dengan partisipan dari luar negeri. Acara ini dapat dijadikan ajang berteman dengan orang asing. Bukankah menyenangkan? Menonton pertunjukan budaya dan berkenalan dengan orang-orang luar negeri.

Itulah penutupan dari acara International Folklore Festival, dengan kemeriahannya dibalut dengan tradisional Jawa—nya tidak membuat acara ini terlihat membosankan ataupun ndesa. Tetapi, malah membuat acara ini terlihat beda dengan yang lain.