Yang lekat dalam ingatan saya tentang seorang guru adalah mereka, Bapak dan Ibu, berwibawa dan sabar mengajarkan hal-hal baik sewaktu saya duduk di Sekolah Dasar. 

Jarak sekolah yang tidak begitu jauh dari rumah merupakan sebuah kemudahan pada tahun 1990-an. Berangkat sekolah bersama teman-teman sambil bercanda tanpa beban. Setiap ada guru yang melewati rombongan kami, kami akan lekas berjejer lalu membungkukkan badan sambil teriak ceria, "Tindak Pak/Bu guru....." (Selamat bertugas/berangkat bekerja Bapak/Ibu guru—kalimat sapaan). Ucapan ini tidak hanya ditujukan untuk guru, penjaga sekolah juga mendapatkan penghormatan ini.

Sesampai di sekolah, ada juga siswa yang memarkirkan sepeda guru. Belakangan, budaya ini hilang karena kendaraan yang digunakan bukan sepeda lagi, melainkan motor atau mobil. Anak-anak berebut bersalaman kepada guru. Tidak ada yang memerintah. Semua itu kami lakukan karena rasa hormat dan sayang kepada mereka yang telah mengajari banyak ilmu kepada kami.

Saat itu, kami rela menerima hukuman jika kami memang melakukan kesalahan. Tidak ada orang tua yang lantas datang ke sekolah tidak terima atas perlakuan guru. Orang tua kami sadar mereka menitipkan anaknya kepada guru bukan sekadar menerima pelajaran ilmu pengetahuan, namun juga pendidikan budi pekerti, yang tidak lepas dari perbaikan kesalahan yang dilakukan anak-anak mereka. 

Tidak hanya di sekolah, penghormatan kepada guru disematkan di tengah-tengah masyarakat di tempat mereka mengajar. Sapaan Pak/Bu guru disematkan oleh siapa saja yang bertemu mereka dan di mana saja. 

Jangan heran ketika bapak kita, yang kebetulan pekerjaannya guru, akan disapa, "Tindak ngarit, pak guru." (Mau pergi merumput, pak guru) oleh orang yang ditemui di jalan. Panggilan itu bahkan akan tetap digunakan setelah para guru tidak lagi mengajar di sekolah yang sama.

Memasuki dunia SMP, masih kurasakan guru memiliki wibawa yang besar. Meskipun tidak lagi kami membungkuk di pinggir jalan sambil menyapa setiap kali guru lewat, tetapi masih ada penghormatan dalam bentuk lain. Menyalami saat bertemu meskipun tidak harus berebut seperti yang kami lakukan saat sekolah di SD.

Baca Juga: Menjadi Guru 4.0

Seiring berkembangnya pola pikir dan jiwa kritis, bentuk penghormatan kepada guru sewaktu di SMA sedikit berubah. Ada guru yang memang disegani dan dihormati meskipun cara mengajarnya biasa saja tetapi punya nilai etika tinggi. Tidak suka bercanda dengan siswa di luar jam pelajaran, dan punya cara menyampaikan hal-hal lucu tanpa harus membuat siswa bisa berbalik mencandai guru tersebut.

Namun ada juga guru yang kurang bisa menjaga adab terhadap siswa. Karena usia SMA sudah memasuki usia matang, ada guru yang mencandai siswa tertentu secara fisik. Hal ini membuat tidak hanya siswa yang dicandai merasa illfeel. Ada juga guru yang mengajar sambil merokok, atau di depan kelas menerima telepon (waktu masih awal adanya telepon seluler).

Hal tersebut tidak ada kaitannya dengan proses belajar-menjajar di kelas secara langsung. Kami tidak dirugikan, bisa jadi guru tersebut pandai juga dalam mentransfer pengetahuan kepada siswa di kelas. Tetapi saya rasa ada nilai yang hilang, yakni nilai keteladanan, nilai dari objek penghormatan yang selama ini saya pupuk terhadap sosok yang disebut guru yang dalam filosofi masyarakat Jawa diartikan sebagai seseorang yang digugu lan ditiru.

Seiring berkembangnya waktu, saya sudah bukan lagi seorang siswa sebuah sekolah. Saya mendapati banyak berita tentang lantamnya (sesuatu yang kurang ajar) siswa kepada guru. Beberapa kasus bahkan melibatkan orang tua. 

Para siswa tidak lagi menaruh hormat dan rasa segan kepada guru, baik di kelas maupun di luar sekolah. Siswa-siswa banyak yang tidak terima ketika dinasihati dengan keras (marah) oleh gurunya sebagai konsekuensi kesalahannya. Bahkan orang tua juga ikut tidak terima dengan perlakuan guru; ada juga yang sampai melaporkan ke pihai kepolisian.

Guru menjadi takut memberikan teguran dan sanksi kepada siswa yang melanggar aturan. Proses belajar-mengajar memang terus berjalan, tetapi proses pendidikan tersendat. Bukan siswa yang takut kepada guru lagi, melainkan guru yang takut kepada siswa dan keluarganya. Memang tidak semua keadaan dalam dunia pendidikan seperti ini, namun saat ini jumlahnya tidak sedikit lagi.

Hubungan antara guru dan siswa seperti teman. Siswa bebas bergaul dengan guru di dunia nyata dan di media sosial. Seperti tidak ada jarak, apalagi dengan guru yang memang usianya masih muda. Bercanda sesukanya, sopan santun dilupakan. Lantas apakah fungsi guru masih tetap menjadi teladan yang digugu dan ditiru seperti dulu?

Mungkin di tingkat SD dan SMP masih ada rasa takut siswa kepada guru, selain karena umur juga disebabkan pola pikir anak belum terlalu kritis. Sedangkan di tingkat SMA, gejala yang saya alami dulu kepada beberapa guru mungkin saat ini jauh berkembang. Ada banyak ditemui di Youtube dan tik tok video siswa-siswa mencandai guru mereka. Sang guru pun menanggapi dengan gembira.

Ah, mungkin sudah zamannya seperti ini. Saya merasa aneh, tetapi bisa jadi sayalah yang aneh di tengah kondisi dunia pendidikan sekarang. Saya rindu para guru yang pernah marah di depan kelas, lalu kami terdiam sambil menunduk menyesali kesalahan kami.

Saya sering dimarah orang tua ketika mengadu di sekolah dimarah guru. Sampai saat ini, kenangan baiklah yang saya simpan dengan para guru meskipun beberapa kali kena marah.

Semaju apa pun zaman, pendidikan adalah tiang pendorong. Gurulah yang memegang tiang-tiang itu. Filosofi guru adalah sosok yang digugu lan ditiru semoga tidak pernah berubah menjadi sosok yang wagu tur saru, yang tidak bisa lagi diteladani oleh mereka yang menjadi siswanya.

Bagi para siswa sekalian orang tuanya, carilah sekolah seperti yang diinginkan dan diharapkan, lalu percayakan anak-anak diajar serta dididik oleh guru di sana. Hormati manusi-manusia pendidik sebaik-baiknya. Dengan cara mereka mendidik, termasuk di dalamnya konsekuensi atas ketidaktaatan anak-anak terhadap aturan yang sudah ada.

Semoga dunia pendidikan di negara ini makin terdidik...