Musafir Ilmu
1 minggu lalu · 523 view · 6 menit baca · Saintek 12154_41466.jpg
Dok. Pribadi

Interaksi Sains dan Agama

Apa yang terlintas dalam pikiran ketika sains bertemu dengan agama? Mungkin kita akan teringat dengan apa yang dialami oleh Galileo, Ilmuwan yang membantah pandangan Aristoteles dan menerima Heliosentris. Ia mendapat hukuman dari pihak gereja yang saat itu menganut doktrin Aristoteles.

Tragedi itu yang kemudian seolah memberi kesan bahwa sains dan agama bertolak belakang. Bahkan Stephen Hawking pernah bilang bahwa agama itu otoritas sedangkan sains itu empiris, sampai disini bisa diterima. Namun antiseden tersebut menghasilkan konklusi yang menurutnya sains akan menang karena itu bekerja. Lho???

Saya tidak sependapat dengan Hawking, sebab kebenaran sains itu dinamis, berubah-ubah dari waktu ke waktu. Bagaimana mungkin kebenaran yang berubah-ubah ini mampu menghakimi agama?

Hawking berpendapat bahwa sains harus bebas nilai. Artinya, jangan membawa nilai-nilai yang dianut oleh Ilmuwan untuk membangun teori sains, termasuk nilai agama. Alasannya agar sains objektif, tidak subjektif. Tapi, mau diakui atau tidak sains itu tak benar-benar lepas dari nilai yang dianut oleh para ilmuwan.

Saya akan tunjukkan bahwa sains bergantung nilai. Hawking dalam bukunya “The Grand Design”, menolak intervensi Tuhan terhadap alam. Menurutnya, Alam semesta tercipta tanpa peran Tuhan karena sudah dilengkapi dengan hukum-hukum fisis. Lalu, hukum-hukum tersebut darimana asalnya? Kejadian apa dan bagaimana sebelum Big Bang? Sains tak bisa menjawabnya !

Menurut teori evolusi, makhluk hidup yang ada sekarang adalah hasil evolusi dari makhluk hidup sebelumnya, termasuk pula manusia yang dikatakan evolusi dari kera. Pertanyaannya, kera itu hasil evolusi dari apa? Kalau kita tarik ke ujungnya, maka siapa makhluk hidup pertama? Sains tak bisa menjawabnya !

Apa yang mau saya bilang dengan hal itu adalah bahwa sains juga produk, sama halnya dengan pakaian, desain toilet, dll. Produk itu membawa nilai dari pembuat produk. Sains modern adalah produk dari nilai atau paham materialisme. Inilah yang kemudian membuat sebagian ilmuwan cenderung menjadi ateis.

Sains bergantung nilai juga bisa dilihat dari Al-Baqillani dan Abdus Salam. Al-Baqillani dengan nilai agama islam, menolak atomisme yunani. Menurutnya, atom-atom tersebut berhingga dan atom-atom tersebut bisa musnah, yang mana lebih sesuai dengan fisika kuantum yang menunjukkan bahwa materi bila bertemu dengan anti-materinya maka akan musnah.

Abdus Salam, ahli fisika teoretis mempunyai keyakinan adanya unifikasi gaya-gaya fundamental pada energi tinggi tertentu. Hal itu didasari oleh ketauhidan yang dipercayai oleh Salam, bahwa segala sesuatu berasal dari Yang Satu, Allah SWT. Jadi gaya di alam mulanya adalah satu gaya terpadu sebelum akhirnya terpisah pada energi rendah seperti saat ini.

Dulu masa kecil saya dilalui dengan rutinitas pagi belajar di Sekolah, sore belajar di Madrasah, setelah maghrib ngaji di Surau. Di sekolah, guru IPA tak mengkaitkan materi yang dipelajari dengan agama. Begitu juga guru agama tak mengkaitkan agama dengan ilmu pengetahuan umum, termasuk IPA. Di Madrasah dan Surau, saya belajar akidah, fiqih, dan cara membaca Al-Qur’an dengan baik tanpa dikaitkan pula dengan sains.

Hal tersebut seolah-olah membuat agama dan sains terpisah. Meski saya sadar bahwa islam mencakup segala aspek, saya tak pernah berpikir serius tentang relasi agama dan sains hingga akhirnya dibangku kuliah ada dosen saya, Bapak Agus Purwanto yang mengkaji serius tentang hal itu.

Mengetahui hal tersebut, saya tertarik untuk datang ke majelis-majelis beliau. Dan saat liburan semester 2, saya mengkhatamkan buku Dosen Fisika ITS tersebut yakni buku Ayat-ayat semesta dan Nalar Ayat-ayat Semesta.

Beliau menyampaikan bahwa umat islam melupakan 800 ayat-ayat Kauniyah (tentang alam semesta) yang seharusnya juga dikaji secara mendalam. Beliau mengajak untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai basis konstruksi dari Sains. Inilah sains islam, salah satu pola interaksi Islam dan Sains.

Sains Islam ini berbeda dari dua pola interaksi yang lain, Islamisasi Sains dan Saintifikasi Islam yang kadang dilakukan oleh umat islam. Islamisasi Sains adalah upaya mencocokkan sains dengan ayat-ayat Al-Qur’an.

Jadi teori sains yang dibangun dengan nilai materialisme diislamkan dengan mencarikan ayat yang bersesuaian dengan sebuah fenomena atau teori sains tersebut. Contohnya, The Big Bang yang mengawali penciptaan alam semesta didukung oleh QS. Al-Baqarah:117.

Kekurangan dari Islamisasi Sains adalah bila dikemudian hari diketahui kesalahan dari teori sains yang telah dicocokkan dengan Al-Qur’an, dikhawatirkan orang juga akan  menyalahkan ayat terkait.

Saintifikasi Islam adalah upaya menampilkan Islam secara ilmiah. Maksudnya ajaran-ajaran Islam dikaitkan atau dijelaskan dengan teori sains. Misalnya, sholat yang wajib bagi umat islam dijelaskan secara ilmiah bahwa gerakan sholat baik untuk kesehatan, seperti ruku’ agar terhindari dari kanker prostat, sujud yang dapat melancarkan oksigen ke otak, dan seterusnya.

Kembali lagi ke Sains Islam, bahwa pola interaksi ini merupakan upaya membangun sains dengan pondasi Al-Qur’an. Inilah integrasi agama dan sains. Setiap sains dibangun diatas tiga dasar utama yakni ontologi, aksiologi, dan epistemologi.

Ontologi merupakan realitas apa yang dianggap ada dan dapat dikaji. Ontologi Sains Islam adalah tidak hanya ruang, waktu, dan materi seperti yang dikaji sains barat, namun juga hal ghaib seperti roh. Al-Qur’an menyetarakan gunung dan burung yang bertasbih bersama Nabi Daud sebagaimana QS.Al-Anbiya’:79. Inilah isyarat gunung juga punya jiwa.

Aksiologi terkait dengan tujuan suatu ilmu pengetahuan. Aksiologi sains islam adalah semakin dikenalnya Sang Pencipta melalui pemahaman atas kebijakan-kebijakanNya terhadap alam semesta ini. Hukum-hukum alam ini merupakan sunnatullah.

Bila ilmuwan mampu menguak misteri atau pola-pola yang ada di alam kemudian mampu merumuskannya dalam bangunan teori sains maka akan membuatnya semakin takjub dan tunduk pada Penciptanya. Inilah yang membedakan dari aksiologi sains barat yang hanya kepuasan atau petualangan intelektual yang hampa kerohanian.

Epistemologi berhubungan dengan cara dan sumber suatu pengetahuan dapat diperoleh. Sains barat menerima dan menuhankan rasionalisme, empirisme, dan objektivisme. Sedangkan Sains Islam diinspirasi oleh ayat-ayat kauniyah, dan tak hanya melakukan usaha eksperimen dan pengamatan namun juga do’a kepada Yang Maha Mengetahui agar diberi petunjuk untuk membuka tabir rahasia alam ciptaanNya ini.

Pembaca yang budiman, kita tak perlu khawatir tentang sains bergantung nilai, termasuk nilai agama. Baik bebas nilai maupun bergantung nilai, teori sains akan tetap diuji oleh eksperimen dan pengamatan. Jadi apa yang perlu dikhawatirkan? Toh keduanya akan dikoreksi bila diketahui kesalahannya.

Dan yang perlu diperhatikan bahwa bila Sains Islam ditemukan kesalahan, kita tidak boleh menilai ayat Al-Qur’an salah. Teori Sains Islam yang salah diakibatkan oleh kesalahan tafsir dari ayat kauniyah terkait. Saya menyadari bahwa adanya kesulitan tersendiri ketika menafsirkan Al-Qur’an karena bahasa Al-Qur’an tak selalu tersurat namun juga ada yang tersirat.

Sains bukan untuk mengkoreksi Al-Qur’an justru Al-Qur’an yang menjadi sumber inspirasi bagi sains. Ilmuwan dan Ahli Tafsir perlu duduk bersama untuk menggali informasi dari ayat-ayat Kauniyah tersebut.

Dengan tulisan ini, saya tak bermaksud mendiskriminasi SARA. Saya juga tak melarang dan justru mendorong teman-teman yang beragama lain untuk mengkonstruksikan sains berbasis kitab yang diyakini masing-masing. Seperti halnya, Ian Barbour yang juga pro integrasi agama dan sains dari perspektif kristen.

Teknologi yang kita nikmati sekarang tak lepas dari temuan sains fundamental. Sekarang piranti-piranti elektronik seperti komputer dan flashdisk bisa dibuat sekecil mungkin. Itu akibat dari kemajuan sains material yang mana fisika kuantum berperan penting disitu. Kedepan ilmuwan ingin mewujudkan komputer kuantum.

Indonesia, negara yang sangat kita cintai ini memiliki sumber daya alam yang melimpah. Tentu kita ingin hal tersebut diimbangi oleh sumber daya manusia yang mumpuni. Negara-negara maju identik dengan sains dan teknologi yang maju. Saya mendorong para ilmuwan dan teknisi Indonesia untuk lebih serius mendalami bidangnya.

Sedikit bercerita bahwa Bapak Agus Purwanto yang saya sebut diatas adalah Pembimbing Tugas Akhir (TA) atau skripsi saya. Beliau pernah mengatakan kepada saya “Kalau kamu mau selesai (tugas akhirnya) semester ini, kamu harus kerja 26 jam tiap hari”. Saat itu saya sontak kaget mendengarnya.

Pada kesempatan yang lain, Beliau pernah berseloroh kepada saya “Ya bisa saja selesai (tugas akhirnya) kalau kamu sakti seperti Angling Dharma”. Gelak tawa meramaikan Laboratorium Fisika Teori dan Filsafat Alam (LaFTiFA) ITS saat itu.

Pernyataan-pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa saya tak bisa menyelesaikan TA dengan topik “Grand Unified Theory” dalam satu semester saja yang mana saat itu saya ingin lulus 3,5 tahun. Memang topik tersebut terasa berat sehingga butuh 1 tahun dalam pengerjaannya dan hampir belum selesai juga. Saat itu saya merasakan jalan sunyi dan terjal seorang ilmuwan.

Sekali lagi, memang dibutuhkan ilmuwan dalam jumlah yang banyak di negara ini. Dan jangan lagi memandang agama dan sains itu bertolak belakang, kontradiktif, dan independen. Dengan paradigma dan upaya dalam integrasi agama dan sains, mudah-mudahan kedepan peradaban kita menjadi lebih baik. Siap?