Dunia intelijen yang masuk dalam sebuah kajian pragmatisme akan tampil eksklusif yang sarat dengan teori-teori ilmiah dan berbagai sudut pandang keilmuan serta perspektif yang akan mengangkat intelijen sebagai sebuah dominasi nalar yang cerdas dan taktikal.

Tak hanya itu, kajian akan makin meluas dengan lahirnya paradoks keilmuannya yang disebut dengan “kontra-intelijen”. Ketika ada kajian filsafat teror, maka seketika itu pula dunia intelijen mulai memiliki landasan epistemologis yang disebut sebagai filsafat intelijen.

Filsafat intelijen yang dipaksa berhadapan dengan filsafat teror sejatinya adalah teror itu sendiri. Dalam artian, filsafat intelijen juga merupakan filsafat teror yang sama-sama menggunakan teknik sponiase, subversi, sabotase, desepsi, ataupun infiltrasi.

Lingkaran setan yang mempunyai tiga komponen saling berkonfrontasi itu adalah: intelijen, kontra-intelijen, dan, satunya lagi, yaitu kontra kontra-intelijen. Kalau dibuat notasinya adalah sebagai berikut:

1. Intelijen vs kontra intelijen

2. Kontra intelijen vs kontra kontra-intelijen

3. Kontra kontra intelijen vs intelijen

Ketiga notasi di atas sama-sama mengunakan nalar. Sedang yang paling sering digunakan adalah nalar provokator dan nalar demagogis. Kedua nalar ini sudah menjadi langganan tiga notasi keintelijenan di atas.

Dengan nalar intelijen yang bersifat demagogis, maka di situ hanya terkumpul sifat-sifat agitator, di mana intelijen akan mendukung kekuasaan yang menggemukkannya. Artinya, siapa yang berkuasa atas intelijen, maka di situlah penggunaan maksimal kekuatan intelijen yang hanya terlihat sebatas alat untuk mempertahankan dan melanggengkan kekuasaan tertentu.

Demagogis yang menempel pada intelijen yang sudah dikendalikan penguasa tertentu akan mudah dikenali mekanismenya. Demagogi sangat efektif untuk menggalang dukungan politik dari khalayak.

Intelijen yang bersifat demagogis mempunyai mekanisme yang khas, antara lain: kambing hitam, argumen ad hominem, dan skematisasi opini. Intelijen yang demagogis akan mendorong munculnya perlawanan yang berupa kontra-intelijen yang juga bertipe sama, yaitu demagogis.

Ia bisa menyesuaikan diri dengan situasi yang paling membingungkan dengan menampilkan wajah-wajah sebanyak kategori yang dapat memberikan dukungan terhadap penguasa. 

Kontra-intelijen yang demagogis akan cenderung menjatuhkan atau menjelekkan pihak lawan untuk mempercepat paradigma kontranya. Mereka tidak membiarkan kesempatan kepada sasaran untuk berpikir bebas dan memutuskan dengan kebebasan sebuah pilihan. Di sinilah rata-rata nalar intelijen beserta kontranya kacau.

Keduanya, baik intelijen ataupun kontra-intelijen, akan sering menggunakan paradigma pertarungan yang berupa black campaign. Sebuah pragmatisme yang susah bisa dinalar. 

Black campaign bukanlah pilihan nalar yang sempurna dan waras bagi sebuah pertarungan yang elegan. Jika ingin menggunakan paradigma kontra, pilihlah nalar-nalar yang berwibawa dan bijaksana, seperti; kritik membangun, sindiran atau colekan yang motivatif, ataupun percontohan tindakan yang benar dan bermartabat.

Awalnya, intelijen dan kontra-intelijen adalah usaha nasional untuk mencegah badan intelijen asing, gerakan politik yang dikendalikan kekuatan, serta kelompok asing. Namun, kini mereka bisa saja dikuasai oleh pihak tertentu untuk mendukung sebuah kemenangan dan kelanggengan sebuah kekuasaan. 

Jadi, intelijen bukan saja melintasi batas-batas luar negeri. Ia juga bisa mendomestik untuk bertindak ofensif dan defensif sesuai perintah sang tuan yang memeliharanya. Ketika intelijen dikaji dalam ranah politik penguasa, maka kehadirannya pasti akan mendukung proses dalam rancang bangun kajian pemikiran (ideologi) penguasa itu sendiri.  

Filsafat teror adalah filsafat perang, maka filsafat intelijen juga merupakan filsafat perang yang berisi tindakan teror itu sendiri. Teror atas nama politik, misalnya. 

Intelijen dan kontra-intelijen sering didapati bermain dalam ranah estetika dan etika yang cenderung halus, misteri, hampa, pantomis, dan tidak tersentuh. Kini, dengan segala kelemahannya yang tak bernalar lagi, akan mudah terendus modus-modusnya oleh khalayak umum oleh tindakan pragmatis kasar dan tak terstruktur.

Salah satu penyebab yang membuat tindakan mereka yang tak bernalar adalah tentang pragmatisme. Pragmatisme di dalam intelijen adalah sebuah cara kerja intelijen yang memiliki paramater kebenaran dari sudut pandang hasil sebuah tindakan atau perbuatan.

Operasi intelijen yang dianggap sukses adalah yang mengedepankan pragmatisme, semisal dalam suasana kedaruratan, intelijen dan kontra intelijen, tidak ada lagi aturan apa pun yang mengikat mereka. 

Artinya, mereka sudah tidak lagi melaksanakan hukum, walaupun ada kewajiban untuk tidak boleh melanggarnya. Pragmatisme yang tak bernalar tersebut mempunyai output berupa penerapan hukum baru yang dibuat sendiri untuk mengatasi kedaan yang mengancam.

Pada konteks kedaruratan, pilihannya hanya to kill or to be killed. Membunuh atau dibunuh. Itulah konteks hukum kedaruratan pragmatisme keintelijenan. Semua sumber pragmatisme  di atas itu tentu berasal dari nalar yang tak waras menurut dasar-dasar kewajaran yang sudah umum. 

Metode bertindak yang pragmatis menjadi tujuan utama intelijen dan kontra-intelijen dalam mengebiri nalar yang waras. Pragmatisme yang dibangun, tentunya memiliki parameter kebenaran yang dibuat sendiri.

Dengan demikian, apa yang menjadi tujuan dari keberadaan sebuah intelijen beserta komponennya hanya tertumpu pada nalar-nalar yang kacau dalam sebuah demagogis yang mengerikan.