Zaman dulu, orientasi sebagian orang bermain Facebook adalah sebagai ajang pamer. Walau banyak juga yang mencari tahu keberadaan mantan yang mungkin saja sudah menjadi manten.

Namun, semakin ke sini, sepertinya tujuan mereka (termasuk saya) telah banyak mengalami pergeseran. Para pemain FB itu tak lagi hanya bermain-main. Akan tetapi, mereka seperti berlomba meningkatkan kreativitas, dan mengasah keterampilan agar dapat tampil menjadi pemain yang bukan sekadar main-main.

Nah, salah satu kunci penting agar tak menjadi sembarang pemain di media sosial, menurut saya adalah kemampuan mendeteksi probabilitas. Diikuti dengan kelihaian menyulapnya hingga menjadi ladang uang yang tak mengenal batas.

Pendapat saya di atas tampaknya senada dengan pemikiran seorang sosiolog asal Jerman, Max Weber tentang life chance yang saya temukan di Wikipedia. "Pada dasarnya setiap individu mempunyai peluang untuk mengubah kualitas hidup mereka."

Lebih lanjut om Max mengatakan bahwasanya peluang hidup terdiri dari kemampuan individu untuk mendapatkan barang, berkarier, dan mendapatkan kepuasan batin.

Berkaitan dengan apa yang saya paparkan di atas, tersebutlah nama seorang teman yang saya kenal melalui FB, yakni mbak Umi si empunya merek dagang Dapur Cenil yang tinggal di Bantul city.

Beliau ini entah saking kreatifnya, saking jeniusnya, atau saking kepepetnya, beberapa minggu lalu mengumumkan melalui status FBnya bahwa setelah menemukan rumus yang tepat, ia akan menjadikan Nasi Kebuli Rendang Kambing sebagai komoditas daring.

Tentu, reaksi spontan saya ketika membacanya ya nggumun alias heran. Bagaimana mungkin nasi yang sudah matang, akan diperdagangkan secara online dan dikirim ke lain kota menggunakan jasa ekspedisi? Apakah lamanya proses pengiriman tak membuatnya basi?

Bagi yang belum mengetahui apa itu Nasi Kebuli, ia adalah nasi yang mempunyai rasa yang khas. Berasnya pun bukan beras biasa. Melainkan, beras basmati. Beras yang bentuk butirannya panjang langsing kayak saya itu, kemudian dimasak dengan beragam rempah.

Pada umumnya nasi Kebuli berwarna kuning, warna yang dihasilkan dari penambahan kunyit saat proses pemasakan. Dan agar tak dikira jomlo kesepian, nasi kebuli sering kali disajikan bersama dengan aneka olahan daging Kambing atau ayam.

Banyak yang mengira nasi kebuli ini adalah makanan khas Arab. Namun,  jika merujuk pada sejarah yang dituliskan oleh Qaris Tajudin di blog.tempo.co, Kebuli berasal dari Afganistan, dan dikenal dengan Kabuli Palaw atau nasi Kabuli. Kata Kabuli sendiri berasal dari kata Kabul, ibu kota Afganistan.

Begitu...

Saya sendiri adalah penggemar nasi-nasian khas Timur Tengah, termasuk nasi kebuli yang biasanya saya pesan melalui aplikasi GoFood. Namun, sejauh ini, belum ada yang benar-benar bisa memuaskan lidah saya.

Entah karena terlalu kuat rasa rempahnya sehingga bikin enek, atau karena teksturnya terlalu lembek, atau malah karena beras yang digunakan adalah beras biasa sehingga melunturkan citra khasnya.

Tetapi, begitu membaca gagasan mbak Umi yang disambut dengan gegap gempita oleh teman-teman yang spontan memesan melalui kolom komentar seakan takut kalau kehabisan, saya kok jadi ikutan tergiur. 

Padahal, aksi meng-online-kan nasi kebuli itu masih sebatas wacana lho. Belum dinyatakan lolos Uji Kelayakan Produk, yang biasanya ditandai dengan hadirnya testimoni positif dari orang-orang yang dipilih untuk mencicipi produknya secara gratis.

Sebagai anggota PMJKM, Paguyuban Mending Jajan Ketimbang Masak, saya juga bercita-cita memesan nasi kebuli mbak Umi. Nanti, kalau beliaunya sudah menemukan formula yang pas, dan memang layak dikirim ke kota saya, Semarang. 

Tapi, tentulah rangkaian kalimat di atas itu hanya alibi. Karena, alasan sesungguhnya saya menunda memesan adalah karena memang belum ada uang lebih yang bisa dialokasikan untuk nglarisi dagangan teman.

Sebetulnya saya sering didaulat untuk menjadi juri abal-abal atas produk teman yang akan atau sudah dijual. Teman yang menunjuk saya untuk menilai produknya, mempercayai bahwa kritik dan masukan dari saya, layak dijadikan acuan untuk melakukan perbaikan.

Masih menurut mereka juga, daya influensi saya lumayan menawan untuk mendongkrak angka penjualan. Kendatipun begitu, pantang bagi saya untuk meminta gratisan dengan dalih icip-icip untuk kemudian saya publikasikan.

Sebab saya sadar betul, jualan makanan itu membutuhkan effort yang luar biasa. Tak hanya perlu modal berupa uang, namun juga tenaga, waktu, keuletan, serta keteguhan hati yang berlipat agar tak mudah patah semangat.

Maka, alangkah tak eloknya jika saya ujug-ujug menodong teman yang berjualan agar mau mengirimkan produknya tanpa mau membayar.

Namun, kinerja semesta ini tampaknya memang bagai misteri yang sulit diprediksi. Bahkan hampir selalu tak rasional, sulit diterima akal.

Saat saya menulis perihal ini beberapa waktu lalu, sebuah notif whatsapp muncul di bilah pemberitahuan. Dari mbak Umi. Beliau mengabarkan kalau nasi kebuli sedang dalam perjalanan ke Semarang. Mungkin sebentar lagi tiba.

Woahhh... Saya sontak menjura, walau masih dipenuhi oleh rasa tak percaya dan beragam kalimat tanya. Kok bisa nyambung ya? Apa kami punya semacam telepati?

Benar saja, beberapa menit setelah mbak Umi mengirim pesan, nasi kebuli sudah berada di genggaman. Tak sabar karena didera penasaran, segera saya buka kemasannya.

Dan yaa nasi kebuli rendang kambing yang dikirim melalui Pos Indonesia, saya terima dalam keadaan sehat, segar, bugar, dan tak kurang suatu apa. Bahkan,  box plastik kemasannya pun dalam kondisi baik.

Tak hanya itu, rasanya pun sangat amat dapat diterima oleh lidah saya. Baik nasi maupun rendangnya, keduanya tidak basi. 

Meski tekstur nasinya kemepyar seperti layaknya karakter beras basmati, nasi kebuli buatan mbak Umi ini jauh dari kata atos, atau keras. Rasa rempahnya mencolok, tapi tak menohok.

Bumbu rendang kambingnya juga pas, ga terlalu pedas. Dagingnya jauh dari aroma prengus, dan empuk. Tak perlu tenaga ekstra untuk mengunyah. Tak menimbulkan linu di sekitar rongga mulut apalagi di hati.

Akhirnya, bisa juga saya mencapai KebuliGasm, puncak kepuasan yang diakibatkan oleh rasa enak dari nasi kebuli rendang kambing.

Akhir kata, ijinkan saya menuliskan semacam pengakuan dosa.

Sejujurnya beberapa minggu terakhir ini, saya sudah berjanji untuk menjauhi nasi. Saya tak lagi ingin berdamai dengan timbangan badan yang jarumnya terus saja mengarah ke kanan.

Namun, kenyataan sering kali berbanding terbalik dengan keinginan. Seperangkat nasi kebuli rendang kambing produksi dapur mbak Umi, berhasil mengintimidasi hingga sanggup membuat saya ingkar janji dan tak peduli jika jarum timbangan enggan ke kiri.

*backsound: ku menangiiiiiiiisssss... Membayangkaaaaannnnn....